“Tapi dia harus kembali tuan,” Suvara tampak ketakutan namun tidak bersembunyi sama sekali. Meski dengan suara bergetar dia tetap berada di yang paling depan. Tangannya berusaha menggapaiku yang ada di belakang ayahku. Mereka berdebat dengan keras. Tetapi tetap tidak dapat menarik aku ke sisi Suvara. Aku berusaha melepaskan cengkeraman tangan ayah pada pergelanganku. Ketika cengkeraman itu semakin keras hingga terasa sakit. “Ayah sakit,” rengekku. Air mataku memang mulai mengembung di pelupuk mataku. Ayahku sama sekali tidak menghiraukan aku yang sudah kesakitan. Aku melihat Nyonya Mochart tidak lagimerasa aman dengan situasi yang ada. Dia menarik tangan putrinya, mengajak putrinya untuk meninggalkan aku saja. “Ara, ini sudah bukan urusan kita lagi, sebaiknya kita berangkat saja d

