BAB TUJUH

759 Kata

"Garril," panggil Miranda, meminta atensi Garril yang malah lebih memilih ponsel canggihnya daripada perempuan cantik yang duduk manis di sampingnya itu. Di tangan Miranda sudah ada es batu yang dibalut handuk kecil yang akan ia aplikasikan pada wajah memar pria yang duduk anteng di sampingnya tanpa mau menanggapi itu. Mereka berdua jelas sudah berada di rumah Garril, lebih tepatnya apartemen pria itu. Duduk manis di sofa abu-abu ruang tamu minimalis itu. Miranda memang sekeras kepala itu memaksa Garril untuk membawanya ke rumah pria itu. Menghela napas panjang, Miranda lantas meletakkan handuk dengan es batu itu ke dalam baskom yang ia simpan di atas meja. Melihat Garril yang sama sekali tak menggubrisnya itu membuat sesuatu dalam dirinya menjerit kencang. Ia jelas kesal, tapi Miranda c

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN