Semilir angin berembus ke dalam ruangan, sebab jendela dan pintu dari lantai ke langit terbuka untuk udara segar. Hampir semua berbahan dasar kaca, yang menjadi salah satu akses pembatas antara tempat tidur dengan balkon. Koper-koper berukuran jumbo berserakan di mana-mana, semua terisi penuh seperti orang yang akan migrasi ke negara tetangga, berlebihan memang.
Sementara sang penunggu kamar tengah menikmati secangkir kopi instan rutinitas di pagi hari sembari merapalkan nama-nama yang disematkan pada deretan tanaman hias, lebih tepatnya kaktus-kaktus mini. Sedikit mendongak, memiringkan badan untuk menghadap peliharaannya.
"Park Jimin, Bae Joohyun, Kim Jisoo, Park Chanyeol, Kim Jennie, Kim Yerim, Jeon Jungkook, Lisa, Joy, Kai, Rose—" rentetan hafalan itu menggantung.
Lantas Anyelir bangkit dari tempat bokongnya berlabuh. Berjalan mendekati hamparan kaktus-kaktus unik yang berjejer menghiasi pagar c-shape monokrom tempat favoritnya.
Atensi yang fokus tak sedikitpun beralih pada tong bulat berlapis emas berbahan dasar duri-duri tajam. Echinocactus Grusonii—salah satu kaktus paling populer sebagai tanaman aksen arsitektur dalam desain taman kontemporer, meskipun infrastruktur mansion ini terkenal lebih modern, Anyelir tetap memeliharanya, sebab memiliki bentuk yang unik.
"Mommy harus mengganti namamu Rose. Kamu kaktus, bukan bunga mawar. Lagipula tubuhmu gemuk, bulat, dan pendek! kurasa bunga mawar itu terlalu cantik untukmu," lanjutnya.
Wajahnya mendekat beberapa milimeter, gigi-gigi rapi tercetus ciri khas cengiran kuda setiap kali menghujat tubuh-tubuh unik kaktusnya, ia melakukan cactus shaming. Acap kali mengomentari setiap bentuk atau perubahan yang tercipta, kadang kala terkesan kejam, bagaimana jadinya bila kaktus memiliki perasaan? mungkin Anyelir sudah dituai banyak ujaran kebencian.
Meski begitu, ia tetap menyangi anak-anaknya—kaktus. Anyelir memang berbeda, perempuan di luar sana menyukai tenaman hias yang unik penuh warna dan indah. Sedangkan ia malah menyukai tanaman endemik khas Padang pasir yang terkenal akan ketandusannya, terlebih kaktus itu berduri, tak bisa dielus-elus sebagai tanda sayang.
"Tapi ... nggak ada lagi nama yang cocok buat kamu Rose!" Anyelir malah menghela napas. "Ah nanti Mommy pikirkan kalo sudah pulang dari hutan,"
Gadis bersurai cokelat itu sudah beralih dari Rose—Echinocactus Grusonii. Bangkit, berdiri tegak seperti presiden yang memberi mandat atau pidato formal. "Anak-anak Mommy ... maafkan Mommy, ya? Mommy terpaksa meninggalkan kalian ... jangan sedih, ya? Baik-baik bersama Omma!"
"Gue yang bakalan nggak baik-baik aja!" Sahut seseorang yang rupanya sejak tadi sudah berdiri mengamati. Menyandarkan tubuh tepat di pintu masuk balkon, menyilangkan tangan dengan wajah garang yang nampak kentara—Batari si pemarah sudah tiba.
Sadar dan tahu siapa yang bersua, Anyelir membalikan tubuh, mencetuskan senyum permohonan maaf begitu ceria. "Eh ... Sahabatku udah dateng aja,"
"Gue masih marah, ya!" Lantas ia beranjak meninggalkan Anyelir yang masih kalang kabut harus memikirkan rencana pembujukan.
"Tar!" langkahnya menyusul Batari. "Gue mau ajak Lo nan—"
"Bawa satu koper aja," ucap Batari enteng.
Anyelir berhenti merapalkan kalimat pembujukan, ia malah melotot sempurna, bahkan mulutnya setengah terbuka.
"MAKSUD LO?!"
"Ini Lo bawa sembilan koper ngapain? mau minggat, ha?!"
"Kan kita di sana hampir setengah tahun, Tar. Nanti gue ganti bajunya gimana kalo cuman bawa satu?"
"Emang Lo mau pakai sehari satu baju gitu? habis kotor lantas di buang? kayak permen karet aja, habis manis, sepah di buang. Dasar nggak punya perasaan!"
"Lah, kok bawa-bawa permen karet, sih?"
"Lah, kok Lo banyak protes, sih?" Batari mendengus kesal.
Pagi-pagi sudah dibuat darah tinggi dengan kelakuan Anyelir, bayangkan bagaimana jadinya jika ia membawa sembilan koper Anyelir dengan tubuhnya yang mungil ini? memikirkan hal itu saja sudah membuatnya lelah, apalagi melakukannya. Batari bergidik ngeri.
"Kan di sana kita juga syuting, Tar. Gue harus pakai macam-macam kostum!" Anyelir masih berusaha membujuk.
"Kostum Lo cuman satu, sepanjang syuting!"
"APA LO BILANG?!"
"Ikuti perintah gue, atau LO BAWA SEMBILAN KOPER ITU SENDIRI!" Tukas Batari dengan nada tinggi, pukulan telak mampu membuat Anyelir dibungkam. "Gue tunggu di bawah,"
Helaan napas terdengar panjang, Anyelir ikut kesal, meski tak bisa berkutik.
"Dasar Mak Lampir!" Protes Anyelir sedikit kencang kala Batari beranjak meninggalkan ruangan, namun, sepertinya gadis itu tidak tuli.
"Gue denger, ya!"
***
Entah di menit ke berapa Anyelir masih saja diam, menyumpal kedua telinga dengan earphone demi menghilangkan kebosanan kiranya dua jam lebih lima belas menuju Borneo.
Berkali-kali ia membaca artikel, tak sedikitpun menyebutkan habitat anak-anak kesayangan Anyelir. Lagipula mana ada kaktus tumbuh di hutan hujan seperti Kalimantan, sudah lembab, subur pula. Bukankah itu hal yang dibenci si tanaman berduri kecintaan Anyelir?
Matanya celingak-celinguk, masih menunggu beberapa menit sebelum burung berlapis baja berjantung mesin ini lepas landas. Aksesoris produk lunak dilengkapi bantal dan selimut membuat nyaman tubuh kala terduduk di business class seat buah hasil pemilihan pihak agensi. Ada sekat yang memisahkannya dengan kabin di sebelah, meski tombol merah ditekan akan menggeser penghalang tersebut, ia tetap membiarkan. Rupanya masih kosong, belum ada penghuni.
Si pemarah sengaja memisahkan tempat duduk, terlempar ke kabin paling belakang demi menghilang sekejap dari si pembuat masalah. Amarahnya belum reda, terbukti saat dua buah koper, Batari dorong dengan kasar. Wajahnya lisut, seperti sifon yang terkena setrika panas hingga menciut dan meleleh. Sulit sekali untuk membujuk gadis bersurai hitam itu, butuh ritual sogok-menyogok barang supaya Batari benar-benar memaafkannya.
Berhenti menjelajah pandang, kini atensi terfokus seolah ada jentikan hipnotis yang membuat kedua manik tak mau terpejam. Sosok berambut agak merah terlihat tampan, surai ikal menggelayut sedikit basah seperti tak sempat dikeringkan usai membasuhnya. Tubuh berotot hanya berlapis kaos polos, ada gambar hitam-putih yang menghiasi bagian dadanya. Anyelir tahu, itu adalah anggota band legendaris bernama 'The Beatles', favorit Ayahnya, dibuat ciamik menjadi ikon utama kain tipis kesukaan kaum Adam.
Semerbak mint. Sudah ia yakini siapa pemiliknya, bahkan rasa terpukau itu hilang dalam sekejap saat tahu insan yang ia pandang rupanya menjadi teman duduk selama mengudara. Terpaksa Anyelir memalingkan wajah, malas rasanya untuk sekedar melihat wajah tampan bak dewa Yunani berhati Firaun bersikap seperti Namrud.
Janu melihat gelagat Anyelir, senyum miringnya tercetus. Kecamata hitam yang bertengger ia singkirkan, menatap Anyelir cukup lekat hingga membuat si empu jengah.
"Kenapa harus Anda yang duduk di dekat saya?!" Masih sinis, entah mengapa Anyelir begitu.
"Benar." Janu mengangguk. "Kenapa saya harus duduk di dekat anda?"
"Kalo begitu pindah saja!"
"Seandainya ini pesawat saya. Saya tidak akan pindah, tapi kamu yang harus keluar,"
Anyelir mendengus kesal. Ini baru hari pertama, bahkan syutingnya saja belum di mulai. Tapi kepalanya terasa mendidih saat berpapasan dengan Janu, apalagi sekarang duduk bersama tak bisa kemana-mana, bersyukur ada penghalang yang membatasi di antara keduanya. Namun tetap saja, semerbak Janu tercium, suara Janu terdengar, tetap Janu—lelaki yang menguras habis emosinya saat bertemu.
Tak ada sapaan hangat atau ucap syukur berlandaskan rekan kerja. Janu berbeda dengan Papi, sangat. Papi-nya selalu bersikap treat like a queen kepada Anyelir, selalu peduli, selalu menyayangi. Tapi Janu? Oh tolong hentikan sumpah serapah yang selalu merapal kuat di batinnya.
Anyelir bangkit, sungguh emosinya bergerak tak terduga. "Anda pikir saya mau satu pesawat bersama anda, Pak? Duduk bersama saja saya tidak mau apalagi satu pesawat dan satu projek bersama anda!"
"Kalo begitu silahkan pulang. Saya tidak butuh artis belagu seperti kamu, masih banyak artis lain yang mau bekerjasama dengan saya,"
Congkak. Satu kata yang menggambarkan Janu saat ini. Bagaimana bisa seorang sutradara berucap seperti itu kepada artisnya? Bahkan sudah ada hitam di atas kertas, nama Janu dan Anyelir terpampang nyata di sana. Tapi sekarang? Oh sungguh mereka seperti kucing liar dan anjing rumahan. Anyelir hanya seorang kucing, tapi ia beringsut saat merasa tertindas oleh anjing rumahan seperti Janu.
"Oke. Lagipula siapa juga yang mau bekerjasama dengan anda!"
Anyelir segera membawa peretalan tas mini dan barang-barang miliknya. Hendak keluar dari tungku yang digodok dengan suhu di atas rata-rata, amat panas di dalam pesawat ini.
Namun, percuma. Alunan perintah duduk manis menggunakan seat belt terdengar menggema, pintu jalur masuk yang terpampang nyata sudah tertutup rapat. Beberapa pramugari siap sedia menertibkan penumpang, ia terlambat, pesawat hendak lepas landas.
Dengan terpaksa dan tingkat kemarahan yang masih setara Anyelir duduk, menyilangkan kedua tangan, memanyunkan setengah bibir dan wajah yang memerah seperti kepiting rebus. Janu si menyebalkan malah sengaja menggeser pembatas kabin.
Tersenyum miring. "Bukannya mau pergi?"
"Tutup!" Berkali-kali Anyelir menekan tombol untuk kembali menggeser penghalang agar tertutup rapat tapi percuma, tenaga Janu lebih kuat.
"Perlu saya tegaskan. Bekerjasama dengan kamu, bukan karena saya mau. Tapi karena saya memenuhi janji, tidak ingkar seperti kamu!"
"Saya juga! Udah tutup! Tutup!" Anyelir masih kesal. Sungguh sangat.
Sudah berdebat singkat pedas berakhir kekalahan, dilihat banyak penumpang, sedikit melelehkan harga diri. Tapi harus berakhir begini, bersama Janu yang selalu menganggu ketenangan batin.
"Dan jangan jadi penghalang. Saya dengar kamu banyak melakukan kesalahan saat latihan taekwondo kemarin! Seharusnya kamu malu dengan predikat artis terbaik, itu tidak cocok."
"Terserah!" Muak, saking muaknya Anyelir enggan membalas kata-kata pedas Janu.
"Saya tidak suka kesalahan, sekecil apapun!"
Tak ada pilihan lain, Anyelir hanya memalingkan wajah. Menahan panas dari kedua manik yang siap meluncurkan kristal-kristal bening, entah mengapa rasanya ucapan Janu terlalu sakit, amat-teramat membuat lubang padahal tak ada bentakan sama sekali. Ia berucap pelan, santai, tapi amat menusuk ke tulang-tulang.
"Ini." Lelaki itu menyodorkan lengan.
Anyelir masih acuh, tak mau menoleh barang sedetikpun.
"Kamu tidak mau menghargai simbol kerjasama?"
Matanya terpejam kuat, menghirup napas dalam untuk memantapkan diri menghadap ke arah Janu. Siap membalas jabatan tangan sebelum hal mengganjal kembali menohok hati.
Janu menyerahkan tangan kiri.
"Kerjasama katamu?! Tangan kiri itu kerjasama?!"
"Saya kidal,"
"Orang-orang kidal hanya tidak bisa makan dan minum dengan tangan kanan, bukan berjabat tangan!"
Merah padam sudah wajah Anyelir, perlakuan Janu sungguh di luar batas wajar. Entah apa yang mendasari lelaki itu bertindak serendah ini terhadap Anyelir, ia juga tak tahu dosa apa yang diperbuatnya.
"Itu orang-orang kidal. Saya hanya orang kidal ... Hanya orang, bukan orang-orang,"
"Sama saja! Dasar keterlaluan!"
"Kamu bodoh sekali. Orang-orang bermakna jamak, sedangkan orang bermakna tunggal. Walaupun bercita-cita menjadi artis, setidaknya jangan tinggalkan pelajaran sekolah!"
Dalam hitungan detik Anyelir menyambar tangan Janu, mengayunkan ke atas dan ke bawah dengan cepat dan terpaksa. Sungguh ia ingin menangis, saking kesalnya.
"Senang bekerja dengan Anda, Tuan Firaun!"
Lantas memalingkan wajah sembari mengencangkan musik yang sejak tadi terdengar laun di earphone-nya. Masa bodo dengan ekspresi Janu, toh ia sudah mengikuti seluruh permintaan lelaki tinggi bermulut gunung meletus itu.
Sementara Janu memakukan pandangan pada Anyelir, manolid eyes beriris cokelat terang itu mulai tertutup. Nampak kantuk mendominasi di sana, menarik jiwa mendidih Anyelir ke alam bawah sadar hanya dalam hitungan menit. Pun dengan dirinya, lengkungan manis terukir entah beralasan apa, ia menyenderkan tubuh, menyilangkan tangan di d**a dan ikut terpejam.
Rasanya dunia gelap hanya mampir beberapa detik, belum sempat Janu menghampiri bunga tidur yang menggambarkan keinginan-keinginan lewat ilusi, ia terbangun sebab rintihan menyakitkan terdengar dari arah samping. Rolex hitam berlapis emas ditatapnya, hampir dua jam alam bawah sadar berkuasa meski terasa seperti satu kedipan saja. Ia menoleh.
Matanya lekat menatap cemas ke arah Anyelir. Wajah gadis itu menelungkup sebelah, tidak penuh, hanya bagian sisi ke ujung business seat berbahan kulit lembut. Di dalam kabin ini, udara dari air conditioner cukup sejuk, bahkan terbilang dingin, tapi Anyelir sangat berkeringat.
Earphone yang sejak tadi terpasang sudah dilepas, matanya masih setia terpejam, namun raut wajah menandakan rasa sakit yang tertahan, alis yang berkerut juga turut mengartikan demikian.
Janu mengikuti arah dari gelagat gadis itu, kedua tangan mungilnya menekan bagian perut, barangkali ada virus, bakteri atau semacamnya di dalam sana, ia mulai bertanya.
"Kamu sakit?" Ketusnya.
Sungguh Janu tak berniat seketus itu, tapi entahlah itu yang keluar dari mulutnya.
Tak ada jawaban, sebab mata Anyelir masih terpejam.
"Kamu mimpi bukan, sih?" Penasaran, lantas Janu sedikit mendongak, menyentil dahi Anyelir tanpa permisi.
Sukses. Anyelir membuka mata, semakin mengerang menahan sakit. Sebelah tangan yang sebelumnya memegang kuat di arah perut beralih ke dahi, sebab sentilan itu cukup sakit, sungguh.
"Sa—sakit!" lemahnya.
Tak ada daya untuk sekedar berucap banyak hal, sebagian dari beberapa rasa sakit tengah menjalar di tubuhnya. Ia merutuk secara bersamaan, sudah tahu mana waktu yang tepat, tapi masih saja lalai.
Bulan datang pada wanita memang tanpa aba-aba. Membuat kelimpungan bertambah derita, menjadi bagian dari hal yang wajib tapi masih belum bisa bersahabat dengan jinak. Sulit, sakit, dan tak bisa dimengerti.
"Sakit apa? Sakit perut?"
Sial. Kenapa harus detik ini?
Anyelir yakin seratus persen, blue jeans yang dikenakannya sudah ternodai sebagian dari ovum yang tidak dibuahi s****a. Bukan sekedar rasa sakit saja yang tercipta, tapi rasa malu yang akan menggerogoti citra. Apalagi di depan Janu, lelaki yang ia benci.
Bagaimana ini?
"Woy! kok diem aj—" ucapan Janu terhenti sebab announcement code terdengar di seluruh awak pesawat, membuatnya terpaksa merubah posisi.
"Ladies and gentlemen, as we start our descent, please make sure your seat backs and tray tables are in their full upright position ...."
"Tahan ya, sabar. Saya bawa kamu ke dokter nanti,"
Gue nggak butuh dokter! Tari ... Lo di mana, sih?
Anyelir memejamkan mata saat pesawat mulai mendarat, bukan takut, ia sangat ingin menangis. Terlebih membayangkan kemungkinan-kemungkin beberapa penumpang yang mengenalnya, lagipula di dalam pesawat ini siapa yang tidak kenal Berta Bee? Sejak ia duduk, berdebat dengan Janu hingga tertidur pun mereka masih setia memandangi Anyelir seraya tersenyum bahagia. Membuat Anyelir sedikit risih, tapi apa daya.
Kini ia merunduk, menahan keram yang tak kunjung usai. Sekaligus malu yang mulai menjalar.
Pesawat rupanya sudah mendarat dengan selamat, beberapa orang lalu-lalang melewati, sebab kursinya tepat berada di baris ke dua dari depan. Wajah yang memerah dengan air mata yang sudah basah tertutupi oleh helaian rambut, entah bagaimana nasibnya saat ini.
"Ayo," ajak Janu.
Anyelir menggeleng.
"Saya bingung. Kamu sakit kenapa? Bentar saya panggilkan pra—"
Lengan Anyelir mencekal milik Janu. "Ja—jangan panggil siapa-siapa!"
Lagi. Janu mendongak, semakin mendekatkan wajahnya ke arah Anyelir. "Kamu nangis?" Isakan terpendam terdengar dari sana.
"Saya tidak tahu kamu kenapa, makanya saya mau panggil pramugari,"
"Jangan," lirih Anyelir.
"Terus saya harus bagaimana?!"
Tak ada pilihan lain, Anyelir memejamkan mata. Menarik udara dalam-dalam untuk kemudian berucap mantap.
"Sa–saya datang bulan,"
Lantas Janu baru mengerti dengan semua keadaan ini, ia paham, sungguh. Sebab beberapa tahun tinggal hanya berdua bersama sang ibu, tentu ia tahu apa yang harus dilakukan sekarang. Jaket hitam yang sedari tadi hanya digenggam kemudian di berikan.
"Pakai ini."
Akhirnya gadis itu mau mendongak. "Nanti kotor, saya nggak mau kamu repot!" Sinis Anyelir.
"Yang kotor masih bisa dicuci, cepat pakai. Kalo sudah saya gendong,"