Sejak kembali ke Jakarta, Luna bergerak dengan kehati-hatian seorang mata-mata yang berusaha keras mempertahankan sandiwaranya. Di siang hari, ia adalah Luna yang lelah, yang berjuang dengan skripsi, yang membutuhkan perlindungan Axel. Di malam hari, ia adalah Luna yang menunggu panggilan Hayes, yang tidur sendiri di apartemen pribadinya, namun jiwanya sepenuhnya berada di bawah kendali jarak jauhnya. Ilusi normalitas yang ia bangun terasa seperti kaca tipis yang mulai menunjukkan retakan halus, yang hanya bisa dilihat oleh mata Axel yang overprotective dan kini terlalu fokus. Axel, yang merasa dirinya bertanggung jawab atas pemulihan Luna dari 'stres akademik', mengawasinya dengan ketelitian seorang penjaga. Ia melihat setiap pergerakan kecil, setiap perubahan dalam pola tingkah laku L

