Namun takdir belum menyetujui. Ketika mata Seina sudah berkunang, ia hanya mampu merintih menahan rasa sakit luar biasa di tubuhnya. Dia sekarat.
Dengan kesadaran yang tipis, Seina samar-samar melihat sosok lain yang tak kalah menakutkan dari para serigala yang mengerubunginya. Seina melihat ular yang sangat besar sedang membelit seekor serigala yang menyicit kehabisan napas.
Pandangan Seina mulai kabur. Sekejab, semuanya menjadi gelap gulita. Dia pingsan.
***
Helian mengoyak daging serigala tangkapannya. Darah dari serigala tersebut terasa segar sekali seolah dapat mengobati rasa dahaganya selama berbulan-bulan ini.
Setelah itu Helian menelan bulat-bulat tubuh serigala sampai semuanya masuk ke dalam perutnya. Ular piton saja mampu memakan mangsan dua kali lebih besar dari besar tubuhnya. Jelas saja Helian yang tak lain adalah seorang siluman juga bisa melakukan hal itu dengan mudah.
Kenyang sudah setelah menikmati hidangan makan malamnya yang dapat mengobati rasa kelaparannya sampai berganti musim berikutnya. Helian melihat ada seekor serigala lagi yang terkelepar di tanah karena terkena kibasan ekornya. Dipikullah serigala itu di pundak. Lumayan, bisa dijadikan untuk persediaan makanan.
Namun belum sempat Helian beranjak, ekor matanya menangkan seorang manusia yang terkapar di tanah. Helian mengangkat sebelah alisnya, tenyata ada manusia di sini. Kenapa juga tadi dia tidak melihatnya. Sangat disayangkan padahal daging manusia lebih enak daripada daging binatang hutan.
Sebenarnya Helian ingin meninggalkan perempuan itu saja. Mengingat dia sudah kenyang. Tapi sepertinya membawa pulang dua buruan tidak ada salahnya. Jika perempuan ini dibiarkan mati di sini. Maka akan menimbulkan risiko lebih banyak lagi. Bagaimana jika warga di desa merusuh di hutan belantaranya ini?
Helian berdecak. Manusia memang serangga yang sangat merepotkan dan hanya bisa merusuh.
Helian mendekati perempuan itu dan menekuk lututnya. Tanganya bergerak menyibah sulur anak rambut yang berwarna hitam karena menutupi wajahnya.
Sesaat, meskipun samar, pipi Helian menghangat setelah menaruh anak rambut dari perempuan yang pingsan itu ke belakang telinga. Cantik. Cantik sekali.
Jika kau tanya bagaimana bisa Helian tahu jika perempuan itu belum mati sepenuhnya atau hanya sekadar pingsan saja? Jelas Helian bisa, Helian masih merasakan denyutan nadi dan aliran darah dari perempuan tersebut masih normal. Hanya pahanya saja yang sudah terkoyak akibat gigitan serigala dengan berlumuran darah segar.
Helian membopongnya tubuh lemas Seina di pundak, sedangkan tangan kanannya menjinjing serigala. Lebih baik Helian membawa perempuan itu ke gua tempatnya tinggal.
***
“Tuan. Kau sudah pulang,” suara lembut itu menyapa menyambut kepulangan Tuannya.
“Apa yang kau bawa, Tuan?” tanya Fey ketika melihat Helian melempar seigala di dekat pintu masuk gua.
Fey adalah pelayan pribadi milik Helian. Tugasnya menjaga gua ini dan melayaninya—hanya dalam hal pekerjaan sehari-hari.
Fey mutup mulutnya sendiri ketika melihat ternyata Tuannya tidak hanya membawa hewan buruan pulang ke rumah namun Tuannya itu juga membawa seorang manusia ke sini.
Dengan gerakan lembut Helian membaringkan tubuh Seina di ranjang tempat tidur.
Helian menyobek dengan kasar kain celana yang menutupi paha putih Seina yang terluka.
“Apa kau punya kain penutup tubuh yang lain?” tanya Helian tanpa menengok ke belakang sama sekali. Tangannya terulur ke belakang meminta kain kepada Fey tapi Fey tidak memberi membuat Helian mengeryitkan dahi dan menengok ke arah belakang.
Apa dia tidak mendengar?
Tubuh Fey tampak memucat. Seperti ketakutan.
“Ada apa?”