Arumi mendesah pelan ketika mendapat pertanyaan yang menyudutkan dari Ray. Dia bingung memikirkan alasan apa yang harus ia sampaikan pada sang sekretaris dari suaminya tersebut agar terbebas dari kecurigaannya. “Hahaha.” Ray pun langsung terkekeh begitu melihat wajah Arumi yang merah padam. “Aku sudah tahu, Arumi. Aksa sudah bercerita padaku sebelumnya. Jadi kau tak perlu berbohong.” Ray menjelaskan lagi. Arumi pun langsung gelagapan. “Ah, itu ... jadi kau sudah tahu. Anu ... aku ... hanya ... aku ....” Masih dengan kekeh yang sama, Ray melihat ke arah ponselnya. “Aksa sedang berada di dekat pantai Kabupaten Garut sana. Sedang apa dia di sana? Bahkan seumur aku mengenalnya, dia lebih sering datang ke Eropa daripada daerah-daerah di Indonesia.” “Itu ... Pak Ray tahu dari mana?” tany

