Titik Balik

1395 Kata
Fajar baru saja menyingsing di ufuk timur Jakarta ketika Reno keluar dari lobi Hotel Grand Mahakam. Langit masih berwarna kelabu kebiruan, menyisakan sisa-sisa embun yang menggantung di udara pagi yang lembap. Udara dingin yang menusuk tulang itu seharusnya membuat siapa pun menggigil, namun kenyataannya, kulit Reno terasa panas. Ia masih menyimpan sisa-sisa kehangatan dari sentuhan-sentuhan terlarang beberapa jam yang lalu. Rasa panas itu bukan berasal dari suhu udara, melainkan dari adrenalin yang masih mendidih di dalam pembuluh darahnya. Di dalam sakunya, amplop cokelat berisi uang lima juta rupiah terasa berat, seolah memiliki denyut nadinya sendiri yang berdetak seirama dengan jantungnya. Ia berjalan menuju pangkalan ojek terdekat dengan langkah yang sedikit limbung. Pikirannya tidak sinkron dengan langkah kakinya. Ada sebuah kekosongan yang aneh di dadanya—seperti ada bagian dari dirinya yang baru saja mati, namun terkubur di bawah gundukan kepuasan materi. Namun, pada saat yang sama, ia merasakan sebuah lonjakan ego yang belum pernah ia rasakan seumur hidupnya. Dunia di sekitarnya tampak berbeda; gedung-gedung beton yang kaku itu kini terlihat seperti kotak-kotak rahasia yang menunggu untuk ia buka satu per satu. Ia merasa seperti seorang pemenang yang baru saja menaklukkan benteng musuh yang paling sulit ditembus. Sesampainya di kamar kos, Reno tidak langsung mandi. Ia duduk di pinggir tempat tidur yang sempit, menatap amplop cokelat itu yang kini ia letakkan di atas meja kayu kecil yang catnya sudah mengelupas. Dengan tangan yang sedikit gemetar—entah karena kelelahan atau kegembiraan yang meluap—ia mengeluarkan isinya. Lembaran uang seratus ribu rupiah yang masih kaku itu berserakan di atas kasurnya yang tipis, menutupi sprei katun yang mulai memudar warnanya. Lima juta rupiah. Reno menghitungnya perlahan, merasakan tekstur kertasnya yang kasar namun menjanjikan. Hanya butuh waktu tiga jam. Biasanya, untuk mendapatkan jumlah yang sama, ia harus memeras keringat memijat setidaknya lima puluh orang pelanggan. Ia harus menempuh ratusan kilometer menembus kemacetan Jakarta yang menyesakkan, menaiki tangga-tangga sempit di rumah kontrakan, atau berdiri berjam-jam di samping ranjang pasien rumah sakit. Ia harus menghadapi berbagai macam aroma tubuh yang tidak selalu menyenangkan—dari bau keringat buruh pabrik yang asam hingga aroma minyak kayu putih yang menyengat dari pasien lansia yang malang. Namun semalam, ia mendapatkannya hanya dengan memberikan apa yang diinginkan oleh seorang wanita kesepian. Hanya dengan mengikuti instingnya sebagai pria, bukan instruksi dari buku teks anatomisnya. Reno bangkit dan berjalan menuju cermin kecil yang retak di sudut kamar. Ia melepas kaos polonya, menatap tubuhnya sendiri di bawah lampu pijar yang remang-remang. Bahunya yang lebar, otot dadanya yang terdefinisi rapi, dan garis perutnya yang kencang. Selama ini, ia menganggap tubuhnya hanyalah mesin untuk melakukan pekerjaan fisik. Ia adalah kuli pijat, seorang teknisi otot yang fungsinya adalah memulihkan kesehatan orang lain. Namun kini, setelah melihat bagaimana Shinta—wanita kelas atas yang bisa mendapatkan pria mana pun yang ia mau—begitu memuja setiap jengkal kulitnya, Reno mulai melihat dirinya dengan cara yang berbeda. "Aku bukan lagi sekadar tukang pijat," bisiknya pada bayangan di cermin. Suaranya terdengar asing di telinganya sendiri; lebih dalam, lebih berat, dan penuh dengan ambisi yang baru lahir. Ada rasa bersalah yang sempat melintas, tipis dan tajam seperti sayatan silet. Ia teringat akan sertifikat terapis yang ia bingkai rapi di dinding—sebuah simbol integritas dan etika profesi yang ia perjuangkan dengan belajar keras, mengikuti kursus saraf, dan menghafal ribuan terminologi medis demi sebuah lisensi. Ia telah mengkhianati janji itu. Ia telah mencampuradukkan pengobatan dengan pemuasan. Namun, rasa bersalah itu perlahan tenggelam di bawah gelombang kepuasan finansial dan fakta yang tak terbantahkan: ia benar-benar menikmati setiap detik saat ia menjelajahi "Abalone" milik Shinta. Ia teringat bagaimana Shinta mendesah, bagaimana wanita itu memohon agar ia tidak berhenti, dan bagaimana ia merasa memegang kendali penuh atas wanita yang secara sosial dan finansial jauh di atasnya. Rasa berkuasa itu lebih memabukkan daripada alkohol mana pun yang pernah ia sesap. Di atas ranjang hotel itu, status sosial Shinta yang tinggi menguap begitu saja, menyisakan seorang wanita yang tak berdaya di bawah tekanan jemarinya. Reno menyukai rasa itu—rasa menjadi dominan di antara dinding-dinding mewah. Reno kemudian mandi dengan air dingin yang menggigilkan, mencoba membasuh aroma minyak ylang-ylang dan parfum Shinta yang masih menempel di pori-porinya. Namun, aroma itu seolah sudah meresap ke dalam ingatannya, menyatu dengan hemoglobin di dalam darahnya. Saat ia memejamkan mata di bawah guyuran air, ia kembali melihat tekstur merah muda yang indah itu. Ia kembali merasakan kehangatan yang lembap di ujung jemarinya. Ia menyadari satu hal yang menakutkan sekaligus menarik: Ia ketagihan. Bukan hanya pada uangnya yang melimpah, tapi pada sensasi menjadi "pemuas" rahasia yang bersembunyi di balik masker medis. Sore harinya, saat matahari mulai condong ke barat dan menyisakan cahaya oranye yang redup di sela-sela gedung tinggi, Reno menerima panggilan dari pelanggan rutinnya. Namanya Pak Burhan, seorang bapak tua yang mengalami masalah saraf terjepit di area pinggang bawah. Biasanya, Reno akan segera berangkat dengan semangat seorang penyembuh, merasa berkewajiban untuk meringankan penderitaan orang lain. Namun kali ini, ia menatap layar ponselnya dengan rasa enggan yang luar biasa. Membayangkan harus memijat punggung keriput seorang pria tua, mencium aroma salep otot yang tajam dan bau balsem yang menyengat, setelah semalam ia menyentuh kemolekan sutra Shinta membuat perutnya terasa mual. Kontras itu terlalu tajam untuk ia tanggung. Ia tidak ingin tangan yang baru saja menjelajahi keindahan itu kini harus berurusan dengan rasa sakit dan penuaan yang menyedihkan. "Maaf, Pak. Saya sedang tidak enak badan," bohong Reno melalui pesan singkat. Tangannya tidak bergetar saat mengetik kebohongan itu. Prioritasnya telah bergeser secara permanen. Alih-alih berangkat bekerja seperti biasa, ia lebih memilih untuk pergi ke sebuah mal mewah di kawasan Jakarta Selatan. Ia melangkah masuk ke gerai parfum internasional, tempat udara di dalamnya beraroma kemewahan murni. Ia membeli sebotol parfum dengan harga yang dulunya setara dengan gaji seminggunya bekerja keras. Ia juga membeli beberapa helai pakaian dalam dan kaos berkualitas tinggi yang mampu menonjolkan bentuk tubuhnya dengan sempurna. Reno mulai merawat dirinya seolah-olah dia adalah barang dagangan mewah yang harus dipajang di etalase hotel berbintang. Ia menyadari sebuah hukum ekonomi baru dalam hidupnya: jika ia ingin terus mendapatkan "tips" sebesar lima juta rupiah per malam, ia harus menjaga dan meningkatkan nilai aset utamanya, yaitu tubuhnya sendiri. Setiap gram protein yang ia makan, setiap jam yang ia habiskan di gym, kini adalah investasi untuk transaksi di kamar hotel berikutnya. Malam itu, Reno berbaring di tempat tidurnya yang kini terasa terlalu kasar dan murah di kulitnya. Ia menatap langit-langit kamar yang kusam, namun matanya tidak melihat noda air di sana. Pikirannya sibuk menyusun katalog. Ia mulai memikirkan pelanggan-pelanggannya yang lain. Ibu-ibu sosialita yang sering mengeluh "lelah batin" saat ia pijat lehernya, wanita karier yang tampak haus perhatian di balik setelan kerjanya yang kaku, atau istri-istri pengusaha yang sering ia temui di lobi-lobi hotel mewah. Dulu, ia memandang mereka dengan simpati medis. Sekarang, ia mulai mengamati mereka sebagai peluang bisnis yang menggiurkan. Ia mulai melakukan profiling dalam diam: Siapa di antara mereka yang memiliki "Abalone" tersembunyi di balik sikap dinginnya? Siapa lagi yang rela membayar harga mahal untuk sentuhan yang mampu menembus batas-batas profesionalisme? Siapa lagi yang suaminya terlalu sibuk di luar negeri dan meninggalkan mereka dalam kedinginan kamar hotel? Reno tersenyum di kegelapan kamarnya yang sunyi. Ia merasa seperti seorang predator yang baru saja menemukan wilayah perburuan baru yang penuh dengan mangsa yang pasrah dan kaya. Ia baru saja melewati sebuah ambang pintu yang tidak akan pernah bisa ia masuki kembali. Pintu profesionalismenya telah tertutup rapat, terkunci dari dalam, dan ia sengaja membuang kuncinya ke dalam jurang nafsu. Di depannya kini terbentang koridor hotel yang panjang dan tak berujung, penuh dengan pintu-pintu kamar kayu yang tebal, yang di baliknya menyimpan rahasia gairah dan tumpukan uang tunai yang menggiurkan. Ia bukan lagi Reno si terapis jujur yang bangga dengan "tangan yang menyembuhkan". Ia adalah Reno, sang pemburu "Abalone", kolektor keindahan yang tersembunyi di balik lapisan kemewahan Jakarta yang fana. Dan perjalanan gelap ini, Reno tahu betul, baru saja dimulai. Ia tidak sabar menunggu ponselnya bergetar kembali, membawa notifikasi dari aplikasi dengan nomor kamar hotel yang baru. Setiap nomor kamar kini adalah bab baru dalam buku hidupnya yang semakin menjauh dari cahaya integritas. Ia siap untuk tenggelam lebih dalam, selama ia bisa merasakan kembali kehangatan kulit dan beratnya amplop cokelat di sakunya. Kehidupan barunya sebagai terapis bayangan bukan lagi tentang menyembuhkan penyakit, melainkan tentang memuaskan dahaga—dahaga para pelanggannya, dan yang lebih penting, dahaga akan kekuasaan yang kini mulai menguasai jiwanya sepenuhnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN