“Jadinya mau cerita yang mana dulu, nih? Alasan malam-malam datang ke Koju atau kenapa lo nyiram Jino?”
Dabin setengah melotot. Membuat sepotong waffle fries tidak jadi masuk ke mulutnya. “Gue kan belum cerita, kok lo tahu kalau gue nyiram si cowok sinting itu?”
“Nyokap gue,” jawab Martian santai. Ice long black-nya sudah habis setengah gelas, tapi Dabin belum juga memulai obrolannya. Ya, siapapun yang ada di dalam Koju pasti mengetahui kejadian itu, apalagi Bri yang ada di meja bar.
“Gue nggak ngerti Tian, kenapa tiba-tiba Jino bilang suka sama gue.”
“Jadi lo nyiram dia pake air karena dia bilang suka sama lo?”
“Kok, lo nggak kaget sih, dia bilang suka sama gue?”
“Terus kalo lo bilang suka ke Kai dan Kai nyiram lo pakai air, lo bakalan gimana?”
“Tahu dari mana lo kalau gue suka sama Kai!” ucap Dabin sedikit berteriak, membuat beberapa pengunjuk kafe menoleh pada mereka sesaat.
Dabin menutup mulutnya, memastikan tidak ada yang mengenalnya di kafe ini. “Oke, gue bakal tanya lagi sama lo setelah obrolan ini selesai,” lanjutnya dengan suara perlahan. Dia bersumpah akan membuat Martian mengaku, dari mana informasi itu berasal. Karena yang tahu perasaannya pada pria itu hanya Kim, Cloe, dan Jess.
“Ya, masalahnya, Jino itu kan, pacarnya Kim. Lo juga tahu kan, mereka dekat. Ya dia nggak bisa seenaknya tiba-tiba bilang suka sama gue, apalagi dia tahu kalau gue berteman baik dengan Kim,” ucap Dabin berapi-api.
Martian menghela napas panjang. “Gimana, ya, Dab, gue nggak jago soal percintaan. Tapi kalau menurut gue, Jino nggak salah-salah amat. Bukannya lo bilang kalau sebenarnya mereka nggak pacaran, ya?” Tidak ingin memihak siapapun, Martian berusaha untuk memberikan pandangannya sebijak mungkin.
“Iya, tapi…”
“Tapi lo nggak enak sama Kim, kan?” potong Martian. “Ya kalo gitu lo ngomong aja sama Kim.”
Jawaban Martian sedikit membuatnya gemas. Sebenarnya Martian paham tidak sih, kegelisahannya? Sayangnya ia tidak punya teman bicara lain selain Martian.
“Gini ya, Dab, oke lo nggak terima Jino tiba-tiba bilang suka ke cewek lain sementara dia sendiri masih berhubungan sama teman lo…” Syukurlah, sepertinya Martian mulai sedikit memahaminya. Dabin tidak ingin menginterupsi, ia akan mendengarkan perkataan Martian baik-baik. “Tapi Jino nggak ngajakin lo pacaran, kan? Dia cuma bilang suka ke lo aja kan?”
Dabin terdiam. Memang ada benarnya sih, tapi tetap saja ia merasa ada yang salah. “Terus dia juga bilang kalau selama ini alasan dia dekat sama Kim karena dia kasihan sama Kim.”
“Berarti selama ini dia tersiksa, dong?”
“Lo belain siapa sih, sebenarnya?”
“Gue nggak belain siapa-siapa, tapi gue cuma mau ngingetin lo, kalau lo nggak perlu ngerasa cemas berlebihan soal ini. Lo takut Kim marah sama lo? Kim juga nggak ada hak buat marah ke lo kalau dia tahu ternyata Jino punya perasaan sama lo. Emang kalian selingkuh? Kan nggak. Lo aja baru tahu kan, kalau Jino suka sama lo.”
“Terus gue harus gimana?” tanya Dabin memelas.
“Minta maaf sama Jino karena udah nyiram dia,” balas Martian santai, kembali meneruskan makan siangnya. “Habis itu minta Jino untuk menyelesaikan urusannya sama Kim, kasih tahu juga kalau pernyataan suka dia bikin lo nggak nyaman.”
Dabin masih diam.
“Hadapin, Dab.” Martian menatap Dabin serius. “Lo nggak perlu pusing dengan masalah yang lo ciptakan sendiri. Semua tuh, bakalan terasa jauh lebih sederhana kalau lo nggak perlu ngerasa nggak enak sama Kim.”
Martian benar. Semua ini terasa membingungkan karena Dabin tidak bisa menghadapi Kim dengan jujur. Baiklah, setelah ini ia akan memikirkan bagaimana cara yang bagus untuk mengajak Kim berbicara tanpa melukai hatinya.
“Heh, sejak kapan lo tahu gue suka sama Kai?” tanya Dabin curiga.
“Lagian sejak kapan lo bisa nutupin sesuatu dari gue?” jawab Martian dengan senyum meledek.
***
Martian datang lebih awal, sehingga makan siang mereka berakhir lebih cepat. Martian bilang, semalam sebelum Koju tutup ada yang mabuk dan memecahkan beberapa botol minuman di depan meja bar. Meski kekacauan semalam sudah dibereskan oleh salah satu pegawainya, tapi ia harus membantu Bri mengecek kondisi Koju. Takut kalau masih ada sisa pecahan botol.
Jam menunjukan pukul 12 lewat 30 menit saat Dabin kembali tiba di kampus. Dabin yakin, Kim dan lainnya pasti masih ada di kantin. Meski ada ketakutan kembali bertemu Jino, setidaknya Dabin tidak boleh melarikan diri dari Kim.
“Loh, udah makan siangnya?” Kim terkejut saat mendapati Dabin tiba-tiba duduk di hadapannya. Dabin mengangguk.
“Kalau sebentar kenapa nggak Martian aja yang datang ke sini,” sahut Jess yang duduk di samping Kim.
“Mau makan lagi nggak? Gue tadi makan bakso kurang kenyang, terus pengin nasi goreng sekarang. Kalau lo mau, nanti kita makan sepiring berdua,” ajak Cloe dengan mata berbinar. Meski bertubuh langsing, tapi napsu makan Cloe tidak kalah dengan kuli proyek.
Meski sudah sering melihat Cloe makan banyak, tapi perkataannya barusan tetap saja membuat Kim melongo, sedangkan Jess tertawa geli. Dabin mengangguk mengiyakan. Sebenarnya jika Dabin tidak menyetujuinya, Cloe tetap akan pergi memesan nasi goreng.
“Oke, gue pergi beli dulu, ya,” pamitnya bersemangat.
Tak lama Cloe meninggalkan meja mereka, Jino datang dan langsung menduduki kursi kosong di samping Dabin. Membuat Dabin terbatuk kala menenggak air mineralnya.
“Hai,” sapa Jino. Meski awalnya Kim heran mengapa reaksi Dabin sekaget itu, tapi melihat Jino yang begitu tampan dengan kaos longgar berwarna hitam – apa pun yang dipakai Jino selalu menjadi favorit Kim, ia tidak begitu menghiraukan temannya.
“Lo mau tukeran tempat duduk?” tawar Jess, siap-siap bangun tapi Jino memberi signal lewat tangannya.
“Nggak usah, nggak apa-apa gue di sini aja.” Jino menoleh pada Dabin. Gadis itu masih terdiam sambil menutup botol air mineralnya perlahan. “Nggak apa-apa kan, Dab, gue duduk di samping lo?”
Dabin spontan menoleh. Ia menyadari senyum dan tatapan Jino padanya penuh maksud terselubung. Tak ingin membuat Kim dan Jess curiga, buru-buru ia menjawab – dengan senyum dipaksakan. “Lo bisa duduk di manapun lo mau.” Dabin menyesal kenapa ia tidak duduk di sisi meja yang hanya ada satu kursi.
“Okay.” Jino mengulas senyum pada Dabin, membuat gadis itu buru-buru mengalihkan pandangannya.
Kim terdiam. Ia heran, sejak kapan Jino memerlukan pendapat orang lain tentang keberadaannya. Dan tatapan itu sedikit mengganggu Kim, tatapan Jino saat menunggu Dabin untuk merespons pertanyaannya tadi. Meski bagi yang lain terlihat biasa saja, tapi tidak untuk Kim. Insting Kim terlalu tajam, apalagi untuk hal yang berkaitan dengan Jino.
“Katanya tadi sudah makan di kantin gedung seni sama yang lain?” tanya Kim datar. Tapi terasa penuh selidik.
“Iya, sih,” jawab Jino menggantung. Lagi-lagi ia menoleh pada Dabin. “Pengin ke sini aja.”
Ingin rasanya Dabin memutar 10 menit di awal. Ia tidak akan mampir ke kantin bila tahu ia akan bertemu dengan Jino. Dabin membalas tatapan Kim yang terlihat seperti meminta penjelasan. Di sisi lain, Dabin juga sadar jika Jino sengaja bersikap seperti ini padanya – di hadapan Kim.
“Aku ke sini mau nanya sesuatu ke kamu,” ucap Jino pada Kim, membuat pandangan gadis itu kembali terkunci padanya. Kini giliran Jess yang menatapnya heran, tapi Dabin tidak menghiraukannya.
“Ulangtahun kamu acaranya sore atau malam, ya?” tanyanya kemudian.
“Kamu mah, pelupa deh. Aku kan, ngasih tahu lewat chat.”
“Ya udah, deh, nanti sampai rumah aku baca lagi chat kamu.”
“Kasih tahu Kai juga ya, Dabin pasti semangat kalau ada Kai.” Seolah melupakan kecurigaannya barusan, Kim menatap Dabin dengan senyum menggoda.
“Kenapa emangnya sama Kai?” Jino ingin tahu.
“Kim…” Jess mengingatkan. Kim langsung sori-sori dengan suara perlahan. Jess hanya tidak ingin Kim dengan lantang mengatakan bahwa Dabin menyukai Kai, apalagi di depan Jino, yang mereka tahu sangat dekat dengan pria itu. Jess hanya ingat bahwa Dabin selalu berkata untuk merahasiakan perasaannya pada siapapun. Kim juga tidak pernah menyinggung hal ini dengan Jino sebelumnya.
“Oke, nanti aku datang sama Kai.”
Untuk kali pertama Dabin menyukai sesuatu yang keluar dari mulut Jino. Membayangkan Kai akan datang ke pesta ulangtahun Kim lusa, tentu membuatnya jadi lebih bersemangat. Siapa tahu ia bisa memulai pertemanan dengan Kai di hari itu. Oke, sudah Dabin putuskan, ia tidak akan lagi memandangi Kai dari jauh, dengan berani ia akan mengajak pria itu bicara di pesta ulangtahun Kim.
***