Bab 19

1057 Kata
Jantung Leon berhenti berdetak, tubuhnya tidak bisa digerakan. Setelah mendengar kabar tentang kecelakaan Stella, Leon langsung meninggalkan LA. Tidak bisa dipungkiri Leon sekarang sangat gelisah dan ingin segera melihat Stella. “Siapkan jet pribadi sekarang!” Peringah Leon pada bawahannya. “Baik Tuan” Sementara itu, Angel merasa kesal karena Leon lebih memilih pulang untuk Stella dibandingkan dengan kerugian atas kebakaran hotel. Disisi lain Amgel merasa senang karena mengetahui Stella kritis sekarang. Walaupun tidak memenuhi keinginannya setidaknya Stella kritis. Leon ingin mengendarai jet pribadinya, ia merasa waktu berjalan dengan lambat. Leon ingin cepat sampai ketempat dimana Stella berada. 4 jam perjalanan akhirnya Leon sampai kerumah sakit tempat Stella dirawat. Ruangan Stella dijaga ketat oleh banyak penjaga. Leon paham betul, keluarga Stella sekarang sedang waspada dari bahaya yang akan datang. “Biarkan aku masuk!” Teriak Leon ketika para penjaga tidak membiarkannya masuk, “Mohon maaf Tuan, selain keluarga tidak ada yang boleh masuk. Bahkan perawat sekalipun, kecuali dokter Roy” “Aku kekasih Stella, jadi aku mohon biarkan aku masuk” ujar Leon dengan sangat memohon. “Tuan adalah pria ke 32 yang mengaku kekasih Nona Stella, tolong segera pergi sebelum kami menyeret paksa Tuan” “s**t!” Umpat Leon kesal, ia ingin menerobos masuk namun para bodyguard tidak membiarkannya masuk begitu saja, “Ada apa ini? Kenapa ribut sekali? Jangan mengganggu ketenangan putriku!” Ujar ibu Stella keluar memeriksa ada keributan apa diluar. “Tuan ini mengaku kekasih Nona Stella, Nyonya. Dia pria ke 32 yang mengaku kekasih Nona Stella” Ibu Stella memperhatikan Leon yang sangat berantakan. “Tolong izinkan aku melihat Stella, aku mohon.” pinta Leon membuat Ibu Stella merasa pria didepannya sekarang tidaklah berbohong. “Masuklah” jawab ibu Stella membiarkan Leon masuk. Leon yang diizinkan masuk langsung keruang rawat Stella. Pandangannya terasa kabur karena air mata mengenang di matanya. Leon menangis melihat kondisi Stella sekarang. Leon tidak membuka mulutnya, ia terdiam duduk sambil memegang tangan Stella. Katakan Leon cengeng menangis karena wanita. Tapi, ini kenyataan pria mana pun pasti hancur ketika melihat wanitanya terbaring lemah tak sadarkan diri. Ibu Stella memperhatian Leon dalam diam, ia terharu karena melihat Leon. Ibu Stella tidak menyangka putrinya telah memiliki pria yang begitu menyanyanginya. “Tolong ambilkan makanan dan minum” pinta ibu Stella pada salah satu penjaga. “Baik Nyonya” Setelah mengatakan keinginannya, ibu Stella masuk lagi keruang rawat Stella. “Bukalah matamu sayang, aku mohon. Jangan biarkan tubuh ini hidup tanpa jantung yang berdetak” ujar Leon pelan membuat ibu Stella tertegun. Ucapan Leon sama persis dengan ucapan suaminya. Detik kemudian ibu Stella tersenyum lega, dugaannya benar pria ini benar-benar mencintai putrinya. Tok..tokk “Nyonya saya membawakan pesanan nyonya” “Letakan saja, terima kasih” ujar ibu Stella lalu mengambil alih troli makanan dan membawanya kepada Leon. “Makanlah, kau harus makan. Kau terlihat sangat lelah” ujar ibu Stella membuat Leon mengalihkan pandangannya dari Stella. “Terima kasih, tapi aku tidak lapar” jawab Leon lemah, “Bodoh, kau pikir putriku senang dengan kondisimu sekarang. Makanlah, jika tidak mau terbaring dirumah sakit” “Tapi…” “Kalau kau tidak mau makan, aku akan mengusirmu!” Ancam ibu Stella dan sangat ampuh, tanpa penolakan Leon langsung memakan makanan yang dibawakan oleh ibu Stella. Huuukkk…huuukk “Dasar tidak waras, makan pelan-pelan. Apa yang disukai putriku dari pria sepertimu. Bodoh” ujar ibu Stella kejam. Leon kembali makan dengan pelan, walaupun ia tidak berselera tapi ia tetap memakannya karena ia tidak mau diusir. “Siapa namamu?” “Leon Pradipta” jawab Leon disela makannya. “Baiklah Leon, kau hanya boleh menjenguk Stella dari pukul 7pagi sampai 2 sore” “Mengapa? Aku ingin disini menemani Stella” “Dengarkan aku, pukul 3 sore ayah Stella pulang kerja. Kalau kau ada disini ketika ayah Stella pulang maka kau tidak akan bisa bertemu Stella untuk kedepannya” jelas ibu Stella, ibu Stella tahu betul dengan sifat suaminya. Walaupun suaminya meminta Stella mencari pasangan itu hanya dimulut saja. Jika benar Stella membawa pasangan maka pria itu akan tiada. Tipe daddy complex yang tidak ingin putrinya bersama pria manapun kecuali dengan dirinya. “Baiklah” jawab Leon mengerti, lebih baik begitu daripada ia sama sekali tidak bertemu dengan Stella. Ibu Stella mengehela nafas lega karena Leon mengerti tanpa harus minta penjelasan lebih lanjut lagi, $$ “Jangan mendekati putriku sebelum mengganti pakaian dan mencuci tangan” perintah ibu Stella ketika suaminya datang langsung menuju Stella. Ayah Stella langsung meletakan tas kerjanya dan mengambil baju ganti lalu masuk kedalam kamar mandi. Tidak butuh waktu lama ayah Stella sudah mandi dan berganti pakaian. “Sayang, bagaimana keadaan putri kita?” Tanya ayah Stella membuat ibu Stella menggelengkan kepalanya. “Belum ada perkembangan, sama seperti biasanya” jawab ibu Stella lemah. “Mengapa Tuhan tidak mendengarkan doa kita? Putriku yang malang” ujar ayah Stella menatap putrinya yang terbaring lemah. “Tuhan tahu apa yang baik untuk putri kita, asal kita yakin Stella akan segera sadar” “Kau benar sayang,” Sedangkan ditempat lain yaitu kekediaman keluarga besar Leon. “Urusan di LA sudah selesai Le?” Tanya Hana membuat Leon memggelengkan kepalanya lemah. Hana mengerutkan keningnya. “Lalu?” Tanya Hana karena Leon tidak biasanya meninggalkan pekerjaan seperti ini, Leon adalah tipikal pria yang tidak mau rugi. Setidaknya Leon akan berada di LA hingga kerugian tertutupi. “Stella kritis” jawab Leon lemah membuat Hana langsung terdiam. “Kau tidak berbohongkan Le?” “Untuk apa aku berbohong bun, keselamatan Stella tidak boleh dibuat untuk lelucon” jawab Leon. “Dirawat dirumah sakit mana? Bunda ingin melihat Stella” “Jangan sekarang bun, besok pagi kita pergi bersama” jawab Leon membuat Hana menganggukan kepalanya, “Sekarang kau istirahat, kau terlihat kelelahan” “Iya bun” jawab Leon lalu berjalan menuju kamarnya Leon langsung membaringkan dirinya, rasanya nyawanya masih dirumah sakit dimana Stella dirawat, Leon ingin tetap tinggal tapi ia tidak bisa. Leon menatap langit-langit kamarnya, ia sama sekali tidak mengantuk. Bahkan rasa lelahnya pun tidak ia rasakan. Pikiranya terus melayang ke Stella, pirian dan raganya tidak bisa diajak kompromi sekarang. Leon menghela nafas kasar lalu mengambil obat tidur dilacinya. Leon meminum obat tidur, tidak lama kemudian ia tertidur. Leon tidak akan bisa beristirahat tanpa obat tidur. Setidaknya sekarang itulah yang Leon pikirkan. Leon harus tampak sehat ketika menjenguk Stella besok.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN