Malam yang sepi, sesepi hati gadis itu. Di balkon depan kamarnya ia duduk sendiri. Memandang bintang yang bertaburan di langit nun jauh di sana. Menatap sang bulan yang selalu dalam keseorangan seperti dirinya. Bersinar sendiri dalam kegelapan. Bahkan tak jarang, cahaya sang bulan redup tertutup awan gelap. Seperti kehidupannya yang saat ini meredup dan sedikit gelap. Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Namun sepertinya ia enggan untuk masuk ke dalam rumah. Terlebih hawa panas di kota itu membuatnya betah berlama-lama mencari angin di beranda. Apalagi di tempat ia duduk saat ini udara lebih sejuk. Karena sesekali angin semilir menyapa dirinya. Meskipun kamar dan seluruh ruangan di rumahnya menggunakan pendingin udara, Dara lebih menyukai udara alami di luar kamarnya. Apalagi de

