Perbedaan

1027 Kata
Keesokan harinya, Marisa bersiap untuk berangkat ke perusahaan ayahnya. Hari ini ia akan mulai aktif bekerja lagi di perusahaan itu sebagai direktur. Meskipun kejadian semalam berhasil mengguncang jiwanya, namun ia memang sangat membutuhkan pengalihan sampai proses perceraiannya selesai. Semua sudah diatur oleh pengacara ayahnya agar segera mempercepat proses perceraiannya. "Selamat pagi, Sayang." Salsa menyambut Marisa dengan sebuah kecupan di kening. Namun, saat Melisa datang, Salsa yang juga ingin mengecup kening Melisa, gadis itu langsung menghindarinya dan berpura-pura untuk memanggil pelayan agar mempersiapkan bekal untuknya. "Tumben sekali kau membawa bekal? Apakah kau berencana untuk lembur?" tanya Marisa. "Tidak, Kak, aku hanya sedang ingin membawa bekal ke kantor agar gajiku tetap utuh," sahut Melisa dengan wajah datar. Ia melirik ayahnya yang tidak mengatakan apa-apa. "Haruskah aku mengatakannya sekarang? Tunggu! Tadi malam kan aku sudah mengatakannya pada ibu. Mana mungkin dia tidak mengatakannya pada Ayah. Ah, tapi pasti ibu tidak berani karena tadi malam hati Ayah sedang memanas," batin Melisa. "Marisa, mengingat kau sudah lama tidak bekerja sebagai direktur, apakah kau tidak akan mengalami kesulitan?" Akhirnya Marko buka suara. "Tidak, Ayah, dulu, aku sering membantu Evans melakukan pekerjaan kantor. Jadi, aku masih ingat semuanya." "Kau memang anak yang sangat membanggakan orang tua. Jangan khawatir, Sayang, Ayah tidak akan membiarkan siapapun menyakitimu lagi. Siapapun dia, maka dia harus berhadapan dengan ayah. Mana ada yang boleh menyakiti seorang putri raja." Marko mengusap kepala Marisa seperti perlakuan Ayah terhadap gadis kecilnya. Marisa terkekeh mendapatkan perlakuan seperti itu dari ayahnya. Inilah yang sangat ia rindukan di rumah. Disayangi oleh ayahnya yang terkenal sangat galak dan tegas di kantornya. Dan tentu saja hal itu darah Melisa mendidih. Bagaimana ayahnya memperlakukan Marisa begitu manis tepat di depannya anak yang satunya, anak yang tidak pernah mendapatkan perlakuan manis? Melisa tidak habis pikir dengan sikap ayahnya yang seperti sengaja berbuat seperti itu di depannya. "Melisa, maukah kau pergi ke kantor bersama kakak?" Marisa menawarkan tumpangan pada adiknya yang selalu pergi bekerja dengan mengendarai sepeda motor hasilnya bekerja selama ini. Memang, saat ini ia sedang mengumpulkan uang untuk membeli mobil. Ia berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak memakai fasilitas yang ada di rumah itu untuk bekerja. Namun, sepertinya ia akan mendapatkan mobil lebih cepat dari perusahaan karena jabatannya sebagai direktur. "Tidak, Kak, aku akan naik sepeda motorku saja. Aku ada janji dengan temanku sepulang bekerja nanti." "Memangnya kau mau kemana?" "Aku kan merayakan kenaikan jabatanku sebagai direktur." "Apa? Jadi kau sudah diangkat sebagai direktur?" tanya Marisa tak percaya. "Ya, Kak, kemarin." "Wah, selamat, ya, Kakak sangat bangga padamu." Marisa mendatangi Melisa, lalu memeluknya dengan erat. Hal yang paling Melisa benci saat ini. Ingin rasanya ia mendorong kakaknya ke lantai dan memakinya dengan segala sumpah serapah yang selama ini sudah dipendamnya. "Terima kasih, Kak." Melisa mengangguk sambil berusaha tersenyum. "Selamat, ya, Nak." Salsa juga memberi selamat kepada Melisa. Ia tidak menyangka putri kandungnya bisa mendapatkan posisi sebagus itu di kantor. "Terima kasih, Bu," sahut Melisa dengan tatapan datar. Ia masih merasa kesal dengan sikap ibunya tadi malam yang sama sekali tidak peduli padanya karena masalah Marisa. Kini tinggallah Marko yang belum mengucapkan selamat sedikitpun pada Melisa. Bahkan, saat Salsa memberikan kode agar dirinya mau memberikan selamat pada Putri kedua mereka, Marko seolah tidak mendengarnya dan fokus dengan sarapannya. "Ayah." Akhirnya Marisa menegur ayahnya. "Ya, Sayang, kenapa?" Langsung menoleh ke Marisa sambil tersenyum manis. Hal yang sangat menyakitkan bagi Melisa. "Melisa baru saja diangkat menjadi direktur. Berikanlah selamat padanya." "Oh, ya, selamat, ya." Bahkan Marko tidak menyebutkan nama Melisa di dalam kalimatnya. Melisa hanya bisa tersenyum lirih melihat pengakuan ayahnya padanya. "Pantaskah seorang ayah membenci anaknya hanya karena tidak seperti yang dia inginkan? " batin Melisa dengan rasa sesak di dadanya. Ingin sekali ia menangis, namun hal itu yang akan membuatnya terasa sia-sia. "Oh ya, Sayang, nanti pergi ke kantornya bersama Ayah saja. Ayah tidak mau pria pengecut itu mengganggumu jika kau pergi hanya bersama sopir saja." "Baiklah, Ayah, aku mengerti." "Dan apa alasan memakai kacamata hari ini? Apakah kau ingin terlihat sedikit berbeda?" Marko baru menyadari bahwa Putri kesayangannya mengenakan kacamata. "Aku hanya berusaha menutupi mata yang sembab, Ayah. Mana mungkin aku ke kantor dengan keadaan mata yang seperti ini." Marko tertawa mendengar penjelasan Marisa. "Anak Ayah memang paling bisa" Mengusap kepala Marisa dengan lembut. "Nona, ini bekal anda." Seorang pelayan datang dan memberikan sekotak bekal kepada Melisa. Melisa langsung menerimanya dan segera berdiri dari tempat duduknya. Terlihat piring yang ada di hadapannya sejak tadi masih kosong, namun mereka baru menyadarinya. "Bu, Ayah, Kakak, aku pergi dulu." Melisa pun segera melangkahkan kakinya meninggalkan ruang makan itu. "Jadi dia ingin sarapan di kantor sehingga membawa bekal? Ya ampun Melisa. Ayah, ini semua karena Ayah yang tidak bisa bersikap adil pada Melisa. Bahkan, dia sudah membuktikan bahwa dirinya bisa tanpa Ayah, apa yang dia dapat? Ayah malah bersikap seakan tidak peduli dengannya." Marisa menatap ayahnya dengan serius. Ia sedikit merasa kecewa melihat sikap ayahnya yang pilih kasih terhadap kedua putrinya. "Ayah tidak ingin membahasnya, Sayang. Sebaiknya cepat habiskan sarapanmu, lalu kita segera pergi ke kantor." Marko berusaha mengalihkan pembicaraan agar tidak membahas soal kasih sayangnya pada Melisa yang selama ini tidak pernah terlihat. "Apa karena dia bukan anak laki-laki seperti yang ayah inginkan? Dia tidak pintar seperti yang Ayah mau? Mengapa harus membedakan, Ayah." Marisa menatap ayahnya dengan tatapan kecewa. Tadinya ia mengira bahwa semenjak ia menikah dengan Evans, maka Melisa akan menjadi anak kesayangan ayahnya di rumah ini. Namun, ternyata semua sama. Ayahnya masih bersikap datar dan dingin pada Melisa. "Marisa, sudah cukup, Nak. Jangan membuat ayah marah." Salsa mencoba meredam emosi Marisa. Karena ia sendiri takut suaminya akan marah dan melampiaskan semua padanya karena dirinya sudah bersumpah tidak akan pernah marah pada Marisa yang ia anggap sebagai anak yang sangat malang karena kehilangan ibunya sehari setelah dilahirkan. "Tapi, Bu.." "Sayang, sudahlah." Salsa menatap penuh harap pada Marisa. Ia berharap anak tirinya itu mau memahami situasi yang terjadi saat ini di mana ayahnya masih belum bisa menerima Melisa yang dianggap sebagai beban keluarga karena sikapnya yang bertolak belakang dengan sikap ayahnya. Marisa hanya bisa mengangguk. Ia mengerti perasaan ibu sambungnya saat ini. Wanita yang sangat menyayanginya itu tidak ingin terjadi keributan di keluarga mereka hanya karena masalah sikap ayahnya pada Melisa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN