Ketukan palu oleh hakim di pengadilan tadi masih terngiang jelas di telinga Evans. Ia tidak menyangka bahwa hari ini, ia resmi bercerai dengan Marisa. Padahal selama beberapa bulan ini ia sudah berusaha keras untuk mengambil hati Marisa lagi. Namun, seperti sudah terkunci rapat, setitik celah pun tidak terbuka untuk Evans.
"Evans." Vania menepuk pundak Evans yang sedang duduk di sofa kamarnya.
"Ya, Bu," sahut Evans.
"Ibu tahu ini berat untuk mu. Tapi ini sudah takdir, kau tidak bisa melawannya. Dari sini kau harus belajar untuk tidak sembarang melakukan kesalahan, apalagi sampai berkhianat pada pasanganmu nantinya."
Evans menghela nafas berat. Beribu kali ia menjelaskan bahwa ia tidak berselingkuh pun orang tuanya tetap tidak percaya. Akhirnya ia memilih untuk mengangguk saja.
Namun seketika, ia pun teringat akan ancamannya pada Sharen saat pertama kali Sharen mendatangi rumahnya. Tepat dimalam kehancuran rumah tangganya dengan Marisa.
"Bu, bisakah ini tetap di sini hingga seminggu lagi?" tanya Evans.
"Memangnya kenapa?" tanya Vania.
"Aku ingin menikahi gadis itu," ucapnya serius.
"Apa? Maksud mu selingkuhan mu itu? Tapi kenapa?" Vania terkejut dengan ucapan Evans.
"Karena aku ingin memperbaiki kesalahanku. Seperti katanya, dulu aku memang mengaku sebagai pria tanpa istri. Dan sekarang aku benar-benar menjadi pria tanpa istri."
"Apa kau yakin? Dia itu sepertinya bukan wanita baik-baik. Bagaimana bisa dia tidur denganmu dan memotretnya. Dia jauh berbeda dengan Marisa yang baik dan beradab," ucap Vania.
"Aku akan membimbingnya menjadi wanita yang baik, aku akan mengajarinya bagaimana caranya menjadi istri Evans William." Tersenyum tipis.
"Baiklah, kalau kau sudah yakin, Ibu akan bicarakan ini pada ayah. Tapi, apa satu Minggu waktu yang cukup? Mengurus surat-surat itu butuh waktu."
"Kami akan menikah siri dulu, Bu, dan setelah itu aku akan mendaftarkan pernikahan kami ke KUA."
"Ya, sudah," sahut Vania. Ia pun segera kembali ke kamarnya dan menemui suaminya untuk membicarakan masalah Evans yang ingin menikahi Sharen.
Setelah kepergian ibunya, wajah Evans yang semula tersenyum berubah menjadi masam. Ia menatap tajam ke sembarang arah sembari tersenyum penuh dendam. "Kita lihat saja, w************n, seberapa tahan kau saat menjadi istri ku. Sudah ku bilang kalau kau akan menerima akibatnya."
Oh tidak, rupanya Evans merencanakan hal baru. Ia ingin menikahi Sharen hanya untuk membalas dendam akan kehancuran rumah tangganya.
Sementara itu.
"Baik, terima kasih, tolong upayakan yang terbaik untuk adikku."
Sharen mematikan panggilan teleponnya.
Ia menghela nafas panjang. "Akhirnya aku bisa membayar biaya rumah sakit adikku." Tersenyum sambil menangis saat melihat foto adiknya yang sedang koma dengan berbagai alat medis di tubuhnya.
***
Keesokan harinya, Sharen dibuat terkejut karena kedatangan Evans bersama kedua orang tuanya.
Evans dan kedua orang tuanya juga sama terkejutnya kala melihat kondisi rumah Sharen yang sangat miris. Rumah yang berlantai semen kasar, bertembok setengah dan setengahnya lagi adalah papan, genteng yang banyak lubang, dan kursi tua dan lapuk. Belum lagi wajah Sharen yang sangat kusam, tidak seperti saat pergi ke rumah Evans saat itu.
"Evans? Apa setelah putus denganmu dia meninggalkan semua yang kau beri?" bisik Vania.
"Iya, mana mungkin wanita ini tidak kau berikan tempat tinggal yang layak. Pasti dia sudah insyaf sehingga memilih tinggal di sini. Oh, anak nakal, harusnya kau tidak sejahat itu." Ellard meninju lengan Evans pelan.
'Mana aku tahu, aku juga tidak mengenalnya, tapi kalian tetap menganggap aku berselingkuh, ' batin Evans.
"Kenapa aku merasa kalian sangat senang setelah aku bercerai dengan Marisa. Apa kalian punya dendam pribadi padanya?" tanya Evans sambil melirik kedua orang tuanya secara bergantian.
"Tidak, hanya saja, sejak kau menikah dengannya, kau seperti orang bodoh yang menjadi b***k cinta. Tapi Ibu tidak memungkiri kalau Marisa adalah wanita yang berhati baik, sayang sekali kau harus berselingkuh dengannya," bisik Vania.
"Si-silakan masuk, Tu-Tuan, Nyonya, dan Tuan," ucap Sharen dengan gugup. Seluruh tubuhnya gemetaran, melangkah pun terasa sangat sulit.
Mereka semua pun masuk ke dalam rumah itu. Karena suasana siang hari dan cuaca sangat panas, tak henti-hentinya mereka mengipasi tubuh mereka dengan kipas tua yang terbuat dari bambu. Hanya ada dua, untuk Ellard dan Vania, sedangkan Evans terpaksa menahan rasa panas di tubuhnya sambil bermandikan keringat.
"Kau tinggal sendirian?" tanya Vania.
"Ya, Nyonya, sa-saya tinggal sendirian."
"Dimana orang tuamu?"
"Me-mereka meninggal karena kecelakaan sepuluh tahun yang lalu."
"Langsung saja, ya, aku ke sini membawa kedua orang tuaku bertujuan untuk melamar mu menjadi istriku," ucap Evans secara tegas. 'Aku juga ingin tahu apa rencana mu,' batinnya.
Tentu hal itu membuat Sharen terkejut. Ia tidak menyangka semua akan sejauh ini.
"Ta-tapi, bukankah kau tidak ingin melihat wajahku lagi?" Sharen menatap ragu.
"Saat itu aku emosi sesaat. Tidak seharusnya aku mengatakan hal itu.
"Ta-tapi,,,,"
"Bukankah kau selingkuhan ku? Kau melabrak Marisa karena kau tidak ingin aku tinggalkan, bukan? Sekarang aku dan Marisa sudah bercerai, maka menikahlah denganku, dan kita hidup bahagia," ucap Evans dengan senyuman liciknya.
"Sebagai orang tua Evans, seharusnya kami marah padamu karena kau telah menghancurkan kebahagiaan anak dan menantu kami. Tapi melihat kondisimu seperti ini, kami tidak tega. Apalagi Evans mengatakan bahwa dia mencintai mu. Meski kami salah telah menerima pelakor seperti dirimu, tapi kami tidak punya pilihan lain. Yang penting Evans bahagia." Vania menjelaskan.
"Kenapa kau ragu? Apa benar kau selingkuhan Evans?" tanya Ellard sambil menimbang-nimbang.
"Sa-saya selingkuhan Evans, Tuan, Nyonya. Baiklah, saya menerima lamaran Evans."
Sharen tidak punya pilihan lain, ia terpaksa menyetujuinya. Terlihat Evans tersenyum menyeringai. Sangat menakutkan bagi Sharen, itu artinya Evans punya tujuan lain.
"Baiklah, sekarang ikut kami ke rumah Evans, kalian akan menikah dua hari lagi," ucap Ellard yang langsung membuat Sharen terkejut.
"Apa? Dua hari?" Mata Sharen terbelalak mendengarnya. Ia tidak menduga semua akan secepat ini.
"Kenapa? Terlalu lama?" tanya Evans dengan tatapan tajamnya serta senyuman liciknya yang membuat Sharen langsung ketakutan.
"Ti,,tidak, baiklah, izinkan saya mengemasi barang-barang saya dulu."
"Tidak, kau tidak boleh bawa apapun, Sayang. Di rumahku kau bisa mendapatkan segalanya," ucap Evans. Ia sangat tidak ingin barang-barang kumuh yang ada di rumah itu sampai terbawa ke rumahnya. Bisa gawat kalau rumahnya terkena bakteri karena membawa barang dari tempat menjijikan itu.
"Aku hanya ingin mengambil foto keluarga ku saja," ucap Sharen pelan. Ia berusaha mengusir rasa takutnya saat ini. Ia harus terus berpura-pura bahwa dirinya memang selingkuhan Evans. Ketakutannya saat ini hanya akan membuat keluarga Evans curiga akan statusnya.
"Ambillah cepat, kami akan tunggu di mobil," ucap Evans. Ia dan orang tuanya pun pergi ke mobil menunggu Sharen.
Sharen mengambil sebuah foto kecil berisi foto keluarganya. Ia menitihkan air matanya memandangi foto tersebut. "Ini adalah konsekuensi yang harus aku terima."
Setelah itu, ia pun masuk ke dalam mobil bersama Evans dan kedua orang tuanya.