Chapter 7 : Anggaplah Ini Sebuah Kencan

1666 Kata
Oh ... yesssss. Seketika jiwa jomblo Jessica bersorak kegirangan tatkala mengetahui jika tamu yang akan ia temani makan siang adalah Jack Chrsitian. ‘Semua cewe-cewe di sini bisa histeris nech begitu tahu gue yang nemenin Jack hadeeh,’ batin Jessica seraya menghela napas panjang dan berbalik berjalan menuju meja kerjanya. Lalu, seorang teman kerjanya yang biasa dipanggil Panda merasa keheranan dengan tingkah laku Jessica yang tidak heboh seperti mereka semua ketika melihat pria tampan. Lantas, Panda pun bertanya, “Jess, ada cowo cakep di depan. Loe gak tertarik?” “Tertarik sech iya, tapi gue lagi gak bisa heboh kayak kalian. Seharian sibuk, badan gue capek. Nanti juga dia masuk ke dalam ruangan kita, nah nikmatilah pemandangan langka ini,” jawab Jessica sambil mengumbar senyum jahilnya. “Terus tadi loe dipanggil ke dalam ruangan Pak Hans ngapain?” tanya Panda penasaran. “Gue diminta nemenin makan siang tamu kita yang tampan itu ha ... ha ... ha ...” tawa Jessica yang diikuti pandangan tajam semua mata seluruh karyawan wanita yang mendengar pembicaraannya dengan Panda. “Whattt? Serius? Ahh ... mau donk, masa sech hanya loe yang diminta nemenin. Kapan giliran gue yah Lord,” ucap Panda sambil merengut sedih. “Nanti ada saatnya sendiri buat masing-masing dari loe. Sekarang giliran gue dulu,” jawab Jessica kegirangan. Tidak berapa lama kemudian, Jack masuk ke dalam ruangan mereka sambil melemparkan senyum manisnya kepada semua karyawan. Para karyawan wanita terpukau melihat ketampanan dan senyum manis nan seksi dari pria yang berjalan di hadapan mereka. Lalu, Jack masuk ke dalam ruangan Pak Hans. Mereka berdua berbincang cukup lama di dalam, sementara Jessica menunggu Jack dengan sabar di meja kerjanya. Dua puluh menit kemudian, Jack keluar dari ruangan dengan ditemani oleh Pak Hans yang berjalan di sebelahnya. Kemudian, Pak Hans yang belum mengetahui jika Jack dan Jessica pernah bertemu sebelumnya mengajak pria tampan tersebut menghampiri meja kerja Jessica. “Jess, perkenalkan. Beliau adalah Manager Area Perusahaan Importir dari Jakarta, namanya Jack Christian.” Jack menyodorkan tangannya ke arah Jessica dan seulas senyum tergambar di bibirnya. “Salam kenal Pak Jack, saya Jessica. Hari ini Pak Hans meminta saya untuk menemani Anda makan siang di luar,” ucap Jessica yang tersipu malu karena Jack terus memandangi wajahnya. ‘Ga kuat aku ya Lord dipandangi terus seperti ini. Astaga dragon,’ batin Jessica. “Oke, karena kalian sudah berkenalan, silahkan berangkat sebelum hari semakin siang.” Pak Hans mempersilahkan Jack berjalan terlebih dahulu, diikuti oleh Jessica yang berjalan di belakangnya. Sebelum keluar dari ruangan kantornya, tidak lupa Jessica melambaikan tangan kepada semua teman kerjanya seraya berkata, “Dah guys, gue berangkat dulu yah. Wish me luck ha ... ha ... ha ...” “Wooo, enaknya makan siang ditemani Cogan (cowo ganteng), jangan lupa oleh-oleh buat kita,” seru teman-teman kerjanya dari balik meja kerja mereka. Jessica bergegas menyusul Jack dan Pak Hans ke area parkir kantor. Rupanya siang itu, Jack akan mengendarai mobilnya sendiri dan tidak bersedia untuk naik ke dalam mobil kantor milik perusahaan tempat Jessica bekerja. Jack masuk ke dalam mobilnya, diikuti oleh Jessica yang duduk di kursi penumpang depan. Lalu, keduanya melambaikan tangan ke arah Pak Hans. Jack pun melajukan mobilnya menjauh dari area kantor Jessica. Jessica sangat gugup dan menjadi salah tingkah, ini pertama kali baginya berada dalam satu mobil bersama dengan seorang pria setelah lima tahun lamanya menjomblo. Pikiran Jessica buyar seketika, rasa canggung mendominasi suasana di dalam mobil. Lalu, Jack berinisiatif memulai pembicaraan terlebih dahulu. “Jess, di restoran mana kita akan makan siang?” tanya Jack yang menoleh sesaat ke arah Jessica. “Di Picknick Cafe, Jalan Pasirkaliki No.176 (Lantai 4). Tempatnya bagus dan instagramable banget buat selfie gitu, Jack. Aku sudah pesan tempat di sana. Kamu tahu jalan khan?” tanya Jessica seraya mencoba mencuri pandang ke arah Jack yang sedang fokus menyetir. ‘Lord, dari samping aja tampan gitu. Untung jantung gue masih di tempatnya,’ batin Jessica. “Oh, aku baru tahu tempat itu. Ide bagus juga tuh. Aku tahu jalan di Bandung, sejak dulu sering main ke Bandung.” Jack tetap fokus menyetir tanpa menyadari jika Jessica menatapnya tanpa berkedip. “Sudah mau sampai, itu kan di seberang kita gedungnya? Betul gak?” tanya Jack. “Ya, betul.” Jessica bergegas merapikan baju kerjanya dan memakai tasnya. Setelah memakirkan mobil, keduanya turun dan berjalan memasuki gedung, lalu naik ke lantai empat. Jack mempersilahkan Jessica untuk berjalan terlebih dahulu. Gadis cantik berkulit putih itu merasa sedikit berdebar saat berjalan di depan Jack. Setelah berada di depan pintu masuk Cafe, seorang pelayan wanita lantas membukakan pintu untuk mereka. Setelah Jessica menyebutkan nama pemesan, sang pelayan segera mengantar mereka berdua ke tempat duduk yang telah dipesan sebelumnya oleh Jessica. Mereka duduk di area yang lebih tertutup sehingga tidak terkena silau dari sinar matahari. Tidak lama kemudian, pelayan wanita yang sama datang dan mengantarkan buku menu. Jack dan Jessica membuka dan melihat menu yang tersedia. Jack langsung memesan Hot Plate Beef Rice dan Espresso, lalu pria tampan tersebut memandang Jessica, terdiam seraya menunggu sang gadis mengucapkan pesanannya. Lalu, Jessica memesan Sirloin Fried Rice dan Cappucino. Setelah mencatat semua pesanannya, sang pelayan pun pergi. Kini mereka berduaan kembali, suasana canggung kembali mendominasi keduanya. Jessica masih tidak berani menatap wajah Jack. Rupanya pria tampan ini menyadari hal tersebut, terlintaslah dalam pikirannya untuk menjahili gadis manis di hadapannya. Seulas senyum jahil tergambar di bibir tipisnya. Jack lantas berpindah tempat duduk mendekati Jessica, menyadari jika kini mereka berdua duduk bersebelahan, membuat Jessica semakin gugup, keringat dingin keluar membasahi telapak tangannya dan wajahnya tampak sangat gugup. “Jess.” Jack memanggil dengan lembut nama sang gadis cantik berkulit putih di sebelahnya. Matanya terus menatap dengan seksama wajah Jessica dari samping. “Y... ya, Jack.” Jessica berusaha menoleh menatap Jack. Saat wajah Jessica menoleh ke kiri untuk menatap Jack, rupanya pria tampan berbadan tegap tersebut mendekatkan wajahnya ke wajah Jessica hingga kini wajah keduanya hanya berjarak sekitar lima sentimeter saja. Jessica terperanjat dan pikirannya seketika menjadi buyar, jantungnya berdegup kencang, apalagi ketika matanya memandang bibir tipis berwarna merah muda milik Jack. Tangan Jessica semakin berkeringat dingin, matanya kini menatap mata Jack. Keduanya saling berpandang-pandangan. Setelah berpandangan cukup lama, Jack tertawa terbahak-bahak melihat ekspresi muka Jessica yang sangat gugup dan kaku. Tawa pria tampan tersebut sangat kencang, hingga pelayan yang berjaga di pintu masuk cafe menoleh ke arah mereka. Jessica menutupi wajahnya menggunakan tote bagnya, sementara tangan kirinya menyentuh bibir Jack seakan berkata untuk berhenti tertawa. Jack yang menyadari kekonyolannya, langsung menghentikan tawanya dan menarik tote bag milik Jessica menjauh dari wajah sang gadis cantik berkulit putih tersebut. “Sorry, Jess. Aku keterlaluan yah? Aku gak tahan pingin jahil soalnya kamu lucu banget, keliatan gugup gitu ha ... ha ... ha ... Jangan gugup donk , Jess. Masa kamu gugup pada pria tua sepertiku?” ujar Jack sambil menatap lekat wajah Jessica. “Gak kok, gak keterlaluan. Gak apa-apa. Umurmu berapa, Jack?” tanya Jessica penasaran. Tidak lama dua orang pelayan wanita datang mengantarkan pesanan makanan mereka, lalu Jack mengambil gelas berisi Espresso miliknya dan langsung menyeruputnya.   “Tebak donk, gak seru kalau aku kasih tahu,” ucap Jack sambil menikmati minuman Espressonya. “Hmm ... kamu menyebut dirimu tua, apa kamu berumur tiga puluh tahun lebih?” jawab Jessica penasaran. “Ha ... ha ... ha ... yup betul, tepatnya aku berumur tiga puluh tahun.” Jack menaruh gelas berisi Espresso miliknya ke atas meja. “Menurutku kamu belum tua, Jack. Kamu hanya terlalu merendah. Aku saja bahkan sudah berumur dua puluh lima tahun.” “Kamu masih muda, Jess. Kamu cantik, manis, energik, dan sangat polos. Oia, ayo kita makan sebelum makanannya dingin.” Siang itu, keduanya tidak banyak berbicara selama menyantap makan siang, setelah menghabiskan makanan, Jack langsung meminta bill pada pelayan wanita yang berdiri dekat kasir. Saat hendak membayar makanan mereka, Jessica melarang Jack dan langsung mengeluarkan uang dari dalam tote bagnya. Namun Jack tetap memaksa untuk membayar makanan mereka, akhirnya Jessica mengalah. Lalu keduanya berjalan keluar dari dalam cafe dan masuk ke dalam mobil. Suasana di dalam mobil masih tetap canggung, jantung Jessica masih berdegup kencang dan ia masih tidak berani menatap wajah Jack. Tiba-tiba sebuah pertanyaan dari Jack membuat Jessica semakin gugup tetapi sangat bahagia. “Jess, nanti malam dinner bareng yuk. Restorannya aku yang pilih. Gimana?” tanya Jack penuh harap. “Oh ... o ... oke, jam berapa? Kamu jemput aku atau kita ketemuan di mana gitu?” jawab Jessica kegirangan dalam hati. “Kasih aku alamat rumahmu, aku antar jemput kamu. Kamu siap-siap saja, mungkin sekitar jam enam sore lebih dikit.” Lalu, keduanya saling bertukar nomor w******p, Jessica bergegas memberikan alamat rumahnya kepada Jack sambil membayangkan dinner mereka nanti malam. Pikirannya langsung melayang jauh ke hal apa yang akan lakukan selanjutnya setelah dinner selesai. Akhirnya mereka berdua sampai di depan gedung kantor Jessica. Ia bergegas turun dari mobil dan berpamitan kepada Jack seraya melambaikan tangan. Sebelum melajukan mobilnya, Jack meminta Jessica untuk menyampaikan salam pamitnya kepada Pak Hans. Lalu, mobil Jack pergi menjauh. Jessica masuk ke dalam ruangan kantornya dengan hati berbunga. Akhirnya setelah menjomblo selama lima tahun, kini dirinya akan dinner dengan seorang pria tampan di malam minggu. Sepanjang hari itu, Jessica sama sekali belum membuka pesan w******p dari group manapun, bahkan pesan w******p dari Gavin pun belum ia buka. Sore harinya setelah pulang kerja, adik Jessica ternyata telah menunggu di depan gerbang kantor. Setelah berpamitan dengan rekan kerja lainnya, Jessica dan Samuel langsung melaju pergi. Sesampainya di rumah, dengan hati berbunga, Jessica lantas masuk ke dalam kamar tidurnya dan langsung bersiap-siap tanpa memberitahu sang mama jika dirinya akan pergi ke luar bersama dengan Jack. Sore itu, ia telah membulatkan tekad untuk berdandan dengan maksimal, agar Jack terpukau oleh penampilannya. Untuk dinner malam itu, Jessica memakai rok hitam selutut yang dipadu padankan dengan blouse merah muda bermodel sabrina sehingga leher jenjang dan bahu indahnya sedikit terlihat, sepatu wedges hitam ikut melengkapi penampilannya. Sekitar jam setengah tujuh malam, terdengar suara ketukan pintu. Sang mama yang sedang bersantai dengan Papa Jessica di ruang keluarga lantas berjalan menuju ruang tamu dan membukakan pintu untuk sang tamu misterius yang belum diketahui oleh sang mama. “Malam, tante. Maaf menganggu. Aku mau menjemput Jessica, apa dia sudah siap?” Sang mama terperanjat melihat seorang pria tampan dengan wajah berseri berdiri di depan pintu rumahnya untuk menjemput anak gadisnya. Hati Mama Jessica melompat kegirangan mengetahui sebentar lagi anak gadisnya akan segera berpindah status dari jomblo menjadi kepemilikan oleh seseorang.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN