Tidak ada pengarahan apapun lagi di aula selain bahwa setiap kami mendapat sebuah amplop untuk orang tua kami. Membuatku mulai berpikir amankah jika orangtuaku yang membuka ini? Aku mendekat pada Miss Marsche setelah seluruh peserta sepi, termasuk Suvara yang kuminta kembali lebih dulu. “Ada masalah Kisyara?” “Ada sedikit Miss,” kataku. “Katakan saja,” jawab Miss Marsche sambil merapikan beberapa dokumen yang tertinggal. “Uhm,” aku mulai ragu untuk mengatakan yang sejujurnya tetapi jika tidak kulakukan, aku takut salah jalan. “Jujur saja, tidak apa,” Miss Marche berujar sembari mengajakku duduk di dekatnya. “Sebenarnya… saat saya pergi ke sini dulu, tanpa seijin orangtua, hm, mereka membiarkan saya pergi tetapi setelah menahan saya dulu,” kataku kesulitan membuat kata-kata. “Jadi?

