“Baik.” Jasmine tersenyum sambil berbicara dengan seeorang di sebrang telpon selularnya. “Iya.” Kaki jenjang beralaskan high heel runcing hitam yang mampu membolongi kepala seseorang itu melangkah ringan di ruang tamu. “Tentu saja. Kenapa aku harus menolak?” Wajahnya kian ncerah. “Awas saja jika kau sampai berbohong! Akan kupastikan kau tidak akan mendapatkan kesenangan dunia lagi bersama barisan wanitamu,” ancaman yang dilontarkannya terdengar begitu serius dan meyakinkan. “Oke sampai jumpa.” Jasmine sudah bersiap akan menutup sambungan ketika suara di sebrang sana kembali menginterupsi. “Iya iya! Aku akan ajak mereka tenang saja.” Kali ini komunikasi tersebut benar-benar berakhir. “Coba tebak, siapa yang menghubungiku tadi?” Jasmine mengajukan pertanyaan itu pada pria yang tengah d

