6. Pengacara

506 Kata
Laras nampak mondar mandir seperti setrikaan didepan ruang UGD . Sementara sang sopir duduk terdiam tanpa kata. Sampai tiba- tiba pintu dibuka oleh dokter. " Ada yang namanya Pak Wibowo? " tanya dokter tersebut. " Beliau tidak disini pak, saya telpon dulu" " Baiklah, setelah datang langsung masuk ya...pasien mencarinya." " Baik dok.." Sopir tersebut lalu menelpon orang yang di maksud. " Mbak mau minum biar saya ambilkan" " Terimakasih pak.." Tak lama sopir itu kembali. Kemudian menyerahkan segelas minuman hangat. " Ini mbak. ngomong- ngomongnya mbaknya pemberani ya, melawan empat orang penjahat sekaligus.." puji sopir itu Laras hanya tertawa. " Kebetulan pak, dulu sewaktu SMA pernah belajar" katanya sambil cengar-cengir. Lagi asyik mereka ngobrol Pak Wibowo datang. " Pak dimana Ibu Soraya" tanya pada sopir. " Didalam pak..sudah sadar." jawab Sopir sambil menunjuk ke ruang UGD. " Ok ..saya masuk dulu.." pamitnya kemudian. Dan langsung masuk keruangan. * " Dok...apa Wibowo belum datang.." tanya nenek pada dokter. Suaranya terdengar lemah. " Belum nek..tunggu sebentar ya..." kata dokter sambil tersenyum. Selesai dokter berkata tampak pintu dibuka, dan datanglah Wibowo. " Bu Soraya.." Nenek Soraya menoleh, tampak lemah dan pucat wajahnya. Dia berusaha tersenyum. " Bagaimana keadaan Nenek," tanya Wibowo " Lebih baik,..kamu lihat wanita yang bersama Hadi diluar" Tanaya Nenek Soraya. " Iya tadi, ada apa Nek.." " Berikan aku kertas dan pulpen" Segera Wibowo mengeluarkan kertas dan pulpen dari tas yang dibawanya. Segera Nenek Soraya menulis sesuatu. Kemudian ditanda tanganinya dan diserahkan kembali pada Wibowo yang ternyata adalah Pengacaranya. Wibowo membaca kertas tersebut, alisnya bertaut. " Apakah Ibu serius." tanya Wibowo mencari kepastian " Aku serius. aku hanya tinggal seorang diri, tak punya siapapun, keluarlah, jangan sampai dia pergi." " Baik Bu,..saya permisi" Pamit Wibowo setelah membereskan berkas- berkasnya. * Melihat pintu terbuka, Laras dan Hadi sang sopir berlari kearah pintu. " Pak bagaimana keadaan Ibu" tanya Hadi. " Sudah membaik,..kamu yang tadi menolong Nenek Soraya?" tanya Wibowo pada Laras. Laras mengangguk sopan. " iya pak..nama saya Laras." jawabnya kemudian. " Oh ya, Nenek Soraya tadi berpesan kamu tidak boleh kemana- mana, tunggu sampai Beliau sembuh, saya permisi dulu" setelah menyampaikan pesan Soraya, tanpa menunggu jawaban Wibowo langsung berlalu. Laras hanya mengangguk. Kemudian dia duduk bersandar dikursi. Duduk diam dan menyeruput sisa minumanya. Beberapa kali terdengar dia menghela napas panjang. Hadi yang daritadi memperhatikannya menjadi heran. " Kamu kenapa, apa sedang dalam masalah?" tanyanya kemudian. " Seperti yang Bapak lihat. saya pergi dimalam hari dan membawa koper besar. Kalau tidak diusir pasti pergi dari rumah pak" jawab Laras datar. Hadi hanya manggut- manggut. tak ingin bertanya lebih lanjut, karena melihat Laras tampak sangat kacau. Wajahnya murung dan sepertinya sedang tidak mood untuk berbicara. " Permisi"..sapa seorang suster. " Ya Sus, ada apa? " tanya Hadi. " Keluarga Ibu Soraya? " Hadi menggangguk dan Suster kembali berkata." Beliau sudah dipindahkan keruang rawat, silahkan kan ini no ruangannya," " Makasih sus" kata Hadi. " Mari saya antar" kata Suster itu kembali dan mempersilahkan mereka. Segera Laras beranjak mengikuti suster tersebut bersama dengan Hadi. " Sedikit lebih baik
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN