“Tenang saja. Anakmu tidak akan mati. Dia hanya akan batuk darah dan kesakitan seperti itu selama bertahun-tahun,” kata Tabib setelah berpamit dan menerima dua koin emas pemberian dari Ibu sebagai biaya mengundang tabib ke rumah.
Seina marah mendengar perkataan tabib itu. Bagaimana bisa seorang tabib mengatakan hal seperti itu kepada pasiennya! Seolah nyawa manusia tidaklah penting baginya.
Seina ingin memprotes dan meminta koin emas pemberian ibunya kembali, ia berjalan dengan cepat untuk mengejar tabib tersebut.
Namun ketika Seina membuka korden penutup antara ruang keluarga dengan ruang tamu keberadaan tabib itu sudah tidak ada lagi.
Seina menelan ludah. Tidak mungkin! Kemana perginya tabib itu? Kenapa cepat sekali menghilang?
Tidak mungkin sosoknya sudah menghilang begitu saja. Apalagi secara logika tabib itu sudah tua renta. Dia juga berjalan dengan tertatih-tatih. Tapi kenapa sekarang sudah menghilang?
Tiba-tiba Seina merasa bulu kuduknya merinding.
Jangan-jangan....
Seina pun kembali lagi ke kamar Daisy dengan air muka memucat namun Seina hanya mengatakan tidak apa kepada ibunya.
***
“Daisy bertahanlah. Lusa kita akan pergi ke kota,” kata Ibu sambil mengusap mulut Daisy yang masih mengeluarkan darah menggunakan kain.
Seina mengeryit. Kenapa ibu mengatakan hal seperti itu? Memangnya ibu punya uang atau koin emas berapa bijih?
Seina menarik napas dalam-dalam. Tangannya mengepal erat. Ia membulatkan tekad untuk mencari Anggrek ungu meskipun sebenarnya kakinya gemetar ketakutan.
“Aku akan pergi ke hutan terlarang, Bu!” kata Seina dengan mantab. Ibu menatap tidak percaya dengan apa yang baru saja Seina ucapkan.
Seina kembali ke kamarnya untuk mencari sweater yang hangat serta tas rajut miliknya.
Dia sudah tidak tahan lagi melihat adiknya tersiksa kesakitan dan terus saja muntah darah seperti itu.
Meskipun Anggrek ungu adalah jenis bunga yang sangat langka. Namun Seina akan tetap mencoba.
Kemungkinannya jika Seina pergi ke hutan terlarang itu hanyalah tiga hal. Yaitu,
Pertama, mungkin adiknya akan sakit-sakitan atau mati jika Seina tidak mendapatkan bunga penawar.
Kedua, mungkin Seina yang akan mati entah dimakan hewan buas di hutan terlarang.
Yang ke tiga... atau mungkin keduanya, baik Seina ataupun Daisy akan mati dan Seina tidak akan kembali lagi dari hutan terlarang itu.
“Tidak Seina! Kau tidak boleh melakukan itu. Kau tidak boleh pergi ke sana. Kita masih punya cara lain. Kita bisa membawa Daisy ke rumah sakit kota besok,” kata Ibu mencegah.
“Omong kosong, Bu! Kita sama sekali sudah tidak punya uang sama sekali. Bahkan koin emas terakhir milik ibu sudah Ibu berikan kepada tabib tidak berguna itu!” Napas Seina berembus cepat.
“Tapi...” Ibu mencari alasan lain agar Seina tidak pergi ke hutan terlarang.
Seina keras kepala, bahkan saat ini dia sudah menyalakan lentera merah milik keluarga mereka sebagai pengganti senter.
Desa tempat mereka tinggal memang jauh dari ingar bingar perkotaan dan masih terbilang pelosok.
“Seina. Dengarkan ibu, kita masih bisa meminjam koin emas atau uang ke orang lain. Atau kita bisa menjual rumah ini dan pindah ke rumah yang lebih kecil demi pengobatan Daisy.”
Seina menggelengkan kepala. Semua orang butuh uang! Tidak ada dermawan yang baik hati mau membantu.
“Seina jangan pergi! Ini sudah malam!” Ibu memegangi lengan anaknya untuk menahannya pergi.