Kekalahan bukan lagi sekedar kekalahan kali ini. Tetapi kekalahan akan jadi taruhan apakah aku berani pulang atau tidak. Suvara dan ibunya yang seambisius itupun tidak pernah membuat anaknya tidak nyaman untuk berada di rumah. Perkataan-perkataan buruk tentangku tergambar dengan jelas melebihi sesuatu yang dikatakan khayalan. Aku yakin kedua adikku dan juga orangtuaku akan sedemikian mengejek kegagalanku. Berkali-kali kuhembuskan napas panjang seiring ketika Sazre mengingatkan aku untuk tetap tenang. Meskipun aku masih marah padanya, tetapi orang yang saat ini adalah dia. Sazre menghiburku dengan melambungkan perasaanku yang hancur berkeping. “Take it easy, kamu ingat saat aku berkata kamu pasti bisa ke bulan?” Aku mengangguk sambil mengeringkan air mataku yang ada di sudut mataku.

