Tyaga terdiam melihat sepasang sepatu pantofel serta sandal kecil berwarna ungu muda berjejer rapi dekat rak sepatu. Sembari melepaskan ikatan sepatu, ia menghela napas. Berusaha mengatur emosi yang membanjiri hatinya sejak liburan kemarin. Soda di tangan kanan yang awalnya ingin disimpan dalam kulkas ia dibuang meski isinya masih setengah. Dia berniat langsung naik ke kamar. “Tyaga,” suara Lisla membuatnya berhenti. “Kemari. Ada yang mau kami bicarakan.” “Maaf Ma, Tyaga-” “Kakak udah pulang?” Rumi muncul dari balik tubuh Renra yang berdiri di sisi Lisla.Dalam hitungan detik, gadis kecil itu berlari menghampiri Tyaga dan menggenggam tangannya erat. “Main sama Rumi?” Senyum lembut Rumi menarik Tyaga untuk mengusap puncak kepalanya. Lalu tanpa sadar, ia mengangguk. “Tunggu ya, Kakak gant

