9.7

1835 Kata

“Ra..” panggil Ammar. Entah sudah berapa kali ia meminta gadis itu untuk mendekat padanya tapi Amira tidak bergeming. Posisi duduknya masih sama seperti beberapa menit yang lalu. “Aku aja kali ya, yang ke sana?” tanya Ammar lagi dengan kedua mata terpejam. Jujur ia tidak merasa lelah apalagi sakit kepala. Ia hanya ingin berdua saja dengan Amira. Kalau tidak ingat ada Ayah Ucup yang harus ia hargai dan juga hormati Ammar akan membuat Amira terjebak dengannya sampai besok pagi. Dulu rasanya tidak seberat ini meninggalkan gadis ini ketika ia harus terbang. Semudah itu semua berubah hanya karena ia mau menikah dengan Ammar. “Ya udah sih, Mar.. diem aja dulu. Nanti sakit kepalanya juga hilang sendiri.” Amira menatap tajam pria itu. Ammar yang berada di depannya saat ini terasa seperti orang a

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN