Pukul delapan malam mereka sudah sampai Bandung, Lily tersenyum walau lelah di tubuh akibat kemacetan yang mengular seperti tadi. "Capek?" tanya Arsen. "Iya, tapi aku bahagia." Lily menggandeng tangan Arsen dan diajaknya masuk ke dalam villa. Arsen mengusap kepala Lily dengan satu tangannya yang bebas, dia tidak menyangka kini bisa menikah dengan Lily. Walaupun dia harus menahan diri untuk tidak melakukannya tapi Arsen tetap bahagia dengan fakta yang dia miliki. Arsen tau, untuk kedepannya bisa saja dia tidak bisa mengontrol dirinya tapi dia tidak salah jika melakukan itu. "Sayang, aku pengen dimanjakan." Arsen mengusap tangan Lily. "Mas, udah deh jangan kotor terus pikirannya," bisik Lily karena tidak mau di dengar oleh kedua orang tua Arsen. "Kamu kan istriku, sah dong kalau pengen

