DUA BELAS

2251 Kata
Sebelumnya, Kai tidak pernah datang ke Koju selain bersama Jino. Alasan Jino kerap mengajaknya ke sini pun, karena tidak ada tempat nongkrong senyaman Koju baginya. Ditambah Jino senang karena pemiliknya adalah Martian. Salah satu senior favoritnya – meski tak bisa dijadikan panutan karena Martian tidak lulus-lulus. Maka kedatangan Kai seorang diri ke Koju membuat Martian heran. Awalnya ia pikir Jino akan menyusul, tapi sudah satu jam lebih, Kai duduk di kursi bar sendiri. Sempat begitu ramai, membuat Martian tidak bisa menemani Kai karena membantu pegawainya yang tampak kualahan. Ia hanya menyapa Kai sekali saat pria itu tiba. Kini saat tamu mulai berkurang, barulah ia dapat mengampiri temannya itu. “Lo sendirian? Apa masih nunggu temen?” Martian menduduki kursi bar kosong di samping Kai. Salah satu bartender memberikan sebotol beer padanya. “Sendiri.” “Hum?” Kedua alis Martian berkerut. Ia tidak pernah heran melihat orang datang dan minum sendiri. Tapi karena Kai selalu ke sini bersama Jino, hal itu tentu membuatnya heran. Beda saat ia mendapati Jino datang sendiri. Pokoknya bagi Martian, Kai tidak akan ke sini kalau bukan diajak Jino. “Jino ke mana?” tanya Martian lagi. “Kenapa? Aneh ya, gue datang sendiri?” Seakan bisa membaca isi pikiran Martian, Kai tertawa kecil kemudian menenggak habis minumannya. Martian tak bisa menjawab selain tersenyum lebar. “Tadi gue abis dari suatu tempat, kebetulan pulangnya lewat sini jadi sekalian mampir aja,” jelasnya, membuat Martian mengangguk kecil. Martian teringat seseorang yang tidak lain adalah Dabin. Dabin pasti akan senang jika ia memberi tahunya kalau pujaan hatinya ada di sini. Seharusnya ia menelepon Dabin saat Kai datang. Semoga saja Kai masih betah berlama-lama di sini. Martian mengeluarkan ponsel dari saku belakang celananya, mencari kontak w******p teman baiknya itu. Belum sempat ia mengetik satu pesan pun, pandangannya teralihkan dengan segerombolan tamu yang baru saja masuk. Mereka pria-pria dewasa berjumlah sekitar 8 sampai 10 orang. “Kai, gue tinggal sebentar ya.” Martian berniat membantu pegawainya yang tengah menyatukan satu meja dengan meja lainnya agar rombongan itu bisa duduk di tempat yang sama. Tanpa sadar ia meninggalkan ponselnya begitu saja di atas meja bar. Martian melesat cepat sebelum Kai mengingatkan ponselnya yang tertinggal. Kai menggeser posisi ponsel Martian mendekat – supaya aman, pikirnya. Apalagi saat Martian bangun, kursi bar itu langsung diduduki oleh pengunjung lain. Memang tanpa alasan Kai datang ke Koju. Ia hanya iseng mencari angin malam dengan motornya. Seharian ia berlatih piano untuk kesiapan resitalnya beberapa bulan yang akan datang. Tadinya ia ingin mengunjungi Jino, tapi dilihatnya saat itu sudah pukul 10 malam – Kai sendiri tidak sadar sudah berapa lama ia bersama pianonya. Karena tidak ingin mengganggu waktu Jino beristirahat, akhirnya ia pergi berkeliling sendiri dan berakhir di Koju. Ponsel Martian tiba-tiba bergetar, menampilkan nama ‘Dabin Junior Baik Hati’ tengah melakukan panggilan. Kai menoleh ke arah Martian, tapi pria itu saat ini tampak sibuk mencatat pesanan rombongan yang baru saja duduk itu. Panggilan terhenti. Tapi tak berlangsung lama karena Dabin kembali menelepon. Kali ini pun Kai memilih untuk mengabaikannya karena tidak sopan menjawab panggilan seseorang yang bukan untuknya. Kai berniat untuk memesan satu minuman lagi sebelum pulang. Tapi lagi-lagi notif dari ponsel Martian mengintrupsinya. Tak berniat untuk mencuri lihat siapa pengirim pesan, tapi nama yang muncul pada dua pesan masuk itu membuat Kai tak bisa menahan untuk membacanya. Dabina Junior Baik Hati : Martian, I need your help! Dabina Junior Baik Hati : Please! Kai mengambil ponsel Martian, berniat untuk memanggil si pemilik ponsel, tapi kini pria itu terlihat lebih sibuk dari sebelumnya karena seseorang baru saja menumpahkan minuman dan membuat meja berisi segerombolan bapak-bapak itu sedikit gaduh. Kai ragu Martian akan teralihkan oleh panggilannya, tapi Kai pun yakin Dabin saat ini benar-benar membutuhkan pertolongannya. Apalagi dilihatnya jam hampir menyentuh angka 12. Untuk apa Dabin meminta tolong jam segini jika bukan sesuatu yang mendesak. Lagi-lagi getaran pada ponsel Martian membuat Kai terkejut. Dabin menelepon kembali. Membuat Kai memutuskan untuk menjawab. “Halo, Dab, ini gue Ka…” “Martian, mobil gue ditabrak orang,” potong Dabin sebelum Kai menyelesaikan kalimatnya. “Gue nggak tahu harus hubungin siapa, tapi lo bisa tolongin gue nggak?” “Lo… lo di mana?” “Gue di Jalan Florin, belokan ke tiga.” Sepertinya Dabin tidak tahu jika ia bukan berbicara dengan Martian. Lagipula riuh suara pengunjung pasti membuat Dabin tak mengenali suara Kai. “Oke, tunggu.” Entah apa yang membuat Kai langsung berniat untuk menghampiri Dabin. Tapi ia tidak akan memberitahu Martian – membiarkan pria itu sibuk dengan pekerjaannya. Kai hanya menitipkan ponsel Martian pada seorang kasir setelah membayar pesanannya. Entah apa yang membuatnya tiba-tiba begitu menghawatirkan gadis itu. Dengan segera Kai melesat menuju ke tempat Dabin berada. *** Kesulitan tidur membuat Dabin ingin melukis sesuatu. Jarang sekali keinginannya melukis datang di saat gusar masih bersemayam di pikirannya. Dabin tidak akan menyia-nyiakan niatannya kali ini, dan lagi, siapa tahu melukis sesuatu juga dapat membuatnya segera mengantuk. Hanya saja ia tidak punya kanvas kosong, cat airnya pun banyak yang habis. Tanpa pikir Panjang, Dabin pergi ke luar rumah untuk membeli peralatan melukisnya. Meski sudah pukul 10 malam, tak membuat Dabin menghentikan niatannya itu. Ia ingat ada toserba yang buka 24 jam yang kerap ia lewati saat ke kampus. Setelah puas berbelanja – ia tak menyangka semua toserba itu menjual berbagai ukuran kanvas dan jenis cat air. Sampai-sampai belanjaannya malam itu harus berdesakan dengan lukisan-lukisan yang belum ia turunkan di bagasi mobil. Ia tidak bisa meletakannya di kursi tengah karena banyak buku kuliah, baju, dan sepatu di sana. Kim pernah bilang kalau mobil Dabin sudah seperti kos berjalan. Tak terasa sudah pukul 11 lewat saat Dabin meninggalkan area toserba. Meski jalan sangat sepi, ia tetap menyetir dengan kecepatan sedang – tak perlu terburu-buru, pikirnya. Lagi pula jalanan yang sering ia lalui ini memang terbilang sepi, meski di siang hari, karena bukan jalan raya utama. Laju mobil terhenti saat mendapati perempatan jalan dengan lampu merah. Meski tak ada satu pun kendaraan yang melintas, Dabin tetap memilih untuk menunggu lampu berganti warna. Lampu sorot mobil membuatnya sadar ada kendaraan lain di belakangnya. Hanya saja saat itu Dabin tidak memiliki pikiran jelek sama sekali. Lampu berganti hijau, membuat Dabin kembali melajukan kendaraannya ke jalan yang lebih besar. Mobil itu ikut berbelok ke arah yang sama. Dabin sengaja memelankan laju mobilnya agar si pengemudi di belakang dapat mendahuluinya – karena ia memang ingin menyetir dengan santai. Tapi anehnya mobil tersebut justru tetap berada di belakangnya dengan menyamai kecepatan sepertinya. Dabin berusaha mengendalikan pikirannya, bisa jadi memang arah mobil itu sama dengannya. Namun jalanan semakin sepi dengan lampu jalan yang mati secara acak, membuat Dabin mulai cemas. Karena penasaran ia pun berbelok asal, hanya untuk memastikan kalau mobil di belakangnya itu tidak mengikutinya. Tapi yang terjadi, pengemudi itu ikut berbelok kanan, membuat Dabin menginjak pedal gas lebih dalam. Mobilnya melaju dengan cepat, begitupun dengan mobil sedan hitam yang ada di belakangnya. Persimpangan jalan mulai terlihat lagi di depan sana, membuat Dabin ragu untuk menekan lebih keras pedal gasnya. Dabin hanya takut ada kendaraan lain yang melesat dari arah berlawanan.  BRAAAKKK!!!! Dabin tak menyangka jika pengemudi di belakangnya akan menghantam belakang mobilnya dengan keras. Reflek Dabin menginjak rem. Meski terdorong kuat, mobilnya berhenti tepat sebelum ia menabrak pembatas jalan. Kepalanya pun membentur stir dengan keras. Bila tidak memakai seatbelt, Dabin yakin ia akan terhantam ke depan lebih keras. Ketakutannya semakin membuncah beriringan dengan degupan jantungnya yang semakin kencang. Dabin berusaha mengatur napasnya, meski genggaman pada stir masih sangat kuat. Otaknya bekerja dengan keras memikirkan apa yang terjadi barusan. Dabin semakin takut menyadari betapa sepi jalanan saat ini. Ia berharap setidaknya ada satu kendaraan, atau pejalan kaki yang melintas. Tapi tak ada yang dilihatnya selain tiang-tiang lampu dan pohon-pohon besar di sisi kanan kiri jalan. Suara decitan mobil kembali membuatnya terkejut. Takut-takut ia mengintip ke belakang, melihat mobil si penabak barusan. Mobil tersebut berputar dan meninggalkan Dabin sendiri di tepi jalan. Dabin yakin sekali, kejadian barusan bukan murni kecelakaan, melainkan memang ada si pengemudi itu berniat untuk membuatnya celaka. Dabin terlalu takut untuk keluar mengecek kondisi mobilnya, juga barang-barang yang ada di bagasinya. Tidak, itu tidak penting. Bisa saja si pengemudi gila itu kembali datang. Dengan tangan gemetar Dabin mencari ponselnya yang terjatuh di bawah dashboard. Beruntung ponselnya tak sulit ditemukan. Awalnya ia ingin menghubungi Molla, tapi Dabin tidak ingin membuat tantenya khawatir. Dion? Tidak. Dabin tidak ingin menyulitkan manager tantenya. Sejujurnya Dabin juga merasa tidak enak saat meninggalkan Dion bersama Satya di hotel tempo hari. Terbiasa melakukan segalanya sendiri, membuat Dabin kesulitan berpikir di saat seperti ini, bahkan ia merasa tidak memiliki siapa-siapa untuk dimintai tolong. Martian! Nama itu melintas begitu saja di kepalanya. Dengan cepat Dabin mencari kontak w******p Martian dan menghubungi pria itu. Sayangnya dua kali panggilan Martian tak menjawab teleponnya. Pasti Martian sedang sibuk di Koju, pikirnya. Tapi karena hanya ada nama Martian di kepalanya, membuat Dabin tidak menyerah menghubungi Martian. Awalnya ia mengirim pesan, kemudian kembali menelepon pria itu.  “Halo, Dab, ini gue Ka…” “Martian, mobil gue ditabrak orang!” Ada kelegaan saat Martian menjawab panggilannya. “Gue nggak tahu harus hubungin siapa, tapi lo bisa tolongin gue nggak?” tanyanya cepat. Meski terdengar sangat berisik di sana, Dabin berharap Martian langsung dapat menangkap ucapannya tanpa pengulangan. “Lo… lo di mana?” Dabin melihat sebuah plang jalan yang berdiri tak jauh darinya. “Gue di Jalan Florin, belokan ke tiga.” “Oke, tunggu.” Telepon terputus. Dabin terdiam sesaat, menyadari jika suara di seberang sana terdengar lebih berat dari biasanya. Tapi karena kebisingan di Koju membuat Dabin tak memikirkan hal lain selain jika itu memang Martian. Setelah memastikan semua pintu terkunci dengan benar, Dabin hanya perlu menunggu dan berharap Martian akan segera datang. *** Kai meletakan dua ramen cup instan di atas meja, satu untuknya dan satu untuk Dabin. Sebelumnya, Kai menelepon kenalannya yang memiliki sebuah bengkel mobil, tak jauh dari tempat kecelakaan. Setelah orang itu membawa mobil Dabin pergi, Kai mengajak Dabin ke minimarket 24 jam untuk membeli minum, juga membuat Dabin menenangkan diri. Dabin sedikit kebingungan saat mendapati sebuah royal enfield berhenti tepat di depan mobilnya. Tadinya ia pikir seorang pengendara motor yang melintas sengaja berhenti karena melihat kondisi mobilnya. Dabin pun terkejut bukan main saat pria itu membuka helm, dan ia mendapati bahwa pria itu adalah Kai. Dabin tidak banyak bertanya dan membiarkan Kai mengurus mobilnya. Ia juga mengiyakan ajakan Kai untuk mengantarnya pulang. Namun sebelumnya Kai mengajak Dabin ke minimarket untuk membeli minum, sekaligus memastikan kondisi gadis itu baik-baik saja. “Makasi, ya…” ucap Dabin pelan. Kala ketakutannya telah menguap, otaknya kembali bekerja dengan baik, menyadarkannya bahwa saat ini, tengah malam, ia dan Kai duduk bersebelahan sambil memakan ramen cup instan. Mereka duduk di kursi tinggi yang berjajar di sepanjang meja Panjang, yang menghadap ke jendela besar minimarket. Kai hanya mengangguk, kemudian menenggak hampir setengah botol air mineralnya. Berbeda dengan jalan tadi, dari sini terlihat masih banyak kendaraan meski hari semakin larut. Seakan tak menghiraukan dirinya, Kai membuka penutup ramen cup dan meniup mi perlahan sebelum masuk ke mulutnya. Terjaga di tengah malam kerap membuatnya selalu lapar. “Kai…” panggil Dabin perlahan. Sekali lagi, Dabin harus bekerja lebih keras untuk menenangkan debaran di hatinya. Berada sedekat ini dengan pria yang sangat disukainya membuat Dabin hampir lupa caranya bernapas dengan baik. Tapi ia harus menanyakan kenapa Kai bisa tiba-tiba muncul, bukan Martian. “Tadi itu, lo nggak sengaja lewat atau memang datang mau nolongin gue?” Kai terdiam sesaat. “Hmm, gue… kebetulan tadi gue di Koju. Martian minta tolong ke gue karena dia benar-benar lagi sibuk.” Kai tidak tahu mengapa ia berbohong. Dabin hanya mengangguk kecil. Meskipun kedatangan Martian juga akan membuatnya merasa tertolong, tapi Dabin merasa beruntung Kai menggantikan Martian datang ke tempatnya. Sesaat ia lupa jika sejam yang lalu sedang dalam bahaya. “Lo tahu siapa yang nabrak lo, Dab?” tanya Kai. Dabin menggeleng perlahan. “Nggak tahu. Gue juga nggak tahu mobil yang nabrak gue itu mobil apa. Semoga aja cuma orang iseng.” “Seiseng-isengnya orang, nggak akan nabrak mobil orang lain hanya karena kurang kerjaan, Dab!” Kai kesal. Dan itu membuat Dabin sedikit terkejut. Apa Kai baru saja marah karena menghawatirkannya? Tidak! Dabin tidak mau terbuai dengan perasaan dan pemikiran liarnya sendiri. Kai marah bukan karena menghawatirkannya, melainkan karena mendengar jawaban asalnya. Lagi pula keberadaan Kai di sini atas permintaan Martian. Tak seharusnya Dabin berharap yang tidak-tidak. Kai sadar jika ia baru saja membentak gadis itu. “Tapi lo nggak apa-apa, kan?” tanyanya mengalihkan pembicaraan. “Gue baik-baik aja. Tapi besok gue tetap akan ke dokter untuk lebih pasti.” “Kayaknya lebih baik gitu.” Kai kembali memakan ramennya. “Makasi banyak ya, Kai.” “Nevermind, Dab.” Dabin masih belum bisa mengalihkan pandangannya dari Kai. Bahkan ia tidak menghiraukan ramennya yang mulai dingin. Matanya seakan tak mau diperintah untuk berhenti memandangi pria itu. Terbiasa memandangi pria ini dari jauh, membuat Dabin seakan tak ingin menyia-nyiakan kehadiran Kai di dekatnya. Entah bagaimana bisa kehadiran pria ini membuat kecemasannya menghilang entah ke mana. Dabin tak memikirkan nasib mobilnya kini. Dabin tak memikirkan lukisan-lukisannya rusak di bagasi. Bahkan Dabin tak memikirkan siapa si pengemudi gila yang sengaja menabraknya barusan. Seakan tak ada ruang dan cela di pikirannya, karena saat ini hanya ada Kai di sana. Penuh. Sepenuh hatinya saat ini. Tanpa sadar perasaan ingin memiliki itu mulai muncul. Dabin tak bisa hanya memandangi Kai dari jauh. Kini Dabin benar-benar ingin memiliki dan mencintai Kai itu dengan bebas. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN