Dia

1255 Kata
Penawar terbaik terhadap luka, adalah waktu. Hal itulah yang terjadi pada Azmya, setelah beberapa bulan berjalan memalui tiap menit yang tak mudah. Melihat istrinya kembali ceria, tentu Arka sangat bahagia, dan berharap keluarga ini akan manis seperti sedia kala. Namun, ternyata pria itu salah. Sikap Azmya semakin aneh. Ia sering berbicara seorang diri, sembari memeluk pakaian bayi perempuan. Bahkan Arka sempat terkejut, ketika sepulang dari mengurus proyek di Kalimantan, kamar tidur mereka berubah. Kamar itu diubah dengan tatanan menyerupai kamar bayi perempuan, dan seluruh pernak-perniknya. Awalnya, Arka mengira Azmya butuh suasana baru, tetapi kenyataannya berbeda. Azmya bertindak semakin meresahkan, dengan menimang boneka dan cekikikan sepanjang hari. Tak ingin hal itu berlanjut, Arka memutuskan mengunjungi seorang psikiater. "Aku tidak gila, Mas!" ucap Azmya sengit. Ia tampak marah seraya meninggalkan ruangan, setelah sesi konsultasi. Wanita itu melangkah cepat dan tampak dipenuhi amarah, berbeda dengan ketenangan yang ia cipta saat di depan dokter tadi. Azmya bahkan membanting pintu mobil dan duduk dengan gerakan kasar. "Kamu butuh teman bicara, Sayang." Arka menyusul dan menghidupkan mesin mobil. "Aku hanya butuh kamu memahamiku!" "Apa yang tidak kulakukan untukmu?" "Menikahlah!" teriak Azmya. Ia tidak memedulikan orang yang berada di area parkir rumah sakit. Arka meraih bahu istrinya, dan membingkai wanita itu. Kedua matanya menatap lekat sembari berucap, “Beri aku satu alasan, kenapa aku harus menikah?” “Karena aku mencintaimu .” Wanita yang terisak itu menunduk, dan berbicara pelan, tidak seemosional tadi. “Kamu mencintaiku, tapi memintaku menikah lagi? Apa itu yang kamu sebut cinta?” “Aku ingin memiliki seorang putri, Mas ... buah cinta kita. Sejak awal kamu tahu itu, ‘kan? Sekarang aku nyaris kehilangan harapan itu, jadi kumohon ... mengertilah.” “Kita bisa adopsi, Sayang.” “Aku ingin anak darimu, Mas ... anak dari wanita yang kamu cintai ... dengan begitu, kamu akan mengenangku meski nanti aku tidak ada lagi.” Arka terhenyak, dengan tubuh bersandar di balik kemudi. Sekali lagi, cinta wanita itu membuat Arka putus asa. Bagaimana dia akan berbagi, sedangkan cinta untuk Azmya sungguh tak ternilai? *** “Apa kamu akan lama, Mas?” tanya Azmya sembari menyiapkan pakaian suaminya. “Belum tau. Proyek di Kalimantan ini agak alot, Sayang. Bisa memakan waktu berhari-hari, bahkan berminggu-minggu. Investor dari Cina dan Singapur ini sangat sulit ditaklukkan. Aku bahkan sudah bercerita bukan, jika untuk proyek raksasa ini aku sampai menggandeng Bima Sakti?” Arka menyebut nama seorang rival bisnis terberatnya, mantan ketua himpunan pengusaha pusat. Mendengar itu, Azmya mendekati pria yang masih sibuk dengan laptop dan beberapa dokumen. Perlahan, ia duduk di pangkuan sang suami, lalu mengalungkan tangan ke leher lelaki itu. Membuat Arka mengangkat wajah, lalu mendaratkan sebuah kecupan singkat. “Semoga semua pekerjaanmu lancar, dan cepat kembali.” “Kenapa?" “Aku ... aku merindukanmu,” bisik Azmya dengan wajah bersemu. Tak butuh waktu lama bagi kedua insan itu untuk saling memuja, lalu larut dalam cumbuan memabukkan. Menapaki malam dengan penuh cinta sebagai salam perpisahan. Arka tersenyum saat mengingat betapa manjanya Azmya semalam. Entah berapa lama ia tidak mendapati sang istri seperti itu. Singga siang ini, saat baru saja menapakkan kaki di Pulau Kalimantan dalam hitungan menit saja, hatinya telah terjebak rindu. Baru saja Arka mengeluarkan ponsel dari saku celana untuk menelepon Azmya, saat dua orang melintas di depannya. Seorang lelaki tak asing, didampingi gadis cantik. Itu adalah Bima Sakti dan sekretarisnya. Gadis yang sering menjadi perbincangan di antara pengusaha muda karena kecantikan dan kepiawaiannya meng-handle banyak proyek. Cerdas dan elegan, seakan-akan menjadi magnet tersendiri bagi kolega untuk menanamkan saham. Berada di sisi bos besar seperti Bima, gadis itu benar-benar seperti Sang Penggoda, yang bisa melemahkan siapa saja. Satu keberuntungan Bima memiliki pendamping pribadi seperti Myria. Urung melakukan panggilan, Arka memasukkan kembali ponsel ke saku, lalu terpaku menatap gadis di depan sana yang melangkah dengan anggunnya. Kaki jenjang yang tampak bersih terawat, menampilkan paha mulus dari belahan rok yang tinggi. Tanpa sadar, Arka mengembangkan senyuman. Kagum, juga merasa ada yang berdesir halus dalam dadanya. “Biar saya yang bawa, Pak.” Kalimat dari asistennya membuat Arka tergagap, dan menyerahkan koper yang sedari tadi ia bawa. “Baiklah. Urus semuanya seperti biasa, Dit.” Begitu pesan Arka, dengan mata kembali tertuju pada Myria yang tampak berbincang akrab dengan atasannya. Sesekali gadis itu tertawa, memancarkan aura segar bagi siapa saja yang memandang, termasuk Arka. *** "Kosong?" tanya seorang pria siang itu, pada Myria yang sedang menikmati es kopi vanila. Siang ini, ia sengaja melewatkan makan siang bersama, hanya karena ingin menyendiri. Menikmati secangkir kopi vanila kesukaannya di sebuah coffee shop yang berada di lantai dasar hotel. Beberapa hari belakangan, ia bertugas mendampingi Pak Bima untuk melobi proyek besar, terkait pembangunan infrastruktur di Pulau Kalimantan. Hotel megah ini menjulang, dengan taman terbuka di bagian tengahnya. Seperti sumur berbentuk persegi jika dilihat dari atas, dengan aneka tumbuhan di dasarnya. Hal yang membuat Myria sangat menyukai tempat itu, karena dapat melihat bunga yang bermekaran, indah dan menyejukkan mata. Dari tempat itu pula, ia bisa melihat kesibukan di sisi bangunan yang lain, meski berbatas dinding kaca yang kokoh. Berbeda dengan dua hari sebelumnya, siang ini hujan turun perlahan, melepas dahaga sang bumi. Suasana yang membuat hati Myria berdesir, manakala tatapannya tertuju pada tetes demi tetes yang saling berkejaran pada dinding kaca, dan berebut menyentuh bumi terlebih dahulu. "Kosong?" Suara berat dari lelaki yang tadi belum dijawab, mengacaukan tatapan Myria ke arah hujan di luar dinding kaca. Akan tetapi, gadis itu tetap bungkam dan hanya menyunggingkan senyum dengan sebelah bibirnya. Sementara, tatapannya tetap mengarah pada bunga-bunga yang riang menyambut tetesan sang hujan di luar sana. Merasa diabaikan, lelaki itu menarik kursi bulat tinggi tepat di sisi gadis itu tanpa mendapatkan jawabannya. ‘Bukankah sesungguhnya ia memang tak sedang menginginkan izinku? Hanya sebuah basa-basi yang telah kumengerti bahkan sebelum ia bertanya,’ batin Myria masih menyunggingkan senyuman sinisnya. "Sendiri?" tanya pria itu lagi, seolah ingin memecah kebekuan di antara mereka. 'Hah! Haruskah kujawab? Ah, tidak. Mungkinkah ia sedang berusaha mendengar suaraku?' Myria memalingkan wajah dengan mata menyipit, melihat sosok yang berada sejajar dengannya. Mata pria itu memandang keluar, mungkin berusaha mengikuti apa yang ia lakukan sebelumnya. Tampak bibir pria itu menyunggingkan sebuah senyum. Entah untuk Myria, atau untuk menertawakan basa-basi dan kebodohannya sendiri. "Tidak ikut makan siang?" "Bapak sendiri? Melewatkan makan siang hanya karena ingin duduk di sampingku?" "Ah! Apakah aku sedang tertangkap basah?" Arkatama nama lelaki itu. Orang yang dikenal Myria tiga hari lalu, karena ia termasuk bagian dalam proyek besar bersama Pak Bima. Jika perusahaan sang atasan merupakan penyuplai bahan baku, maka perusahaan Arka bertanggung jawab atas ketersediaan bahan bakar selama pembangunan besar-besaran itu berlangsung. Meski pria itu adalah rival bisnis, tetapi sang atasan memutuskan menggandeng perusahaan Arka, mengingat beratnya lawan yang dihadapi. Mereka berharap memenangkan proyek ini, mengingat besarnya keuntungan yang akan diperoleh jika bisa mengambil alih tender tersebut. Tentu saja dengan pendekatan yang sama sekali tidak mudah, selama berbulan-bulan. Terkadang musuh dari musuh kita adalah teman. Itulah yang dipahami Myria. "Aku jadi paham, mengapa Bima begitu mempertahankanmu tetap di sisinya." Mendengar kalimat Arka, Myria hanya menyunggingkan senyum. Menyesap es kopi, lalu kembali menatap ke arah hujan yang semakin banyak membawa kawanannya turun. Tak hanya membasahi, kali ini tetesan itu seakan-akan hendak berkuasa, mengalahkan takhta hangat sang surya di siang berselimut mendung ini. Duduk bersanding dalam bisu, mereka berdua tampak seperti orang yang sedang bernostalgia. Bagai sepasang kekasih yang tersenyum menatap hujan, di bumi yang sama. "Apa mungkin, Bapak juga pernah memintaku padanya?" "Hmm ... mungkin saja, jika kita berhasil memenangkan tender ini." "Berapa usia Bapak?" "Tak terlalu tua untuk kau sebut Bapak." 'Ah!' *** Bersambung ....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN