Belum sempat Jack membalas chat dari Jessica, tiba-tiba sebuah pesan dari Gavin masuk ke dalam w******p Jessica.
(Isi percakapan antara Gavin dengan Jessica)
Gavin : Jess, i miss you.
Jessica lantas membuka pesan w******p dari Gavin sambil menunggu Jack mengetik pesan.
Jessica : Hi, Vin.
Gavin : Kamu gak perlu membalas apa-apa, karena aku tahu kamu gak akan bisa menjawabnya.
Jessica : Sorry. Apa kamu lagi senggang?
Gavin : Ya, tiba-tiba aku kangen kamu. Sementara yang kangen sama aku cuma Monica. Sungguh naas.
Jessica : Vin, andai saja ada yang dapat kulakukan buat kamu, pasti sudah kulakukan.
Gavin : Kamu mau melakukan sesuatu untukku?
Jessica : Apa itu? Kamu gak aneh-aneh khan?
Gavin : Putus dari pacarmu dan jadi pacar onlineku. Apa kamu bisa?
Jessica : Apa? Kamu bercanda khan?
Gavin : Aku serius. Jawab saja, Jess.
Jessica : A ... aku gak bisa, maaf. Vin, bukan itu maksudku. Maksudku ...
Gavin : Aku tahu maksudmu, dan aku tadi tidak bercanda. Aku pun sudah tahu jawabanmu, jadi kurasa kamu gak perlu menjawabnya lagi.
Jessica : Vin, dengar! Tolong dengarkan aku sekali ini saja. Please.
Gavin : Apa?
Jessica : Vin, aku berterima kasih kamu baik dan tertarik padaku, tapi andaipun kita menjadi sepasang kekasih, bagaimana kelanjutannya? Pernahkah kamu pikirkan itu? Kamu begitu misterius, menutupi semua identitasmu. Kami semua hanya mengenalmu di permukaan saja. Mau kita bawa ke mana hubungan ini nantinya, Vin? Aku butuh sandaran, pelukan yang nyata. Secara jika kita jadian, bukankah hubungan kita tidak nyata?
Gavin : Rupanya itu yang kamu pikirkan. Aku mengerti sekarang.
Jessica : Vin, tidakkah kamu ingin memelukku secara nyata? Mendekapku?
Gavin : Aku tidak dapat menjawabnya, Jess. Maaf. Bukannya aku tidak ingin, tapi aku tidak bisa.
Jessica : Kenapa? Ada apa denganmu? Apa kita benar-benar tidak bisa bertemu?
Gavin : Tidak ada yang perlu kujelaskan padamu, Jess. Waktu akan menunjukkan jawabannya sendiri.
Jessica : Vin, please. Ada apa sech sama kamu? Apa yang bisa kubantu?
Gavin : Gak ada, tadinya aku hanya berharap kamu akan jadi orang istimewa dalam hatiku selamanya. Tapi aku sadar kekuranganku. Tapi, jangan khawatir kamu akan tetap jadi orang istimewa dalam hatiku.
(Saat itu, Jessica menangis, air mata jatuh membasahi layar handphonenya. Isak tangisnya tertahan karena ia tidak mau keluarganya mengetahui jika dirinya sedang menangis. Begitu juga dengan Gavin, matanya berkaca-kaca menahan sedih dan rindu yang tertahan di hatinya)
Gavin : Jess, kamu di situ?
Jess, ...
(Beberapa saat kemudian, Jessica menjawab Gavin)
Jessica : Ya, aku masih di sini. Aku lagi nangis.
Gavin : Jess, kamu jangan menangis please. Sorry, aku gak akan ungkit masalah ini lagi. Aku janji. Kamu berhenti menangis donk.
Jessica : Iya, nanti juga nangisnya berhenti sendiri. Ya udah aku mau bobo yah. Good nite, bye.
Gavin : Jess, jangan nangis lagi. Please. Tidur yang nyenyak yah. Bye.
(Dan percakapan pun berakhir)
Lalu, Jessica menyeka air mata yang masih tersisa, masih sedikit terisak ia mencoba membuka pesan masuk dari Jack.
(Lanjutan percakapan antara Jack dengan Jessica)
Jack : Girl, kamu masih online?
Girl, ...
(Lima belas menit kemudian, Jessica membalas pesan dari Jack)
Jessica : Jack, sorry. Aku tadi balas pesan dari teman dulu.
Jack : Dari teman atau Gavin? Gak apa-apa cerita aja, aku gak akan marah kok, meski sedikit cemburu. Tapi apa boleh buat, pacarku cantik jadi aja banyak yang suka.
Jessica : Iya, aku balas pesan dari dia. Tapi sekarang sudah selesai kok. Kamu gak usah cemburu.
Jack : Cemburu tandanya sayang, girl. Kalau aku gak cemburu, kamu mestinya bertanya-tanya.
Jessica : Oke, oke. Aku paham. Kamu gak tidur?
Jack : Ini mau tidur, aku sudah berbaring di atas tempat tidur. Kamu masih nulis?
Jessica : Aku sudah selesai nulis, ini mau tidur. Aku tidur dulu yah. Good nite, bye.
Jack : Bye girl. I Love You. Muachh
Jessica : Muach, I Love You Too.
(Dan percakapan pun berakhir)
Malam itu, selesai membalas pesan dari kedua pria tersebut, ia langsung mematikan handphonenya dan menaruhnya ke atas nakas. Lalu, membaringkan tubuhnya ke atas tumpukan bantal yang telah ia susun sebelumnya.
Sambil memeluk guling kesayangannya, ia memejamkan mata dan berusaha menenangkan pikirannya sembari membayangkan hal-hal indah yang akan ia lakukan bersama dengan Jack di Bali nanti. Tidak lama kemudian, ia pun terlelap dan masuk ke alam mimpi.
Pagi datang, matahari mulai menunjukkan sinarnya dan langit perlahan menjadi terang. Tetapi, udara dingin masih menelisik masuk ke dalam ruangan melalui sela-sela jendela kamar. Jessica masih terlelap tidur dan meringkuk di bawah selimut.
Saat itu, jam menunjukkan pukul setengah enam pagi, bahkan suara ayam jantan berkokok telah terdengar sejak pukul lima pagi. Mama dan Papa Jessica sudah terbangun sejak pagi tadi, begitu juga dengan Samuel yang telah terbangun karena panggilan dari game onlinenya
Tidak lama kemudian, alarm di atas nakas pun berbunyi selama beberapa menit. Jessica mulai terbangun dan dengan masih setengah sadar, ia membuka mata dan mematikan alarmnya.
Lalu, ia bangkit dari tidurnya dan duduk di atas tempat tidurnya, seraya meregangkan tubuh. Pagi itu, ia telah bertekad untuk bahagia dan melupakan semua masalah yang membuatnya sedih.
Lalu, setelah merasa cukup segar, ia mengambil handphone di atas nakas dan menyalakannya. Satu pesan masuk ke dalam Whatsappnya, dan pesan tersebut berasal dari Jack.
(Isi percakapan antara Jack dengan Jessica)
Jam 05.00
Jack : Pagi, girl. Ayo bangun terus berangkat kerja. Hari ini aku bakal ngajuin cuti, kamu juga yah. Sekalian nanti siang, aku coba cari tiket pesawat dan lainnya dech.
Jam 06.40
Jessica : Pagi, Jack. aku baru bangun. Ini mau mandi terus siap-siap. Oke, hari ini aku ngajuin cuti juga. Selamat beraktivitas yah. Love you.
Jack : Love you too baby. Aku siap-siap dulu yah.
(Dan percakapan pun berakhir)
Jessica lantas berdiri dari tempat tidurnya dan berjalan masuk ke dalam kamar mandi dengan langkah lunglai sambil sesekali menguap. Ia lalu mengawali aktivitas pagi itu dengan menggosok gigi, lalu mandi.
Selesai mandi, ia mengambil pakaian kerja dari dalam lemari bajunya. Kemudian, duduk di depan meja riasnya dan mulai merias wajahnya perlahan sambil sesekali menatap pantulan wajahnya dari kaca untuk memastikan bahwa riasan wajahnya sudah cukup bagus.
Selesai merias wajah, ia meraih tas kerjanya, memeriksa isinya kemudian memasukkan handphone beserta tas make up ke dalamnya. Lalu merapikan tempat tidurnya dan berjalan keluar dari kamar.
Ia berjalan perlahan menuruni tangga, lalu berhenti di ruang makan. Pagi itu, Papa Jessica dan Samuel belum duduk di meja makan, sementara sang mama masih sibuk di dapur. Untuk menghemat waktu, Jessica menarik kursi meja makan dan duduk serta menikmati sarapan terlebih dahulu.
“Mom, aku makan duluan yah. Lapar,” teriak Jessica dari arah ruang makan.
“Ya, sebentar lagi juga papamu dan Sam turun. Atau kamu panggil mereka. Ayo sana!” jawab sang mama yang masih berkutat dengan kesibukannya di dapur yaitu menyiapkan bekal makan untuk Papa Jessica.
Jessica berjalan ke pinggir tangga dan mulai memanggil sang papa dan adiknya agar segera turun dan sarapan bersamanya. Tidak lama kemudian, Papa Jessica dan Samuel turun ke lantai satu dan bergabung dengan Jessica dan sang mama di meja makan.
Setelah selesai menyantap makan pagi, Jessica berangkat ke kantornya diantar oleh sang papa. Ia turun di depan pintu gerbang kantor, lalu melambaikan tangan pada sang papa yang melajukan mobilnya menjauh dari pintu gerbang.
Jessica berjala masuk ke dalam kantornya dengan perasaan yang riang gembira. Rupanya pagi itu, semua rekan kerjanya telah datang dan masih berbincang sebelum jam kerja dimulai. Saat itu, waktu menunjukkan pukul tujuh lewat empat puluh lima menit.
“Morning guys,” sapa Jessica pada teman-temannya.
“Morning, Jess.”
Saat Jessica menaruh tas kerjanya dan menyalakan komputer di mejanya, Panda dan rekannya yang lain memanggil dirinya untuk ikut berbincang.
Demi menjaga hubungan baik dengan rekan sekantor, Jessica menghampiri teman-temannya dan ikut berbincang. Di tengah perbincangan ia menyampaikan rencananya untuk mengambil cuti selama satu minggu ke depan.
Rekan kerjanya yang kebingungan dengan sikapnya yang tak biasa yaitu mengambil cuti, lantas bertanya, “Tumben ngambil cuti, memang ada apa?”
“Aku mau berlibur ke Bali,” sahut Jessica singkat.
“Sama siapa?” tanya Panda serius.
“Hmm ... bareng Jack Christian yang waktu itu kemari. Aku sama dia sudah jadian,” jawab Jessica gugup menunggu reaksi teman-teman sekantornya.
“Apaaa!! Kok bisa sech? Sejak kapan loe dekat sama dia?” tanya salah seorang rekannya.
“Ceritanya panjang, nanti waktu makan siang aku ceritain,” jawab Jessica.
Waktu kerja pun mulai, semua orang kembali ke meja kerjanya masing-masing, begitu juga halnya dengan Jessica. Satu jam setelah kerja dimulai, Jessica masuk ke dalam ruangan Pak Hans dan mengajukan cuti selama satu minggu.
Pak Hans yang mengetahui kinerja Jessica lantas langsung menyetujui pengajuan cuti Jesica sekaligus bertanya, “Mau ke mana, Jess? Kok cutinya lama sekali satu minggu.”
“Mau ke Bali pak,” jawab Jessica singkat.
“Dengan siapa? Keluargamu?”
“Bukan. Tapi, dengan Jack Christian, rekan bisnis Pak Hans. Kami jadian, pak.”
“Apa! Serius ini? Sejak kapan?”
“Serius, pak. Sejak beberapa hari lalu. Ceritanya panjang.”
“Oke, oke. Saya turut berbahagia, semoga hubungan kalian langgeng sampai jenjang pernikahan. Saya turut berbahagia untuk kalian berdua.”
“Makasih, Pak. Kalau begitu, saya pamit dulu.”
“Silahkan.”
Setengah hari telah berlalu, tepat satu jam sebelum jam istirahat, handphone Jessica berbunyi. Rupanya satu pesan masuk ke dalam Whatsappnya.
(Isi percakapan Jack dan Jessica)
Jack : Girl, kamu mulai cuti kapan?
Jessica : Besok sudah mulai cuti. Kamu sudah dapat tiket pesawatnya?
Jack : Good, besok kamu bisa berangkat ke sini, aku jemput di stasiun kereta. Sebentar aku klik pemesanan dulu.
(Lima menit kemudian)
Jack : Girl, kita berangkat rabu pagi dari Bandara Cengkareng ke Bandara Ngurah Rai jam tujuh lewat empat puluh lima menit, naik Pesawat Garuda. Sekitar dua jam penerbangan kita sampai di Bali.
Jessica : Oke, kelas apa Jack pesawatnya?
Jack : Kelas bisnis.
Jessica : Hah? Tiketnya khan mahal sekali.