Bab 12

657 Kata
 “Buka mulutmu,” ucap helian dengan lirih sambil menatap kedua manik di depannya yang sangat memabukkan itu. Rasanya... seolah tubuh Seina terbakar hanya dari sorot mata kuning keemasan dengan silinder berwarna hitam yang indah di tengahnya.  Mungkin bisa-bisa tubuhnya kelak akan meleh lantaran pesona Helian lebih panas daripada pengapnya gua ini. Lelaki yang bernama Helian itu semakin lama semakin memajukan wajahnya. Awalnya Seina kira Helian akan menciumnya lantaran jarak kepala mereka begitu dekat. Namun dugaannya salah. Sekilas, meskipun agak samar, Seina bisa melihat ada secercah cahaya merah yang masuk ke dalam mulutnya. A-apa yang sebenarnya terjadi dengan dirinya?  “Apa kau sudah merasa baikan sekarang?” tanya Helian kepadanya. Seina mengerjabkan mata sejenak. Perlahan, dia menyadari jika napasnya sudah mulai berangsur-angsur membaik. Rasa pengap di ruang ini juga perlahan berkurang. “A-aku…Tadi… apa yang kau lakukan? “ tanya Seina tergagap karena masih belum mengerti keadaan. Dan yang masih menjadi pertanyaan di benak Seina adalah... tadi itu cahaya apa?  Helian hanya tersenyum. Tadi dia memberikan 'aura merah' ke dalam tubuh Seina sehingga wanita tersebut bisa bernapas dengan baik dan kini tubuhnya pun juga bisa menyesuaikan diri dengan kondisi sekitar. “Hanya memberimu napas buatan.” Keadaan Seina kini berangsur angsur pulih. Tubuhnya sudah merasa agak baikan. Namun tanpa Seina ketahui, tubuh Helian perlahan mulai teras sakit. Helian memang sedang dalam masa bertapa, dia tidak boleh mengeluarkan kekuatannya berlebihan—termasuk memberikan Seina sedikit sihirnya pun seharusnya tidak boleh karena hal tersebut bisa mengurangi energinya. Helian melirik sekilas wanita tersebut. Awalnya Helian ingin membunuh saja dia. Membelitnya sampai tulang-tulangnya remuk dan hancur seketika . Tapi sepasang mata cokelat indah miliknya mengingatkan Helian akan sesuatu. Kedua manik kecoklatan itu benar-benar mirip sekali dengan manik mata milik ibunya yang sudah meninggal. Keanggunan Seina juga membiuskannya. Sehingga entah mengapa hal tersebut menggerakkan empati Helian untuk membiarkan wanita itu agar tetap hidup. “Kalau begitu istirahatlah sampai tubuhmu pulih secara total.” Ketika Helian hendak beranjak dari ranjang. Seina memegang erat ujung baju Helian untuk mengucapkan terima kasih kepadanya. “Helian. Terima kasih karena telah menyelamatkanku. Aku berhutang budi kepadamu. Mungkin jika tidak ada kau, aku sudah mati saat ini,” ucap Seina sembari mendongak dan tersenyum kepadanya. Helian merasa kesusahan menelan luda. Pipinya menghangat mendengar suara sehalus sutra yang terdengar indah di telinganya.  Mana bisa dia mengenyahkan wanita ini dari pikirannya. “Tidak masalah,” ucap Helian dengan acuh padahal hatinya tidak demikian.  Sekarang malahan Helian yang merasakan kepanasan. Kepanasan oleh hasrat yang entah mengapa membara seperti ini. Mungkin ini semua efek musim semi di mana kebanyakan ular melakukan musim kawin.  Mata Helian menyala, kemudian redup kembali. Untung saja wanita ini tidak menyadarinya. Dia harus cepat-cepat ke sarangnya dan melakukan bertapa untuk meredam hasratnya. Namun ketika ia hendak melangkah lagi wanita itu memanggilnya membuat langkahnya terhenti seketika. “He-Helian… Tunggu!” panggil Seina dengan ragu. Sekilas Helian menengok ke belakang. “Ada apa? Kau butuh sesuatu?” Badan Seina masih terasa lemas meskipun pusing dan rasa dehidrasinya sudah mulai menurun. “Helian... Bisakah kau membawaku untuk keluar sebentar dari tempat ini? Aku… aku ingin menghirup udara segar.” Awalnya Helian ingin tidak mengindahkan keinginan wanita itu. Ada rasa takut jika tiba-tiba wanita itu kabur jika Helian membawanya untuk keluar dari goa. Namun melihat wanita yang belum Helian ketahui namanya itu terlihat sangat menderita dan pucat pasi membuat Helian tidak tega. Akhirnya dia luluh juga dan menganggukkan kepala kepada Seina. Lagi pula, kalau dipikir-pikir lagi. Dia manusia, tubuhnya tidak bisa menyesuaikan tempat ini dengan cepat. Helian mendekat dan menggendong Seina ala pengantin baru membuat pipi Seina memerah karena diperlakukan seperti itu lantaran Seina selama ini tidak pernah dekat dengan lelaki mana pun. “A-aku bisa jalan sendiri. Turunkan saja aku,” ucap Seina dengan malu. “Diamlah dan menurut saja.” “Tapi… bagaimana jika wanita tadi melihat kita?” “Diam atau kujatuhkan kau ke bawah.” Akhirnya Seina menurut saja dan melingkarkan tangannya pada belakang leher Helian. Ia takut terjatuh.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN