Aku terbangun, masih dengan langitnya Sazre. Terasa seperti dia telah tidur bersamaku semalam penuh. Langitnya tentu sudah biru. Cerah dengan arakan awan putih yang tipis. Semburat -semburat jingga masih tersisa tapi sudah sangat rendah. Aku mendengar suara air yang mendidih. Mungkin dia sedang membuat kopi atau minuman hangat lain. "Sudah bangun?" sapanya. "Sudah." Saat itu langitnya menghilang. Terlihat dia yang menuangkan gula ke dalam cangkirnya. Benar dugaanku, dia sedang membuat kopi panas. "Tidurmu semalam nyenyak." "Sudah kubilang aku sampai lupa bernapas." Dia terkekeh. Aku melihatnya sedang bertelanjang d**a dengan celana pendek berkantung banyak. "Tidak dinginkah?" tanyaku. "Di sini hangat?" "Kamu di mana?" "Tempat yang tropis." Sejauh itu jika dia ingin berkel

