Kedua mata Vania membulat sempurna saat melihat Arkan berdiri di depannya. Ia tak pernah menyangka saat membuka pintu hal yang pertama kali ia lihat adalah wajah pemuda tampan itu. "Kakak sedang apa di sini?" Arkan tersenyum menampilkan lesung pipinya. Senyum hangatnya itulah yang selalu sukses membuat Vania merasa tenang dan nyaman. "Untuk menjemputmu. Kita berangkat sekolah sama-sama. Aku capek kalau menunggu di depan gerbang terus." Meskipun tampak bingung, Vania tetap mengunci pintu rumahnya dan mengikuti langkah Arkan yang berjalan duluan. "Kakak tidak perlu repot-repot begini. Sudah cukup kakak selalu mengantarku pulang. Lagipula aku tidak pernah menyuruh kakak menungguku di gerbang." Vania berusaha mengimbangi langkah Arkan yang lebar. "Tidak repot sama sekali. Itu inisiatif aku

