Chapter 15

1072 Kata
 Seekor burung dengan ekor kehijauan bertengger di pohon maple dekat jendela. Kicauannya membuatku mengingat tentang halaman rumah dengan burung-burung ayah dalam sangkarnya. Aku melihatnya tanpa terbangun dari tempat tidur. Hanya menikmatinya yang bertengger di sebuah dahan sembari mematuk-matuk ranting. “Sudah pagi ya?” tanya Suvara. “Iya, sudah pagi,” jawabku tanpa melihatnya. “Lihat apa?” “Burung itu, indah juga ekornya.” “Burung korban percobaan?” “Hah?” “Lihat saja paruhnya.” Jawaban Suvara membuatku seketika melihat ke paruh burung yang ternyata memang sudah berubah. Harusnya burung itu pemakan biji-bijian dengan paruh yang agak pendek lagi tumpul, tapi kini burung itu berparuh agak lancip seperti burung pemakan serangga. “Kamu benar,” aku hanya bisa menjawab itu tanpa tahu harus melanjutkan apa. “Semoga dia percobaan yang berhasil,” komentar Suvara lagi. “Dia terlihat sehat,” kataku. Aku berjalan mendekat ke jendela. Tanpa ingin membuka kaca jendela. Hanya masih ingin menikmati burung yang masih anteng di atas dahan. Seekor burung lain lalu terbang mendekat, hampir menyambarnya. Burung yang harusnya sejenis itu tampak mematuk kepala burung pertama. Saat itulah aku membuka kaca dan kedua burung itu pun terbang. “Ternyata kamu benar Suv,” jawabku. “Kamu melihat apa?” tanya Suvara. “Burung lain mematuk kepalanya, tampaknya dia dimusuhi oleh kawanannya,” kataku. “Begitulah alam, tidak semudah itu kita memodifikasi hidup makhluk hidup lain, begitu juga dengan teknologi yang kita buat untuk memudahkan kita, seringkali justru membuat masalah baru bagi sebagian manusia yang lain,” terang Suvara sambil berlalu. Di bahunya tergantung handuk dan dia pun berlalu menuju ruang mandi. Aku melihatnya bergantian dengan ke mana burung itu pergi. Oke. Dia memang terlalu cerdas, dia dewasa dengan caranya. Dia lelah ataukah memang dia memahami apa yang dikatakannya. Sekarang kicauan samar-samar yang terdengar itu tidak lagi membuatku rindu halaman rumah, tapi membuatku berpikir, apakah kegunaan penemuanku untuk alam dan apakah efek terburuknya. Kicauan itu masih terus terdengar sampai kemudian aku kembali menutup kaca jendela. Aku menyambar handuk yang tergantung di capstok, bersiap menyusul Suvara dan kembali menjalani pagi ini dengan tetap mencari referensi untuk penyusunan abstrak. Baru saja aku keluar dari kamar, tiba-tiba alarm yang kukenal itu berbunyi, sebagian anak-anak berlarian. Pun aku memilih kembali ke kamar. Meletakkan kembali handuk ke tempatnya, memakai jaket yang menjadi uniform sementara selagi kami masih calon peneliti. Sesegera mungkin keluar kamar, tapi aku melangkahkan kakiku kembali ke kamar. Aku membukalemari Suvara, menyiapkan peralatannya ke dalam tas punggungnya, meletakkan jaketnya di tempat tidur. Membalas kebaikannya saat aku tak tahu apa yang seharusnya kulakukan siang itu. Aku keluar setengah berlari, sembari mengingat-ingat di mana kelas yang pernah kumasuki dulu. Saat aku berbelok dari lorong kamarku, aku mendengar Suvara meneriakiku. “Hai Sya! Thank you!” aku hanya melambai ketika berbalik padanya. Begitulah aku akhirnya melihat knop dengan kilau kehijauan itu lagi. Tak lagi sempat terkagum, aku segera mendekatkan liontinku dan ruangan dengan tribun itu lumayan terisi oleh ‘aku’ yang duduk tersebar. Aku hanya mengenali keempat anak kembar yang seragam bentuk tubuhnya yang duduk berdekatan itu. Mereka pun melihatku ketika aku mulai duduk di tribun nomor dua dari bawah. Kebanyakan kami tampak jauh lebih siap di pertemuan kedua ini. Tak lagi berdecak kagum ataupun kebingungan dengan apa yang harus kami perbuat selanjutnya.  Aku menyiapkan tabletku untuk membuat note tentang semua informasi yang akan kami terima hari ini. Mrs. Marsche masuk dengan memainkan pulpen mekaniknya. Menunggu di meja dengan mengamati sekeliling kelas. Menunggu kelas terisi penuh barulah dia berdiri dan berjalan menuju mimbar. “Selamat pagi anak-anak,” sapanya yang dijawab dengan ucapan selamat pagi juga oleh anak-anak lain. Kemudian menyampaikan kegembiraannya hari ini. Bahwa kami akan segera memasuki tahap yang paling kami nanti, yaitu penyusunan abstrak dan akan berakhir di seminar untuk menyeleksi sebagian anak saja yang bisa bertahan untuk terus melakukan penelitian, melakukan pembuktian terhadap abstrak yang telah dibuatnya. Akan ada banyak keberuntungan karena bisa jadi penelitian dengan abstrak yang masuk akal, telah dibuktikan sebelumnya justru tidak terpilih sebagai objek pengembangan yang akan didanai. Sedangkan abstrak yang tampak menarik, tetapi bisa jadi tidak akan terbukti secara ilmiah justru yang akan dipilih untuk tetap tinggal. Mrs. Marsche menampilkan struktur abstrak yang harus kami susun. Batasan atau detail apa yang harus kami siratkan dan kami suratkan. Aku melihat abstrak yang sedang terlihat di layar hologram itu. Setiap susunannya sama persih dengan yang kudapat dari Vans melalui Suvara. Mrs Marsche menerangkan setiap point sama persis dengan yang telah disampaikan Suvara padaku. Dengan kecut aku tersenyum. Ini memang terasa salah, tapi mengapa aku tak boleh memanfaatkan kesempatan untuk membuat abstrak itu selesai lebih awal. Aku tetap mendengarkan penjelasan Mrs sampai dia menyampaikan bahwa kami hanya punya waktu selama satu minggu untuk menyusunnya, bahkan bisa jadi lebih cepat. Artinya abstrak itu harus siap dengan secepat mungkin. Aku menunduk dan tertawa sombong dalam hati. Ternyata begini rasanya berbuat curang. Di belakangku, anak-anak mulai riuh, mengatakan bahwa waktu satu minggu bahkan lebih cepat bukanlah waktu yang panjang. Mrs Marsche menjawab dengan uraian yang sangat diplomatis sekali. “Ketika kalian nanti ada di bulan, bukan tidak mungkin kalian menemui masalah, jadi mulai sekarang, asah otakmu berpikir secepat mungkin untuk menemukan jawaban secepat mungkin. Aku tidak ingin dalam kemenangan kalian nanti, kalian justru tersesat di luar angkasa,” terangnya yang membuat seluruh kelas senyap. “Paham?” “Paham!” Teriakan membuat gema yang di dalam ruangan. Mrs Marsche keluar dari ruangan begitu tidak satuapun anak mengajukan pertanyaan lagi. Aku berjalan mencoba mengejarnya untuk menunjukkan abstrak yang sudah kubuat, tapi kemudian kuurungkan saat aku melihatnya berbincang dengan Visyn. Apakah itu artinya Visyn adalah salah satu dari anak yang satu warna denganku. Visyn tidak terlihat menunjukkan atau menyodorkan hal lain kepada Mrs. Marsche, tapi aku yakin dia membahas tentang abstrak. Aku kembali berkeinginan mendekat. Tapi bukan untuk menunjukkan abstrak yang sudah kubuat seperti rencanaku sebelumnya. “Hai Visyn,” sapaku pada anak laki-laki itu. “Hai Ra, sudah paham sekali dengan abstrak yang diminta?” tanya Visyn padaku. Sejenak aku melongo dengan pertanyaan yang seolah tampak seperti jebakan. Kenapa harus bertanya seperti itu saat ada Mrs. Marsche. “Cukup mengerti,” aku menjawab dengan pelan, asal tidak terbata-bata saja. “Terangkan padaku!” tantangnya meski dengan tersenyum. “Iya, coba kamu jelaskan ya, tampaknya Visyn kesulitan.” Aku melihat sekeliling dan menemukan bangku panjang di lorong lain. Aku berencana membawa keduanya ke sana. Sebelumnya akhirnya aku menjawab pertanyaan mereka, kutunjuk bangku yang kumaksud. “Mari sambil duduk saja,” haturku.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN