Suanasa di ruang tengah Apartemen Bima mulai hening karena hanya tersisa Darren dan Bunga. Mereka berdua saling berdiam diri dengan posisi duduk saling berhadapan. Sesekali mereka tak sengaja bertatapan, tapi kemudian sama – sama melengos untuk mengalihkan pandangan. Bunga bukan tipikal orang yang pendiam sehingga dalam situasi seperti ini membuatnya seperti terjebak, bibirnya sudah gatal ingin bicara untuk mencarikan suasana, tapi dia bingung harus mencari topik pembahasan apa karena yang dia hadapi saat ini adalah Darren. “ Bagaimana keadaanmu? ”celetuk Bunga memecah keheningan. “ Seperti yang kamu lihat. “ Sahut Darren. Bunga perhatikan bahwa Darren terlihat baik – baik saja. “ Syukurlah kalau begitu. “ Keadaan kembali hening. “ Apa punggung kamu masih sakit? “ tanya Bunga lagi.

