[PROLOG & BAB 1] : PERINTAH ABSOLUT PAK YOGI & MANGO MOUSSE CAKE

4380 Kata
PROLOG “Kamu membutuhkan uang berapa?” Adelina meneguk ludah. “Seratus juta, Pak.” Setelahnya hening. Untung saja hanya bertahan selama beberapa detik. Lalu Adelina mendengar pak Yogi menghela napas dalam. Entah sikap itu untuk menunjukkan perasaan kesal, perasaan tak habis pikir atau hanya terganggu oleh sisa-sisa tepung tak kasat mata yang berterbangan di sekeliling ruang—bersumber dari baju seragam Adelina—sehingga menggelitik saluran pernapasan pria itu. Adelina. Tidak. Tau. Malah selanjutnya, pak Yogi terlihat memainkan ponselnya. Adelina semakin putus asa. Semakin bingung. Kedua kuku jari telunjuknya semakin dalam menggesek-gesek punggung ibu jarinya—sebuah kebiasaan setiap gadis itu merasa gugup. Meskipun hal itu kerap melukai bagian-bagian yang digesek itu. “Baiklah.” Tiba-tiba pak Yogi berujar. “Transaksinya sudah selesai.” Kening Adelina mengerut. “Transaksi apa ya, pak?” “Uangnya.” “Uangnya?” “Seratus juta. Yang kamu butuhkan. Sudah masuk ke dalam rekeningmu.” Adelina melotot. “PAK?!” terlalu larut dalam paniknya sehingga gadis itu lupa kalau sedang bersuara dengan nada tinggi. “P-pak Yogi, s-sepertinya bapak salah paham. Maksud saya tadi bukan hendak meminjam uang kepada bapak!” “Iya, saya tau.” Sahut pria itu tenang. Kontras dengan sikap gadis di hadapannya. “L-lalu?!” “Saya hanya ingin membantu kamu. Tapi, saya juga ingin kamu membantu saya.” Kening Adelina mengerut lagi. “M-membantu apa, pak?” “Pura-pura jadi pacar saya.” “P-pacar?!” Adelina semakin heboh. “Uangnya tidak perlu kamu kembalikan. Asal kamu mau pura-pura jadi pacar saya atau lebih baik lagi pura-pura jadi istri saya.” Adelina menganga lagi. Kali ini lebih lebar. “S-saya tidak mau!” tolaknya mentah-mentah. Mendadak pula sekujur tubuhnya merinding. Hal aneh di dunia pernah ia pikirkan. Namun, menjadi pasangan pak Yogi jauh dari jangkauan pikirannya. “Tapi, uangnya sudah masuk ke dalam rekeningmu.” “Akan saya kembalikan!” tegasnya. “Yakin?” “Yakin!” Entah kenapa jawaban tegas Adelina itu membuat pak Yogi menyeringai. Sebuah sikap yang menarik untuk pria itu telisik. “Dari mana kamu mengumpulkan uang seratus juta dalam waktu satu bulan? Rumahmu akan disita kan jika terlambat meski satu hari pun? Lalu kamu, Ibu beserta Kakakmu akan tinggal di mana?” Tidak tau. Adelina benar-benar tidak tau. Pikirannya kalut. Perasaannya pun begitu. Benar. Dia tidak mungkin mengorbankan Mama dan kak Manda hanya untuk menyelamatkan harga dirinya. Toh, hanya pura-pura. Tidak sampai menjual diri, kan? “Bagaimana?” pak Yogi bertanya lagi. Adelina menundukkan pandangannya. Kepalanya pening mendadak. Genggamannya pun refleks membentuk kepalan. Menghirup napas dalam terlebih dahulu, lalu memantabkan hati untuk menegakkan pandangannya kembali. “Baiklah, pak. Saya terima tawaran bapak.” [] BAB 1 Hari Senin pagi, di rumah. Setelah menyelesaikan kegiatannya di kamar mandi—mandi tentu saja, Adelina tidak langsung masuk ke kamarnya untuk lanjut menyiapkan diri. Malah tertarik menyusul Mama yang sedang sibuk berkutat di dapur, menyiapkan sarapan untuk mereka semua. Sebelumnya, tenang saja. Gadis itu sudah memakai baju sedari kamar mandi, kok. Meskipun hanya kaos big size andalan selama bertahun-tahun sampai warna aslinya memudar ditambah celana pendek setengah paha yang mana bagian selangkangannya sudah dijahit berkali-kali sehingga menciptakan tambalan yang sekali dilihat saja sudah membuat miris hati. "Masak apa, Ma?" tanyanya sambil menggosok-gosok rambutnya yang basah sehabis keramas menggunakan handuk. "Hm? Hari ini kamu shift pagi?" bukannya menjawab pertanyaan putri bungsunya itu, Jayana malah balik bertanya dengan topik lain. Adelina maklumi. Karena memang jika tidak ada hal yang khusus, gadis itu tidak pernah mandi pagi. Katanya percuma. Lebih baik dirapel saat sore atau malam. Menghemat air. Hehe. "Iya." Jawabnya disertai anggukan. Dan tidak perlu menunggu jawaban Mama atas pertanyaannya tadi, Adelina melihat sendiri sudah ada sepanci Sup Ayam di atas kompor yang uapnya tengah mengepul. Iseng, Adelina mencoba mengaduk-aduknya. Hanya ingin tau apa saja yang ada di isinya. Padahal ya… Itu-itu aja. Lalu, Mama pun menggetok tangannya menggunakan sendok yang tadi digunakan untuk menakar gula, garam dan penyedap rasa. "Sop Ayamnya jangan dimainkan. Tidak baik memainkan makanan." Tegur Jayana sedikit galak namun tidak menghalangi Adelina untuk memberengut sebab baru saja mendapat kekerasan mutlak di hadapan Sop Ayam nikmat buatannya. Hal itu dipikiran Adelina, sudah menjatuhkan harga diri sebagai gadis perawan. Memang terkadang pikiran anak gadisnya bisa semerawut itu. "Shift-nya bersama Ai?" tanyanya kemudian. "Ehmmm... Iya." Jawab Adelina cepat dan tidak fokus sebab terdistraksi menemukan telur dadar matang yang sudah tersaji di atas meja makan sana. Diam-diam dia mencomot satu irisan saat Jayana berdiri membelakanginya. "Berarti bekalnya harus bawa lebih banyak." Jayana seperti bergumam sendiri. Lalu bergerak cepat ke atas kabinet dapur untuk mengganti kotak bekal untuk anaknya dengan kotak bekal yang lebih besar. Adelina menghela napasnya pelan. Tak habis pikir. "Ma," panggilnya. "Apa?" sahut Jayana tanpa memberikan atensi penuh terhadap yang memanggil. Adelina menghela napas lagi. "Tidak usah segitunya. Ai tidak serakus itu." Jayana sontak mengerut kening. "Siapa bilang karena Ai? Yang Mama maksud itu, kamu. Kasian sebenarnya kalau Ai makan bersamamu. Takut tidak kebagian. Soalnya kan, makanmu banyak." Seketika Adelina menyipitkan mata penuh selidik disertai perasaan terlecehkan. Meskipun ucapan Mamanya itu 100% benar adanya. Lalu ganti Mama yang menghela napasnya. "Ai itu masih muda. Tapi, sudah hidup sendirian. Mama tidak tega." Adelina melunak. Ikut lemas. "Mama tidak usah khawatir. Selalu ada aku, Mei, Devan dan Titih yang menjaga dia, kok." Jayana malah menatap anaknya itu dengan tatapan putus asa. "Justru itu. Mama lebih khawatir kalau kalian yang jaga dia." Adelina menyipitkan matanya lagi. "Sebenarnya anaknya Mama itu, Ai atau aku?" Jayana terdiam sebentar. "Ehm," nampak berpikir. "Tidak tau, ya? Mama lupa." "Mamaaa!" Adelina seketika menggila merasa tak terima dan membuatnya semakin banyak mencomot telur dadar di atas meja. Akhirnya Jayana melihat kelakuan anak bungsunya itu. Namun, hasilnya malah dibiarkan saja. Mungkin sebagai penebus rasa bersalah, atau mungkin sudah lelah memiliki anak yang sikapnya sangat berantakan ini. "Loh, kamu shift pagi?" Amanda muncul dari arah belakang Adelina lantas menggeser piring berisikan telur dadar agar menjauh dari jangkauan adiknya itu. Dia suka juga dengan telur dadar buatan Mama. Ralat. Amanda suka semua masakan buatan Mama. Itu lah salah satu dari sekian banyak hal yang menjadi konflik tidak keren mereka selama menjadi kakak beradik. Karena pada intinya, mereka berdua sama-sama suka makan. Tidak terima piring telur dadar digeser oleh kakaknya, Adelina sontak membalik badan untuk menuntut. Namun, fokusnya teralihkan ketika melihat sosok kakaknya ini sudah berpakaian sangat rapi. Tidak seperti biasanya karena Amanda tidak pernah pergi ke