Bab 16

437 Kata
Stella baru sampai di apartemennya, ia segera berbaring ditempat tidur. Hari yang panjang dan Stella sangat lelah. Wajahnya terasa keram karena kebanyakan senyum kaku. Ting..tongg Stella menghela nafas kasar, siapa yang berkungjung. Benar-benar mengganggu waktu istirahat Stella saja. Stella kembali memejamkan matanya, menulikan telinganya. Stella benar-benar lelah dan tidak ingin diganggu. Sedangkan diluar, Leon terus menekan bel apartemen Stella. “Nona Stella sedang tidak ingin diganggu, silahkan datang besok” ujar Will sopan membuat Leon mau tak mau melangkah pergi. Leon ingin protes pada bundanya karena membawa Stella hingga kelelahan, Sementara didalam apartemen Stella sudah tidur dengan nyenyak. $$ Leon tidak pulang kerumah, ia langsung berangkat ke LA karena hotelnya disana mengalami kebakaran. Sebenarnya Leon tidak harus turun tangan, tapi Leon ingin melihat sendiri bagaimana keadaan karyawannya yang berada dihotel saat kebakaran. Walaupun Leon gila dengan uang tetap saja ia juga memperhatikan para karyawannya. “Pak, ini cctv dari sebelum dan sesudah kebakaran” ujar Angel sekretaris Leon sambil memberikan ipad pada Leon. Setelah memberikan ipad pada Leon, Angel kembali ketempatnya. Sebenarnya Angel ingin menamani Leon tapi ia tidak bisa. Karena memang ia tidak bisa. Setelah melihat cctv Leon mengambil ponselnya lalu menelpon Stella. “Siapa?” Tanya Stella dengan suara yang masih mengantuk membuat Leon tersenyum. “Selamat pagi,” “Sialan ini masih pukul 3 subuh!” umpat Stella ketika sadar ini masih dini hari. “Aku ingin memberitahumu kalau aku akan merindukanmu, kuharap kau juga akan merindukanmu” Diam, Stella teterdiam disebrang sana. “Memangnya kau kemana? Masih dibumikan?” “Tentu saja sayang, aku sedang dalam perjalanan ke LA. Ah, sekarang aku bahkan sudah merindukanmu” “Manis sekali mulutmu itu, hati-hati dan segera kembali” “Mulut ini hanya untukmu sayang, aku akan segera kembali” “Hm” “Lanjutkan tidurmu sayang, mimpi indah” “Hm” Leon senyum-senyum sendiri ketika panggilan sudah berakhir, ia secara perlahan sudah mendapat lampu hijau dari Stella. Tak jauh dari Leon, Angel menggeram tidak suka. Siapa yang baru saja ditelpon oleh bosnya? Sayang? Bahkan dengan wanita-wanita koleksi Leon yang dulu tidak ada satupun yang dipanggil Leon dengan sebutan sayang’. Siapapun itu Angel sudah membenci wanita itu. $$ Setelah panggilan dari Leon usai, Stella kembali melanjutkan tidurnya. ‘Sial’ umpat Stella kesal karena ia tidak bisa kembali tidur. “Kenapa kau tidak bertanya ada urusan apa dia disana?” “Bodoh sekali” “Astaga, sepertinya ada yang salah dengan otakku” gerutu Stella bangkit dari tempat tidur. Stella mengambil ponselnya, ia ingin kembali menghubungi Leon tapi egonya melarang. Dengan kesal Stella membanting ponselnya kedinding. ‘Aku sudah gila’ komentar Stella pada dirinya sendiri. Tbc
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN