Sampai pagi saat aku terbangun dari tidurku. Hal pertama yang kuingat adalah bahwa Zara yang memecahkan botol berisi virus itu. Dengan enggan aku berjalan ke food court meski belum mandi pagi ini. Di sudut food court aku melihat Kapten Jack sudah menikmati sarapan dengan berseragam lengkap. Begitu berwibawa dengan gugusan rambut putih yang jarang-jarang di sekitar telinganya. Aku enggan mendekat meskipun ingin sekali bertanya kebenaran berita yang k****a. Tetapi kemudian beliau sendiri yang memanggilku. “Bagaimana Suvara?” tanyanya. “Hari ini saya belum menjenguknya Kapt, tapi tadi malam dia sudah baik-baik saja.” “Syukurlah.” Mulutku membuka dan menutup menahan suara yang sangat ingin meluncur dari bibirku. Makanan di hadapanku tersisihkan karena dalam hati aku sedang mengundi untuk

