SEPULUH

1267 Kata
Langkah kaki Dabin membawanya masuk ke galeri seni. Kedatangannya yang tiba-tiba tentu saja membuat beberapa penghuni di dalamnya terkejut. Apalagi Dabin masih menunjukan raut wajah kebingungan, yang kemudian buru-buru disadarinya dengan melempar senyum kepada anggota klub melukis yang ada di ruangan. Mereka kembali dengan kegiatannya sebelum Dabin datang. Beberapa mahasiswa tampak sedang memilih kanvas kosong dengan ukuran yang tidak terlalu besar, dan beberapa lainnya memasukan alat-alat melukis ke dalam kardus besar. “Pas banget lo datang, Dab,” sapa Kean, sang ketua klub. Ia meninggalkan kegiatannya dan menghampiri Dabin yang masih terdiam di pintu masuk. “Gue sama anak-anak mau ke taman di belakang gedung. Cuaca hari ini lagi cocok banget buat gambar di luar.” Dabin mengangguk kecil – sebagai bentuk respons, bukan mengiyakan. Ia baru sadar jika ada beberapa anggota klub yang wajahnya tampak baru baginya. “Lo kenapa?” Kean memerhatikan. “Lo kayak abis dikejar sesuatu.” “Hmmm, gue di sini aja boleh nggak? Soalnya sejam lagi gue ada kelas, tapi karena gue bingung mau nunggu di mana, jadinya gue ke sini aja.” Dabin berbohong. Rupanya semua anggota yang ada di galeri seni telah bersiap untuk pergi, termasuk Kean. Setelah hanya dirinya seorang di dalam galeri, barulah ia menduduki kursi kecil di dekat jendela – tempat biasa ia melukis. Helaan napas panjang keluar begitu saja. Pikirannya kembali melayang, membayangkan kejadian di kantin tadi. Kenapa segalanya menjadi kian rumit, pikirnya. Usahanya untuk menyembunyikan perasaannya kini sia-sia. Tidak hanya banyak yang tahu, tapi kini Kai sendiri pun mengetahuinya. Ingin rasanya membuat ingatan orang-orang di kantin tadi, terutama Kai, memudar. Dabin tidak tahu bagaimana menghadapi Jino dan teman-temannya sekarang. Dan tidak menutup kemungkinan jika Kai akan semakin menjauhinya. Dabin merasakan ponselnya bergetar, dan mendapati nama Cloe terpampang di layar. Dabin memilih untuk mengabaikannya. Ia hanya ingin berdamai dengan pikirannya dulu saat ini. Ponsel Dabin kembali bergetar, kali ini bukan Cloe yang meneleponnya melainkan Molla. Meski awalnya malas, tapi Dabin memilih untuk mengangkatnya. “Dabby, kamu di kampus?” tanya Molla begitu telepon tersambung. “Iya, kenapa Tante?” tanya Dabin malas. “Aku cuma mau mastiin kamu baik-baik aja.” “Selalu baik-baik aja. Biasanya juga begitu. Kecuali nggak dengar berita yang aneh-aneh aja.” Terdengar helaan napas berat di seberang sana. “Maaf ya, aku nggak bisa bikin wartawan-wartawan sialan itu untuk nulis berita tentang aku.” “Mereka juga nggak akan bikin berita kalau nggak ada fakta.” “Dabby…” “Jadi sebenarnya Tante telepon aku karena apa?” Dabin berusaha menutupi perasaan kesalnya. Bukan sekali dua kali ia mendengar berita miring tentang Molla Allesa, tapi tetap saja jika berita seperti itu muncul, suasana hatinya pun ikut terganggu. “Maaf karena aku yakin akan banyak wartawan di depan rumah nanti. Dan untuk beberapa hari ini aku akan menginap di rumah Treya, selagi Dion mengurusi pemberitaan itu. Nggak apa-apa, kan?” Treya adalah asisten pribadi Molla, dan Dion merupakan managernya. Dabin tidak merasa heran, karena dengan atau tidak gosip itu, ia pun sering mendapati wartawan di depan rumah tantenya. “Oke.” “Kalau kesepian ajak Kim dan lainnya menginap saja, nanti aku minta pembantu di rumah untuk masak yang enak buat kalian.” “We can delivery something if we want,” jawab Dabin, tak berniat menceritakan hubungannya dengan Kim saat ini. Lagi pula Dabin juga terbiasa sendiri di rumah. Bila jadwal shooting Molla sedang padat, ia bisa sampai sebulan lebih tidak ada di rumah. “Dab…” panggil Molla lagi. Hening. “Jangan terlalu memikirkan pemberitaan di luar sana, ya. Aku nggak minta kamu untuk selalu percaya sama aku, tapi satu hal yang harus kamu tahu kalau aku sayang sekali sama kamu.” Dada Dabin seketika terasa begitu sesak. Sejujurnya, ia sendiri ingin sekali mengabaikan semua kabar miring tentang Molla, hanya saja Dabin tidak mengerti kenapa terkadang Molla sendiri yang membuat ia sulit percaya padanya. “Oke.” Hanya itu yang bisa Dabin ucapkan sebelum ia menyudahi obrolannya dengan Molla. Dabin kembali mengingat pristiwa beberapa bulan yang lalu. Saat itu Molla baru kembali dari Tokyo untuk melakukan pemotretan salah satu majalah. Molla berencana mengajak Dabin makan malam di luar setelah ia selesai mengerjakan tugasnya. Dabin baru saja menyelesaikan tugasnya pada pukul 8 malam. Setelah mengirim tugas melalui email ke dosennya, segera ia keluar kamar untuk memberi tahu Molla yang menunggunya di lantai bawah. Suara percakapan dua orang wanita yang berasal dari ruang tamu membuat Dabin memelankan langkahnya. Setahunya, Molla bukan tipe yang mau menerima tamu di rumah, apalagi di hari liburnya seperti ini. Tak ingin kemunculannya mengganggu dua orang itu, Dabin memilih untuk berdiam di balik tembok pembatas. “Aku tahu semakin hari semakin banyak pemberitaan buruk tentang kamu. Dan aku nggak mau hal itu mengganggu karier suami aku.” “Kamu pikir aku peduli sama karier suami kamu? Dan asal kamu tahu, aku pun nggak peduli dengan pemberitaan di luar sana. Toh mereka juga nantinya bakal cape sendiri.” “Kamu jangan egois! Kamu nggak bisa terus-terusan seperti ini.” Dabin terhenyak kala mendengar percakapan mereka. Meski tak begitu mengerti, ada perasaan takut yang kian menghantui dirinya. Mungkinkan wanita yang tengah bersama Molla merupakan istri dari kekasih tantenya yang selama ini diberitakan? Meski ragu, akhirnya Dabin memilih untuk mengintip mereka. Seorang wanita cantik dengan setelan berwarna krem berdiri dengan elegan di hadapan Molla. Ia tampak tenang meski Dabin merasa jika wanita itu tengah menahan kekesalannya. Apalagi dilihatnya Molla tengah menyilangkan tangan. Hanya saja Dabin tidak bisa melihat ekspresi Molla karena posisi wanita itu membelakanginya. “Nggak usah ngatur-ngatur aku! Aku yang paling tahu apa yang harus aku lakukan,” ucap Molla lantang. “Oke kalau menurut kamu begitu. Kedatanganku ke sini karena aku ingin memberi kabar baik ke kamu.” Wanita itu menjeda kalimatnya dengan helaan napas yang berat. “Kami sudah tidak ada hubungan apa-apa lagi, dan aku harap ini akan menjadi berita bahagia untuk kamu.” Dabin terkejut kala matanya dengan wanita itu bertemu. Dengan cepat ia langsung kembali bersembunyi di balik tembok. Mengatur napasnya dengan duduk di anak tangga. Tak lama didengarnya suara pintu yang ditutup dengan keras. Dabin yakin wanita itu baru saja pergi dari rumah Molla. Brak! Tiupan angin membuat tiang penyangga kanvasnya terjatuh, membuat lamunan Dabin menghilang seketika. Dabin teringat kebohongannya pada Kean. Sebenarnya ia tidak memiliki kelas lagi siang ini. Kedatangannya ke sini hanya untuk menenangkan diri dari kejadian di kantin barusan. Ia kembali berpikir, bagaimana nantinya bila berpapasan dengan Kai. Ia tidak menyangka pria itu akan mengetahui isi hatinya dengan cara seperti tadi. Dabin membetulkan posisi tiang kanvas, kemudian berencana untuk menutup jendela. Angin tengah bertiup kencang siang ini, bahkan beberapa helai daun kering sampai masuk ke dalam galeri seni. Belum sempat Dabin menggeser jendela besar itu, pandangannya menemukan Kai yang tengah terbaring dengan mata terpejam di atas rerumputan. Meski berada di lantai 4, Dabin masih bisa mengenali dengan jelas apa yang ada di bawahnya. Sebuah pohon besar yang berdiri kokoh di dekatnya menghalangi pantulan sinar matahari ke wajahnya. Dabin sering melamun di jendela ini tapi baru kali ini ia menemukan Kai di sana. Seakan taman di belakang gedung seni merupakan tempat persembunyian untuknya. Kehadiran Bian dan Rama membuat Kai terbangun. Ia mengganti posisi menjadi duduk, sedangkan Rama melakukan seperti apa yang Kai lakukan barusan – merebahkan tubuhnya di atas rerumputan yang lebat. Dabin sedikit terkejut kala Bian tiba-tiba menoleh ke atas dan melambaikan tangannya. Tentu hal itu juga membuat Kai mendongak dan melihat ke arahnya. Seketika Dabin mundur, menjauhkan tubuhnya dari jendela. Dirasakan debaran jantungnya bergerak tak sabaran. Rupanya ia masih belum siap untuk bertemu Kai setelah pengakuan cintanya tadi. **
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN