'Gimana mungkin gue lupain Lo dan nyari cewek lain, sedangkan semua ruang gue atas nama Lo Sinta'
(Alfath Firmansyah)
_To Be My Wife_
"Hoaaam" Sinta menguap saat cahaya matahari menerobos masuk ke tempat ganti baju. Saat dia akan meregangkan ikatan, sesuatu yang terasa berat tengah melingkar memeluk erat perutnya.
Sinta mengerahkan lawan menghadap ke arah sebaliknya dan dia menegang saat berhadapan langsung dengan tubuh David yang tengah tertidur dengan mengalihkan yang tengah memeluk erat tubuh Sinta.
Deg
Deg
Deg
Jantung Sinta memompa lebih cepat dari biasanya. Bayangkan saja, menantang jadi pertemuan dengan David sampai-sampai dia tidak bisa bergerak. Wajah David sangat dekat dengan wajah Sinta, Sinta memperhatikan setiap inci dari wajah David yang tengah tertidur.
Rambut coklat dan bulu mata yang kecoklatan, hidung mancung, rahang tegas dan mata berwarna biru khas orang Eropa. Rasanya suka mimpi, saat terbangun aku melihat orang setampan dirimu ada di sampingku dave. Sinta bergumam dalam hati.
Sinta terus menerus memandangi wajah tampan David. Dia masih tidak bisa percaya sekarang Dia sudah berstatus sebagai seorang istri dari tokoh pria sempurna bernama David Alexander Lemos.
Sinta terkesiap saat mendengar suara erangan dari mulut David, lalu tidak lama kemudian mata David pun terbuka. David tersenyum saat pemandangan yang pertama kali dilihatnya adalah Sinta yang tengah menatap kearahnya. Lengan Kanan David yang sebelumnya dia gunakan untuk memeluk Sinta, kini beranjak naik mengelus pipi Sinta dengan senyuman yang tak pernah hilang diwajahnya. Sinta pun tersenyum tersenyum tak kalah manis, hingga lembut tapi pasti David mulai mendekat.
Cup
Sebuah kecupan singkat mendarat di bibir Sinta.
"Pagi" sapa David masih terus memandang kearah Sinta.
"Mo-Pagi" jawab Sinta yang masih belum pulih dari keterkejutannya.
"Sinta ..." Panggil David.
"Ya?"
"
"Setuju" Sinta mengangguk setuju.
"Kalau begitu aku mandi dulu" David menyibak selimut lalu pergi ke kamar mandi setelah sebelumnya dia sempat mengusap gemas kepala Sinta.
*****
"Kemarilah" ucap David saat
Sinta yang baru saja selesai mandi menjadi terlihat segar rambutnya basah kuyup karena baru saja dia berkeramas. Dia tenang menghampiri David yang tengah duduk di sisi ranjang.
"Duduklah, biar aku keringkan rambutmu," David meraih handuk dari tangan Sinta lalu David mulai bergerak mengeringkan rambut Sinta.
"Dave" panggil Sinta yang hampir sama dengan gumaman karena saking kecilnya.
"Ya?"
"
David berhenti mengeringkan rambut Sinta.
"Karena bahagia ku ingin cepat-cepat menikah" ucap David seraya kembali mengeringkan rambut Sinta.
Jantung Sinta mencelos.
"Begitu ..." Sinta bergumam lirih.
David yang memulai ada nada sendu dari suara Sinta, berhenti mengeringkan rambut Sinta dan menyimpan handuk yang dia gunakan.
"Tapi ...." David membalikkan tubuh Sinta yang membelakanginya menjadi menghadap dirinya.
Sinta menunduk dengan air mata yang sudah disiapkan untuk dipasang ke pipinya. David menangkup wajah Sinta dengan kedua kalinya, jadi wajah Sinta yang mulai menunduk menjadi menengadah menatapnya.
"Tapi, saat pertama kali aku bertemu denganmu hatiku menghangat, entah bagaimana aku nyaman berada di dekatmu, dan aku yakin saat aku benar-benar menghargai dirimu" David mengecup kedua kelopak mata Sinta yang muncul karena air mata.
"Jadi, aku sangat mencintaimu Sinta" ucap David dengan sepenuh hati.
Sinta bergeming, malah malah mengalir mengalir deras. Rasa tenang yang sebelumnya dia rasakan menjadi hilang begitu saja, lalu tanpa aba-aba Sinta menghambur memeluk leher David.
"Terima kasih .... Terima kasih sudah datang dalam hidupku, terima kasih sudah mencintaiku, dan .... Aku mencintaimu Dave ..." Gumam Sinta di sela-sela tangisannya.
Dan begitulah mereka, pasangan pengantin baru yang saling mengunkapkan perasaan masing-masing di pagi hari yang cukup cerah untuk cerita awal dari kisah cinta David dan Sinta yang baru saja dimulai.
Beranjak dari kisah bahagia mereka, disisi lain ada yang patah karena kalah. Dan hati itu bernama Alfath Firmansyah.
***
David memilih menelepon layanan kamar untuk memesan sarapan. Akan menghabiskan waktu bersama dengan Sinta akan membuat mereka akan saling mengenal mengingat mereka belum punya waktu untuk saling mengenal.
"Ingin sarapan apa?" David bertanya.
"Hmmm ... Spaghetti bolognese dan kentang goreng saja"
David memberi tahu pesanan Sinta lalu membuka telepon. Menerima kamar yang mereka tempati adalah kamar jenis presiden suite, David mengajak Sinta untuk ke ruang makan sembari menunggu pesanan mereka datang.
"Sinta?" Panggil David saat mereka sudah duduk berhadapan dimeja makan.
"Iya"
"Mari kita saling kenal. Mungkin memulai dari saling bertanya ... Dan apa makanan kesukaanmu?"
Sinta tampak berpikir "hmm ... Saya suka makanan yang bercita rasa asin dan gurih, kaya akan rempah-rempah seperti rendang, ayam goreng dan lain-lain. Saya juga sangat suka makanan laut. Mau kamu Dave?"
"Sama sepertimu" jawabnya sambil tersenyum lebar.
Sinta sedikit tertawa dan sedikit terperangah. "Oh iya, berapa usiamu saat ini? Waktu kamu hanya diperingkat tujuh tahun berbeda"
"27" jawab David. Sinta hanya mengangguk-anggukan disetujui, dia bingung harus bicara apa lagi. Sampai akhirnya memesan sarapan mereka datang dan mereka menikmati sarapan itu dalam hening.