galerinya sepagi ini. "Kok tidak bilang kalau hari ini shift pagi?" Amanda mengulang pertanyaannya. Adelina pun mengerut kening. "Memangnya kenapa, Kak?" "Katanya mau ikut berkunjung ke makamnya Papa. Bagaimana, sih?!" Amanda mulai jengkel. Berbanding terbalik dengan sifat adiknya yang spontanitas, Amanda memiliki sifat terorganisir. Itulah mengapa banyak yang heran dengan kepribadian mereka yang seakan terbalik jika dilihat dari pekerjaan masing-masing. Adelina sontak menepuk jidatnya. "Oh astaga iya. Aku lupa!" "Inilah akibat terlalu banyak minum Cola yang dicampur permen Mentos. Otak dan kelakuan banyak tidak benarnya. Bikin migrain saja." Amanda mulai mengomel. "Hei… Ya sudah, ya sudah." Jayana cepat-cepat menengahi sebelum pertikaian kedua anaknya ini benar-benar dimulai. Padahal Adelina sudah menyiapkan amunisi verbal yang tidak kalah fantastis untuk balik menyerang ucapan menyebalkan kakak perempuan satu-satunya itu. "Sebelum kamu pergi ke Bon Appétit, mampir saja dulu meskipun sebentar. Papa tetap akan menyukainya." Adelina dan Amanda pun mengangguk patuh dengan gerakan selaras meskipun masih saling melirik dengan lirikan tajam juga ekspresi yang tidak kalah kusut. "Lagipula, sudah tau shift pagi masih saja belum siap-siap jam segini!" Amanda melanjutkan omelannya sembari tanpa ampun memukul keras p****t adiknya itu. Untuk yang satu ini, Adelina tidak bisa berkilah lagi. Mengaku nakal karena terlalu asyik mencomoti telur dadar sampai lupa waktu. Adelina pun cepat-cepat undur diri sambil bercengenges ria. Dia tau ekspresi wajahnya akan terlihat menyebalkan di mata kakaknya. Tapi, memang sudah menjadi hobiku membuatnya kesal. Bagaimana, dong? Hehe. [] Waktu membuka mata setelah selesai berdoa, Adelina melirik kakaknya yang tengah berdiri di sampingnya—masih berdoa dengan sikap yang sangat tenang. Sembari menunggu, dia edarkan pandangan ke penjuru area pemakaman yang masih sangat sepi pagi hari ini. Bahkan bisa dibilang, cuma ada mereka berdua saja sebagai pengunjung selain satu orang penjaga yang sempat mereka sapa sebelum masuk tadi. Kalau dibilang mereka sering datang ke sini, tidak juga. Tapi, kalau dibilang jarang pun, tidak juga. Mereka biasa datang saat momen-momen tertentu saja. Seperti salah satunya, saat perayaan hari ulang tahun. Tapi, pagi ini, mereka datang di luar momen itu. Kemarin malam, tiba-tiba Amanda mengajak adiknya datang berkunjung ke sini. Katanya, rindu. Baiklah. Meski Papa sudah pergi 10 tahun lalu. Masing-masing hati mereka masih berat untuk melepaskan. Papa adalah sosok spesial sepanjang hidup mereka. Penderita diabetes tipe 2 dengan komplikasi gagal ginjal. Sepanjang masa kecil mereka, Mama selalu takut membiarkan anak-anaknya mengkonsumsi makanan manis; takut berakhir sama seperti Papa. Itulah sebabnya, mereka tidak pernah merayakan hari ulang tahun dengan kue tart. "Ada atau tidaknya kue tart di perayaan hari ulang tahun kalian, hal itu tidak akan pernah menjamin kehidupan kalian bakal hidup lama atau tidak di dunia ini. Ketimbang memaksakan diri seperti orang lain, sebaiknya kita bersyukur saja karena masih diberi kesehatan sampai sekarang." Waktu itu umur Adelina baru 10 tahun. Ada benarnya ucapan Mamanya dulu, tetap sulit diterima sebagai anak seumurannya waktu itu. Yang ada, Adelina selalu berpikir Mamanya jahat dan pelit. Dipicu teman-temannya pula yang sering mengejek. "Masa hari ulang tahun tidak ada kue tart, cake, atau jajanan manis? Mamamu pelit sekali! Hahaha!" Adelina selalu menangis di kamar setiap hari ulang tahunnya. Amanda selalu berusaha menghibur meskipun merasakan hal yang sama. Tapi, mau bagaimana lagi? Tidak ada yang bisa melawan Mama saat itu. Meskipun itu Papa. Namun, sampai akhirnya Papa pula yang merubah segalanya. Carl Marletti Pâtissier. Itu adalah nama toko pastry yang terletak dekat dari rumah mereka. Pemiliknya orang Perancis asli. Kebetulan, istrinya orang Indonesia yang bekerja menjadi salah satu guru di International School yang juga terletak dekat dari rumah mereka. Om Carl, panggilan akrab mereka kepada pemilik toko pastry itu, meskipun bule asli, tapi bahasa Indonesianya lancar sekali. Begitu pula dengan anak perempuannya yang turut membantu mengelola toko, kak Bleu. Dapat dimaklumi karena mereka sudah tinggal di sini bertahun-tahun. Suatu hari, Papa membawa Adelina dan Amanda ke sana. Membiarkan mereka memilih pastry dan cake apapun yang mereka inginkan. Om Carl pun selalu menyambut hangat. Katanya, Adelina dan Amanda adalah anak-anak yang imut. Jadi, selalu diberi bonus Manggo Mousse Cake. Berawal dari situ, Adelina dan Amanda menjadi sering datang ke toko pastry sendirian. Selain merasa sangat dimanjakan, Adelina juga jatuh cinta dengan kelihaian Om Carl dan kak Bleu dalam membuat pastry di dapur tokonya. Saat itu, apa yang dilakukan Om Carl adalah magic di matanya. Maka, di antara umur 10 beranjak ke 11 tahun, Adelina memberanikan diri mendeklarasikan cita-citanya sebagai pâtissière (pastry chef perempuan). Awalnya Mama sangat menentang. Adelina dan Amanda yang sering berkunjung ke toko pastry saja sudah sering dimarahi. Apalagi dengan cita-cita ini? Karena Mama selalu ingin anak-anaknya menjadi tenaga kesehatan saja. Tidak usah yang muluk-muluk seperti dokter; karena biaya kuliahnya mahal sekali! Cukup jadi perawat saja karena Mama dan Papa masih menyanggupi biaya pendidikan itu. Keinginan Mama ini bukan tanpa alasan. Mama hanya mau, suatu hari nanti, Papa bisa dirawat oleh anaknya sendiri. Namun, Papa membela Adelina. Katanya, biarkan dia memilih jalannya sendiri. Toh, sudah ada Amanda yang benar-benar siap lanjut kuliah keperawatan selulus SMA nanti. Cukup Amanda saja, ujar Papa. Kalau mengingat semua itu sekarang, Adelina selalu merasa bersalah terhadap Kakaknya. Karena waktu itu Adelina sangat menyadari pengorbanan Kakaknya yang ingin kuliah jurusan sastra demi menuruti kemauan orang tua dan menyelamatkan impian adiknya yang ingin menjadi pâtissiére. Tapi, kenyataannya, waktu itu umur Adelina baru menginjak 13 tahun dan kak Manda baru saja masuk semester 1 kuliah keperawatan. Papa mendadak kehilangan kesadaran sewaktu hemodialisa rutinnya sebab mendapatkan serangan stroke. Hal ini membuat Papa koma selama 3 hari. Dan yang lebih buruk lagi, pada hari ketiga, pecahnya pembuluh darah di otak Papa tidak bisa ditahan lagi. Tepat pukul 6 sore, Papa dinyatakan meninggal. Mama, Amanda dan Adelina sangat berduka. Duka ini terus menyelimuti sampai berbulan-bulan lamanya. Apalagi Adelina juga menerima kenyataan bahwa ‘Carl Marletti Pâtissier’ tutup sebab Om Carl dan keluarganya harus kembali pulang ke Prancis. Maka, tahun itu, Adelina selalu mengingatnya sebagai tahun di mana dia kehilangan banyak hal. [] "Ayo kita cepat pergi. Nanti kamu terlambat ke Bon Appétit." Ajak Amanda sesaat dia selesai berdoa. Adiknya itu lantas menyipitkan kedua kelopak matanya. "Padahal aku yang dari tadi menunggu kakak selesai berdoa." Amanda sontak terbahak dan mengakui kesalahannya. Mereka berdua pun mulai melangkah pergi; sebelumnya, mengelus-elus dulu batu nisan Papa, layaknya mengelus-elus kepala botak beliau. Hal itu merupakan hal favorit mereka dulunya. "Bagaimana Bon Appétit?" tanya Amanda tiba-tiba. Adelina menoleh sebentar sambil menyamakan langkah. "Bagaimana apanya?" "Ya pekerjaannya. Orang-orangnya. Semuanya." "Oh," Adelina mengangguk mahfum. "Biasa saja." Jawabnya cepat. "Sudah menyukai seseorang di sana?" Adelina sontak menoleh kembali sambil memasang ekspresi heran. "Dari awal aku selalu menyukai orang-orang di sana. Mereka semua adalah orang yang baik. Aku tidak paham dengan konsep pertanyaan Kakak ini." Amanda tergelak. "Kemarin Titih melapor. Pak Dana semakin gencar mendekatimu." Adelina segera menghela napas keras tak habis pikir. Dasar sahabat pengaduan… Tidak sampai 5 menit, mereka berdua akhirnya sampai di halte depan pemakaman. "Mau sampai kapan kau menjomblo?” Amanda tidak berhenti menggoda adiknya itu. Adelina mendengus. "Tunggu sampai aku sukses menjadi pastry chef.”ujarnya sambil melipat tangan di d**a. Amanda tertawa renyah sambil mengangguk-angguk mahfum. Lalu tak lama, angkutan berwarna biru tua melaju mendekati mereka. "Oh. Itu angkutanku." Tunjuknya sambil bersiap-siap. "Baiklah. Hati-hati di jalan. Jangan lupa, mulai buka hati untuk pak Dana." "Kakak?!" Adelina sontak melotot sebab risih. Amanda malah terkekeh gemas. "Aku pergi dulu." Pamitnya sebelum masuk ke dalam angkutan yang sudah berhenti tepat di depan mereka. "Ya." Amanda langsung melambaikan tangannya saat Adiknya itu sudah aman masuk ke dalam kendaraan umum itu. Dia melambaikan tangannya yang langsung dibalas sambil tersenyum simpul. Angkutan yang dinaiki Adelina pun perlahan pergi. Pandangannya lurus menatapi sosok kakaknya yang semakin kecil di luar sana. Amanda adalah kakak perempuan yang tidak kalah spesial dalam hidupnya. Meskipun mereka sering bertengkar hebat, Amanda tetaplah kakak yang selalu mendukung dan melindungi adiknya. Sebenarnya, Amanda adalah seorang janda tanpa anak. Dia menikah di usia 23 tahun dengan pria asal Australia. Bahkan sempat tinggal di sana sampai akhirnya bercerai 2 tahun yang lalu. Setelah bercerai, Amanda berhenti bekerja sebagai perawat dan mulai fokus membangun impiannya sebagai pelukis. Tapi, itu bukan berarti Amanda tidak memiliki penghasilan apa-apa. Sepulang dari Australia, Amanda mencoba membuka galeri seni. Syukurnya, hal itu berjalan dengan sangat baik sampai saat ini. Awalnya Mama tidak terima Amanda berhenti bekerja begitu saja. Sebenarnya, Mama juga tidak pernah terima Amanda nekat menikah di usia muda. Tapi, semuanya sudah terlanjur. Sekarang Mama sudah menerima semuanya. Adelina pun selalu mendukung keputusan kakaknya itu. Asalkan baik dan tidak menyimpang, dia akan selalu mensupport kakak perempuan tangguhnya itu. [] "Selamat pagi, Adelina." Jujur aja, gadis itu terkejut setengah mati tiba-tiba mendengar suara tepat di belakang telinganya sesaat turun dari angkutan umum. Tapi, dia segera tau itu suara siapa. Suara pak Dana. Sous Chef di dapur Bon Appétit. Salah satu atasannya di Bon Appétit. "Selamat pagi, pak Dana." Adelina membalas dengan sopan. Tersenyum simpul. Jika penasaran bagaimana sosok pak Dana, sebenarnya pria itu tergolong cukup menarik untuk seusianya. Tampan, tegap dan gagah. Yang Adelina tau, pak Dana seumuran dengan pak Yogi—pemilik mutlak Bon Appétit. Itu berarti, usianya sekitar 32 tahun. Tapi, dilihat dari perawakan tubuh ditambah penampilannya yang selalu rapi, beliau selalu terlihat jauh lebih muda. Apalagi kalau sudah ikut berkutat di dapur, orang yang belum mengenal beliau sudah pasti mengira pak Dana seusia Adelina atau kawan-kawannya sesama Commis Chef dan Cook Helper. "Kamu sudah sarapan?" tanya pak Dana lagi yang berusaha menyamakan langkah Adelina menuju pintu masuk Bon Appétit. Adelina menoleh sekilas. Lantas tersenyum simpul lagi. "Sudah, pak. Di rumah." Jawabnya berusaha bersikap sopan. Oke. Bukannya tidak peka ataupun sok jual mahal. Sungguh sebenarnya pak Dana adalah sosok pria yang sangat baik hati. Sejak awal Adelina bekerja di Bon Appétit, dia memang sudah merasa kalau pak Dana ada menaruh hati kepadanya. Sayang, sampai saat ini, Adelina tetap fokus mengejar impiannya menjadi pastry chef sukses yang kalau bisa membuka toko pastry-nya sendiri. Jadi, untuk menjalin hubungan cinta, bukanlah sesuatu yang tepat untuknya. "Adelina!" panggilan ceria Ai menginterupsi perhatian mereka berdua yang kini sudah berada di dalam Bon Appétit. Adelina melihat gadis itu baru keluar dari ruang ganti staff perempuan dan juga sudah memakai seragam Cook Helper miliknya. "Oh, ada pak Dana. Selamat pagi, pak." Ai langsung menyapa sosok yang masih saja berdiri di samping Adelina. "Pagi." Balasnya ramah yang tidak paham dengan senyuman-senyuman tidak jelas yang tersemat di wajah Ai—digunakan untuk menggoda Adelina dalam diam tentu saja. Adelina pun balas melotot untuk menghentikan kelakuan sahabatnya itu sebelum pak Dana yang masih di sampingnya ini sadar tentang apa yang tengah terjadi. "Oh, Dana sudah datang." Bu Yani selaku Bon Appétit's Operational Manager muncul di antara kami. Tidak heran sepagi ini, sosok wanita single seusia Mama sudah berada di Bon Appétit. Dari dulu beliau memang terkenal rajin dan sangat berdedikasi terhadap pekerjaannya. "Sebelum mulai bekerja, bisa ke ruangan saya sebentar, Dana? Ada yang ingin saya bicarakan terkait dapur." "Siap, bu." "Kenapa aku tidak di ajak?" Pak Fatih selaku Head Chef dapur Bon Appétit tiba-tiba muncul entah dari mana dengan ekspresi tidak terima. Beliau merupakan pria single juga yang seumuran dengan bu Yani. Dari dulu juga sudah terkenal tidak pernah putus asa berjuang mendapatkan hati wanita itu meski sudah ditolak berkali-kali. Berbeda sifat dengan bu Yani yang kepalang kaku, pak Fatih merupakan pribadi fleksibel dan cenderung ceriwis. Mungkin hal itu yang membuat bu Yani tidak pernah tertarik. Kasihan… Sadar diri tengah berada di antara kumpulan para atasan Bon Appétit, Adelina dan Ai cepat-cepat undur diri dan segera menjauh. Baru beberapa langkah pergi, mereka berpapasan dengan pak Yogi yang baru saja keluar dari ruangan pribadinya. Sama seperti bu Yani, pak Yogi selalu rajin datang pagi. "Selamat pagi, pak." Salam mereka bebarengan. Tidak ada jawaban. Tidak direspon sama sekali. Mereka berdua dilewati begitu saja. "Hih! Apa susahnya sih menjawab atau mengangguk begitu?" gerutu Adelina pelan. Ai terkekeh. "Positive thinking saja. Siapa tau sedang sariawan." "Sariawan kok bertahun-tahun!" Ai terbahak. "Yah mau bagaimana? Sifatnya memang sudah begitu." [] "Mamaku membawakan bekal lagi." Ujar Adelina setelah mereka sampai di ruang ganti. Ai yang menunggu tangah duduk di bangku panjang yang terletak di antara jejeran loker yang di-setting saling berhadapan, sontak girang. "Yey! Bekal apa?" tanyanya antusias. "Pokoknya segala macam yang kamu suka." "Uwww!" Ai sontak mengangkat kedua jempolnya. "Tante Jayana memang selalu yang terbaik!" Adelina sontak tertawa. "Halo, guys." Tiba-tiba, Chika; pacarnya Devan yang bekerja di sebagai waitress, datang menyapa. "Hai!" jawab Adelina dan Ai bebarengan. "Shift pagi juga?" tanya Ai kemudian. Chika mengangguk-angguk mengiyakan sambil membuka lokernya. "Chika, nanti siang makan bersama, yuk. Mama terlalu banyak membawakan bekal. Pasti tidak akan habis kalau cuman aku dan Ai yang makan." Ajaknya antusias. "Wah… Kedengaran menarik. Tapi, sayang," Chika menekuk dua sudut bibirnya ke bawah. "Devan nanti siang mau datang lebih cepat. Katanya hari ini dia masak menu spesial khusus untukku." Ujarnya lemas sambil menyatukan ke dua ujung jari telunjuknya. "Hilih. Dasar bucin!" [] Jam operasional Bon Appétit selalu dimulai tepat pukul 10 pagi. Chika sebagai waitress yang bertugas pagi ini mulai mempersilahkan pengunjung masuk sambil sesekali mengarahkan dimana tempat duduk terbaik untuk mereka ataupun mengarahkan langsung ke depan display cabinet jika ada yang ingin take away saja. Ita sebagai rekan shift Chika, sudah siap berjaga di balik meja kasir sekaligus display cabinet di mana pastry-pastry penggugah selera sudah tertata apik di sana. Ada berbagai macam sliced tart dengan beragam topping cream, buah dan kacang-kacangan. Ada pula sliced pie dengan ragam topping dan isian. Ada quiche andalan Bon Appétit dengan isian olahan bayam, ayam dan daging asap yang dibalut oleh keju kualitas prima. Ada ragam choux paste seperti eclairs dan cream puff. Dan ada juga ragam puff pastry dan croissant. Kebetulan Bon Appétit tidak menyediakan kopi yang disajikan langsung oleh barista. Meskipun menggunakan konsep café, Bon Appétit cenderung fokus menyediakan berbagai jenis pastry dengan bottled organic juice atau bottled coffe sebagai pendamping yang di-supplay langsung dari bisnis lokal setempat. Beranjak ke dapur Bon Appétit di mana semua pastry-pastry cantik itu berasal, berhubung Bara selaku Chef De Partie; yang biasanya secara langsung membimbing aktivitas dapur sedang off, maka pak Dana selaku Sous Chef yang membantu di dapur. Pak Fatih selaku Head Chef jarang sekali terjun langsung di dapur. Biasanya hanya mengurus inovasi menu terbaru yang didiskusiin terlebih bersama pak Dana dan Bara. Untuk sesama Commis Chef di dapur Bon Appétit, ada 4 orang termasuk Adelina. Sisanya Mei, Bagas dan Hadi. Hari ini, Mei dan Hadi jadwalnya off. Sedangkan Bagas bertugas shift siang nanti. Maka, selain pak Dana, ada Ai sebagai Cook Helper yang membantu Adelina pagi ini. Di dapur Bon Appétit terdapat Cook Helper; Titih, Devan dan Ai. Hari ini, Titih off. Sedangkan Devan bertugas shift siang nanti. Maka, jika ditotal, saat ini di dapur hanya ada 3 orang saja. Sekarang, Adelina sedang melakukan folding in meringue untuk membuat Meringata. Meringata adalah bahasa Italia dari Meringue Cake yang merupakan frozen dessert lezat dari whipped cream yang ber-base adonan Meringue yang di setiap penyajiannya menggunakan saus cokelat hangat. Selama Adelina sibuk folding in, Ai membantunya membuat saus cokelat hangat. Jika sudah berada di dapur, pak Dana akan berubah 100% professional meskipun sedang berada di dekat Adelina. Maka keuntungan inilah yang selalu membuat gadis itu tetap nyaman dan selalu menghormatinya. Omong-ngomong, sekarang pak Dana sedang sibuk men-dusting meja—siap-siap menguleni adonan croissant. Semuanya terasa begitu damai hingga tiba-tiba pak Yogi muncul memasuki area dapur. "Siapa yang membuat Mango Mousse Cake kemarin?" tanyanya tegas tanpa berbasa-basi. Membuat Adelina sebagai orang yang dimaksud merasa khawatir setengah mati. Ai dan pak Dana refleks menatapnya dengan perasaan yang sama. Padahal mereka bertiga pun belum tau apa permasalahannya. Apakah terdapat keluhan dari pelanggan? Apakah terdapat kekurangan? Apakah terdapat kesalahan? Tapi, kenapa pak Yogi yang menangani? Biasanya kan, selalu bu Yani? Apakah permasalahannya sangat parah? Tapi, kenapa tidak ada keributan seharian ini? "S-saya, pak." Adelina mengaku dengan takut-takut. "Oh, kamu." Pak Yogi mulai fokus ke arah gadis itu. Adelina menelan ludah. "Cepat buat lagi. Saya tunggu 30 menit. Saya akan mengunjungi Ibu saya dan Ibu saya suka Mango Mousse Cake buatanmu." Adelina melongo. "T-tapi, pak. Membuat Mango Mousse Cake itu paling cepat 1 jam." Pak Yogi terdiam sejenak. "Tinggal buat lebih cepat saja." Adelina semakin melongo. Tidak paham dengan konsep pikiran atasannya ini. "Biar saya saja yang buatkan, Yogi. Saya usahakan selesai 30 menit." Pak Dana berusaha menyelamatkan Adelina. "Tidak mau." Jawab pak Yogi cepat. "Ibu saya maunya buatan dia." Lalu tanpa sungkan menunjuk gadis yang masih terlihat kebingungan itu. Adelina tidak tau harus bersikap apa lagi. Yang jelas, permintaan pak Yogi sangat absolut selanjutnya. Sehingga dia mau tidak mau meninggalkan pekerjaan awal demi membuatkan Mango Mousse Cake khusus untuk beliau. Benar-benar seperti orang kesetanan. Bagaimana dia mengocok telur, gula beserta cake emulsifier sampai mengembang untuk dibuat menjadi sponge cake sebagai dasar. Ai membantu mengayak tepung terigu disertai baking powder yang kemudian dengan cepat dimasukkan ke dalam hasil kocokan tadi. Tidak lupa pula memasukkan lelehan mentega dan s**u, hingga akhirnya dimasukin ke dalam loyang dan di oven dengan suhu 180 derajat. Adelina belum boleh bersantai sekarang. Karena selanjutnya, dia harus membuat Mango Mousse dengan mengocok gula dan kuning telur di atas wadah air panas sampe gulanya larut. Lalu mendidihkan s**u cair dan memasukkannya ke dalam kocokan tadi untuk diaduk rata selanjutnya. Ai membantu Adelina memasukkan White Chocolate Compound dan gelatin ke dalamnya sembari Adelina terus mengaduk sampai semuanya rata. Sampai akhirnya memasukan Mango Puree kualitas prima bersama Whipped Cream secara bertahap. Mango Mousse-nya udah selesai, sekarang waktunya membuat Mango Glaze. Secara bersamaan dan teliti, Adelina memasak fresh cream beserta mango puree. Setelah semuanya mendidih, dia mencampurnya lagi dengan gelatin sampai rata. "Waktunya tinggal 10 menit lagi, Del." Pak Dana mencoba mengingatkan. Niat hati membantu malah semakin membuat Adelina tak karuan. Ai membantunya menyiapkan cetakan silikon berbentuk lingkaran dan membantu mengirisi sponge cake dengan sangat hati-hati sebab baru saja matang. Adelina mulai menuang Mousse hingga setengah cetakan penuh lalu menutupinya dengan irisan sponge cake tadi. Dia lakukan hal yang sama sampai 2 kali hingga akhirnya permukaan cake dia siram dengan Mango Glaze. Pak Yogi kembali muncul dengan tepat waktu sesaat Adelina meletakkan irisan mangga sebagai sentuhan terakhir. "Kenapa terlihat tidak keren seperti kemarin?" tanyanya setelah menilai keseluruhan Mango Mousse Cake buatan Adelina bahkan dengan tanpa menyentuhnya. Adelina meneguk ludah sebentar. "Tidak sempat didiamkan dalam lemari pendingin, pak. Waktu 30 menit bukanlah waktu yang cukup." Jawabnya jujur. "Tidak sempurna, dong." Tegasnya lagi membuat Adelina mengumpulkan segenap kesabaran jiwanya. Gadis itu akhirnya memilih diam untuk beberapa saat karena bingung hendak menyahut apa lagi. Kemudian terdengar helaan napas panjang pak Yogi. "Ya sudah. Letakkan saja di display cabinet. Saya tidak jadi mengunjungi Ibu saya." What the f**k?! Adelina seketika mengumpat dalam hati. Ai langsung ngerangkulnya agar emosinya tidak meledak. Dan pak Dana hanya bisa melongo menghadapi sikap sahabatnya itu. Sumpah demi apapun... f**k YOU PAK YOGIII!!! []
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN