Bab 69 - Tidak Sebatas Teman

1257 Kata
Hari yang sibuk bagi Janu sudah semakin membuatnya kewalahan, revisi script sampai berpuluh-puluh draft. Berpengaruh juga pada shoot list yang ia susun sendiri. Belum lagi masalah datang silih berganti, entah itu berbibacara soal persiapan syuting maupun dengan Anyelir, Janu merasa sikap Anyelir yang iya-iya saja terlampau aneh. Apa respect Anyelir terhadapnya berkurang? Atau bisa jadi Anyelir lebih memilih bertindak di belakang untuk mencari tahu hal-hal yang disembunyikan? Janu menyugar rambutnya kasar, kenapa rasanya berat sekali untuk menceritakan seluruh masa lalunya dengan Bella pada Anyelir? Ini akan menjadi boomerang baginya kelak. Sudah pasti huru-hara akan menimpa hubungan mereka. Entahlah, Janu hanya bisa termenung menatap kantor Anyelir dengan nanar. Hari ini Anyelir cerita bahwa Diego ingin menemuinya setelah menyelesaikan acara survival di Papua, Diego memang the real of pecinta alam yang tidak pernah mengeluhkan keadaan. Walaupun terkenal banyak bergaul dengan orang-orang hedonis metropolitan, kalau urusan alam Diego nomor satu. Dari kejauhan, senyum terbit gadisnya begitu mengubah seisi bumi. Perasaan menyeruak dari dalam d**a seolah bermunculan bunga yang mekar menggelitik perut sampai wajah pun tak bisa berbohong untuk tersenyum manis penuh arti. Bidadari terbang ke arahnya, memasuki mobil dengan semerbak cherry blossom yang kentara. Memabukkan setiap tarikan napas, terpana sampai mengedipkan mata pun dirasa rugi. Senyum merekah seperti melati yang mekar di malam hari, putihnya bersih, wanginya semerbak, indahnya tak ada tandingan. "Nggak usah repot-repot anterin aku kenapa, sih? kamu 'kan pasti lagi sibuk!" Lantutan aphrodite-nya yang selalu menjadi candu semakin memikat hati. Seperti ada panah, berbusur cinta. Melambung tinggi dari setiap jengkal ucapan Anyelir menuju hati Janu. Sebegitu cintanya Janu pada Anyelir, perasaan yang tak terdefinisi pun turut berganti jenisnya sampai ia bingung rasa cinta ini harus dibagaimanakan. "Saya rindu kamu ... selalu." "Oh kalau itu jelas! tapi aku masih bisa nahan rindu, nggak kayak kamu nggak sabaran!" candanya yang menggelitik hati membuat Janu semakin tersenyum damai. Dewi-nya memang menggemaskan juga cantik nan rupawan. Janu langsung tancap gas menuju salah satu cafe vintage kesukaan Anyelir, pengawasan terhadap Anyelir memanglah penting bagi Janu. Ia bahkan ingin sekali menyewa beberapa bodyguard hanya untuk melindungi aphrodite-nya, tak boleh seorang pun berani menyentuh, menggores apalagi membuatnya kesakitan. Rasa posesif itu kian muncul saat dirinya sadar akan pergi selama tiga Minggu ke negeri orang tanpa Anyelir. Anyelir kenal dengan pemilik cafe yang biasa ia kunjungi, ia juga akan mengabari situasi cafe. Jika terlampau ramai Anyelir tidak akan berkunjung, sebab itu terlalu berisiko menjadikannya pusat perhatian dari segala sudut pandangan. Janu yang berganti menjadi manusia posesif meski sibuk ia harus mengantarkan gadisnya dengan selamat. "Oh Iyah ... Lir." "Kenapa?" "Selama saya pergi, saya kirim bodyguard, ya, buat kamu?" Dahi Anyelir berkerut, apa itu tidak terlalu berlebihan? Penjaga di rumahnya saja sudah mencapai puluhan, belum lagi di kantor. Anyelir memang bukan tipikal orang yang suka dijaga-jaga sampai belanja pun harus diikuti. Baginya itu terasa mengganggu, risih. Batari dan beberapa staff di kantornya tahu waktu yang tepat untuk memanggil bodyguard, tapi bukan khusus pribadi. Biasanya saat acara-acara penghargaan award, saat Anyelir menuju bandara, atau setiap kali Anyelir mengadakan panggilan mengisi acara live. Untuk perkara syuting sendiri, di lokasi tentu saja puluhan orang benar-benar menjaga ketat demi kenyamanan para artis. Walau terkadang Anyelir merasa kasihan dengan penggemar yang selalu menunggunya di lokasi syuting sampai hujan panas pun rela demi melihat Anyelir. Tapi rasanya itu sulit menghampiri mereka, jadwal Anyelir yang padat, staff yang selalu menjaga jarak. Bukan karena Anyelir yang tak ingin. "Buat apa, sih?!" protesnya. "Jaga-jaga, saya nggak mau kamu terluka sedikitpun selama saya pergi!" "Posesif!" Anyelir menghela napas panjang. "Bodyguard akutuh udah banyak, Jan ... jadi jangan sewa-sewa lagi, ya!" "Ini yang lebih pribadi, Lir ... yang fokus menjaga kamu. Yang bakal nganter-nganter kamu!" "Eh aku artis ya bukan presiden!" "Tapi kamu lebih terkenal daripada presiden," "Jan ... aku nggak suka diikutin gitu, aku juga punya privasi!" "Mereka tahu batasan kok, Lir ... pokoknya kamu harus nurut. Demi keamanan kamu, saya nggak mau kamu kenapa-kenapa!" Susah kalau sudah begini, Janu paling tidak suka dibantah apalagi hal itu bersangkutan dengan keamanan juga kesehatan. Bisa-bisa Anyelir diceramahi tujuh hari tujuh malam dengan ucapan pedas yang menyayat hati hanya karena menolak saat dikirim bodyguard. "Iya, Jan ... iya." *** Untung Anyelir bilang kalau Diego sudah datang, kalau sampai Janu tahu kenyataannya tidak seperti itu. Ia pasti akan berdiri menatap Anyelir dari ujung kaki sampai ujung kepala hanya untuk memastikan keamanannya. Walaupun ia sibuk menerima panggilan dan langsung pergi kembali ke kantor, ekor Janu masih ada di sini. Bodyguard kepercayaannya sedang duduk di dekat tangga memerhatikan Anyelir. Risih sekali. Diego sepertinya juga tak kalah sibuk, padahal jam makan siang sudah hampir habis ia tak kunjung menampakkan batang hidungnya. Di tengah sela-sela menanti Diego, seorang wanita berambut sebahu dengan polesan bibir yang merah merona menghampiri Anyelir. Tentu, Anyelir mengerutkan dahi. Orang di hadapannya pasti penting, sebab masih diperizinkan memasuki lantai dua yang pada hakikatnya Janu mem-booking tempat ini demi kenyamanan Anyelir. "Boleh aku duduk?" Anyelir yang memakai kacamata hitam mengerutkan dahi. "Si—siapa, maaf?" "Ah?" Justru gadis yang baru tiba itu mengerutkan dahi tak percaya. Dia tidak mengenalku? lagi? "Ma—maaf saya pelupa orangnya," ucap Anyelir menjelaskan. "Saya Bella." Gadis itu terduduk menghadap Anyelir. "Ah ... maaf-maaf!" Padahal Anyelir sudah berkali-kali bertemu dengannya, tapi sedikit pun ia tidak pernah memerhatikan tentang Bella. Maka dari itu Anyelir bersikap biasa saja. Seolah Bella adalah pengunjung elite cafe ini. "Tidak apa-apa, sulit ya bagi seorang artis menghafal satu-satu rekan kerjanya?" Pertanyaan Bella terdengar biasa namun bagi Anyelir itu terlalu memojokkan. "Oh ... i—iya, tentu." Rasanya canggung sekali berbicara hanya berdua dengan Bella. "Ngomong-ngomong ada perlu apa?" "Tidak ada ... aku hanya sedang mampir ke sini dan menunggu pesanan, daripada aku bosan jadi lebih baik kita ngobrol bersama. Benar?" Bella menyunggingkan senyum sinis. "Ah ... kamu tidak keberatan, 'kan?" Anyelir menggeleng pelan, sebenar ini terasa canggung. Tapi tidak enak rasanya ia tiba-tiba mengusir Bella atau mungkin menolak permintaan Bella. Berharap Diego segera sampai agar perasaan canggung ini hilang. "Tidak-tidak ... santai saja," "Ngomong-ngomong ... kamu kenal Genta di mana?" "Syuting back and kill it, saya kebetulan menjadi artisnya." Ini terlampau tidak nyaman, Bella di mata Anyelir seperti singa betina yang pandai berkamuflase pada ilalang. Siap menerkam kapan saja hewan yang melintas di dekatnya, sungguh menyeramkan. "Oh ... cinta lokasi? selalu begitu!" "Selalu?" Lagi, kerutan di dahi Anyelir semakin terbentuk bingung. "Maksudnya?" "Kami juga terlibat cinta lokasi," Matanya terasa ingin loncat, terkejut dengan apa yang baru saja diucapkan Bella. Jika benar adanya, artinya saat ini Janu dan Bella? "Tapi kal—" Bella yang menyadari, bahwa Anyelir terkejut juga mengira hal-hal yang terjadi sekarang semakin merasa puas. Tapi itu tidak sesuai dengan ekspektasinya. "Bukan sekarang, dulu maksud saya." "Memangnya kalian punya hubungan apa?" Ini saatnya Anyelir mengulik masa lalu Janu, barangkali ia mendapat pencerahan tentang Janu dari sisi Bella sebagai orang yang berperan di masa lalu Janu. Jika Janu masih bungkam soal masa lalunya dengan Bella, pilihan terakhir adalah mempertanyakan semuanya langsung pada orang yang terlibat. Tapi anehnya bagi Anyelir ini terlampau mudah, Bella yang menghampiri tiba-tiba seolah mau terbuka tentang masa lalunya. Kenapa Janu sesulit itu? "Saya dan Janu memiliki hubungan dekat, kami adalah sepas—" "BERTA BEE!" Diego yang berada di ujung tangga sudah berteriak kegirangan. Anyelir langsung berdiri dengan mata berbinar. "Hai!" Ini bukan waktu yang tepat bagi Bella, ia ikut berdiri. Mendekat ke arah Anyelir yang saling berpandangan rindu dengan Diego lantas berbisik di telinganya cukup pelan. "Kalau kamu masih penasaran, hubungi aku." Satu kartu nama Bella tersodorkan pada Anyelir. Baru saja hendak beranjak, Bella ingat satu hal yang perlu di sampaikan. "Hubungan kami tidak sebatas teman."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN