Panggilan itu—alunan kasar kian menusuk membuat telinga rasanya panas saat mendengar, nada keras juga cacian yang mengiris hati mampu mengepalkan tangan sang gadis berambut sebahu. Hidup dalam sebuah ancaman, hidup dalam sebuah tekanan, hidup dalam sebuah dendam yang belum terbalaskan, bukankah sejatinya manusia mampu bahagia walau hanya sederhana? rasanya itu asing di dengar.
Ia tak tahu rupanya bahagia dalam arti keluarga, sederhana ataupun mewah semua sama saja. Hanya patuh terhadap satu kepala kejam yang tak pernah berhenti memaki, mengiris hati, menanamkan amarah bahkan tak heran tindak kekerasan kerap kali dilayangkan.
Bisakah ia memohon pada Sang Pencipta untuk memilih menjadi gadis miskin yatim piatu yang hidup sebatang kara? kiranya itu lebih baik dari kehidupannya sekarang, tak apa. Pilihan terbaik menangis karena kelaparan, daripada menangis di bawah tekanan. Entah berapa kali psikiater yang didatangi, obat-obatan yang menemani. Tubuhnya tetap merasakan lelah.
"Jangan kebanyakan bersantai! kamu tahu sendiri keluarganya bagaimana!" Teriakan serak-serak basah yang melengking namun terdengar berat, sekali lagi memanaskan telinga.
Berdiri termatung di ujung ruangan, menatap jendela ke arah jalan raya semacam muncul hasrat ingin melompat dan mengakhiri semuanya. Tapi untuk apa? hidupnya bukan berisi tentang kebaikan, entah bekal apa yang akan di bawa nantinya. Alih-alih mendapat kebahagiaan dan ketenangan, dendam akan membawanya dalam siksaan.
"Tunggu sebentar lagi ... aku mohon sebentar lagi ... ya?" pintanya memohon.
"Kamu tahu kenapa kita tidak bahagia? itu karena mereka! jadi untuk apa terus mengulur waktu?!"
"Aku dan Bang Bane lagi menyusun rencana terbaik jadi tolong tunggu sebentar lagi, jangan rusak rencana kita!" Batari mempertegas perbincangan, ia sangat frustasi hari ini.
"Tapi kapan?! kapan rencana itu akan di jalankan!"
"Nanti ... waktunya akan tiba dan aku sedang menyusun hari yang pas!"
"Jangan terlalu menyiapkan omong kosong, anak t***l!"
Batari menghela napas berat mendengar makian itu, selalu begitu. Mengancam, memarahi, memukul saat rencana tidak sesuai yang diharapkan. seperti tak ada tujuan lain dalam hidup selain menerima segala perlakuan menyedihkan itu.
"Saya janji rencana ini akan sukses ... sebab kita menyiapkannya sejak lama," ucap Batari meyakinkan.
"Ingat, ya ... waktu kalian nggak banyak! sebelum aku yang bertindak ... bahkan kalian pun bisa menjadi sasarannya, camkan, Batari!!" Seseorang di seberang sana langsung mematikan panggilan membuat Batari mengumpat kesal.
Orang-orang tamak terlalu haus akan kemenangan, tanpa memikirkan proses dan resiko yang diambil. Hari demi hari itu selalu terjadi, ancaman, kekerasan, rasanya Batari hafal betul dengan kedua hal itu. Lebih utama daripada nasi sebagai menu makanan pokok, kedua hal itu paling banyak diterima Batari sepanjang waktu.
"Rencana apa, Tar?"
Deg.
Salah perhitungan bisa menjadi kesalahan fatal, akibat tidak mengunci pintu ruangan kerja tentu saja siapapun bisa masuk. Apalagi yang memiliki akses khusus, tubuh Batari kaku seketika seperti manusia yang terkena kutukan menjadi batu. Kemana perginya oksigen di muka bumi ini? Dunia terasa kehilangan gas utama itu, semakin menghilang, semakin menghilang, semakin sesak, semakin pasrah.
Batari masih terdiam menghadap jendela, membelakangi sahabatnya yang muncul tanpa permisi. Apa dia mendengarkan percakapannya dari awal? Batari berusaha bersikap santai walau rasanya seluruh raga seolah ditarik paksa agar tidak mendiami tubuh Batari.
Gadis itu berbalik, dengan tampang sedikit ekspresif seperti biasa tersenyum. "Apa?"
"Dih ... malah balik tanya! tadi lo bil—" Anyelir terdiam menggantung ucapannya, sebab hal tidak beres sedang terjadi menimpa Batari. Sudut bibir gadis itu memar seperti baru saja terkena pukulan telak. Anyelir yang semula berdiri di ambang pintu lantas berlari mendekat, memandangi wajah Batari lekat. "Wajah lo kenapa?!"
"Apaan, sih?!" Batari mendorong tubuh Anyelir agar menjauh, menutupi bekas luka semalam yang ternyata masih terlihat lebam.
"Tar ... lo—"
"Gue nggak apa-apa! Lo nggak usah peduliin gue! sekarang lo ke sini mau apa?!" nada Batari meninggi, padahal niat Anyelir hanya ingin membantu.
"Gue sahabat lo, Tar!"
"Gue punya privasi, Lir!"
Anyelir mengerutkan dahi, heran dengan kelakuan Batari yang selalu begini. Katakanlah Anyelir memang orang yang sangat tertutup, tapi itu terhadap orang baru. Ia seperti kotak buku dongeng saat bersama Batari, semua hal tak terlewatkan diceritakan, Batari selalu menjadi pendengar yang baik. Tapi, kapan Anyelir akan mengemban tugas yang sama seperti Batari sedangkan gadis itu mengunci rapat-rapat kehidupannya?
"Privasi apaan, sih?! muka lo lebam kayak gitu apa gue nggak boleh khawatir? apa gue nggak boleh tahu siapa yang mukul sahabat gue?!!"
"Iya!" Batari menajamkan pandangan. "Ini urusan gue, Lir ... Lo nggak usah ikut campur!"
Alih-alih takut dengan tatapan Batari, Anyelir justru mengalunkan langkah beberapa hentakan hingga jarak antara keduanya begitu terkikis. "Sampai kapan?"
Satu tarikan napas berat Anyelir loloskan, Batari seperti menutup mulutnya rapat-rapat, enggan berbicara. "Sampai kapan lo lari dari gue saat lo punya masalah, sampai kapan, Tar?! Apa guna gue di dunia ini kalau lo menderita sendirian!!"
"Hidup lo aja udah punya banyak masalah, Lir!!" Batari menjerit dengan satu tetesan yang lolos dari maniknya.
"Hah?" Anyelir tak percaya dengan apa yang barusan dikatakan Batari, menghindar hanya karena hidup Anyelir menyedihkan? Ia geram sendiri. "Lo pikir kalau gue banyak masalah, gue nggak boleh gitu membantu temen gue yang lagi punya masalah juga?!"
"Lo ke sini mau ngurus dress buat besok malam, 'kan? oke kita berangkat sekarang ke butik!" Batari mengalihkan pembicaraan, membuat Anyelir bertambah geram.
"ITU NGGAK PENTING, BATARI!"
"This is my privacy!"
Keduanya malah saling meneriaki, tak akan ada ujungnya kalau begini. Hubungan mereka akan retak jika keduanya saling berdebat sengit, luka-luka itu akan muncul seperti sayatan dari setiap ucapan yang terlontar. Niat hati ingin membantu malah berakhir pertengkaran.
"Keras kepala lo!" Anyelir mendelik seraya beranjak, bukan ke arah luar, ia mengobrak-abrik meja kerja Batari, laci, hingga lemari miliknya.
"Mau ngapain lo?!"
Anyelir menulikan pendengaran, ia terus mencari setiap detail dari tempat penyimpanan di ruangan Batari, benar-benar berantakan dengan berbagai berkas-berkas yang ada.
"Mau ngapain, Anyelir?!" Batari kembali berteriak.
Takut dengan Anyelir yang bergegas semacam mencari sesuatu, Batari segera mendekat untuk menghentikan. Bisa jadi hal yang disembunyikan ada di sana, perasaannya mulai was-was. "ANYELIR!"
Padahal yang Anyelir cari adalah kotak P3K dan ia berhasil menjumpainya, dengan amarah yang membuncah Anyelir menarik tangan Batari sembari menenteng kotak P3K. Mendudukkan sahabatnya di sofa tanpa berucap apapun.
Meski hatinya bergemuruh, tersentak dengan pertengkaran yang akan berujung saling menyakiti. Anyelir lebih sakit menyaksikan setiap luka dari tubuh Batari yang berusaha ia tutupi, luka batin yang menganga belum bisa Anyelir sembuhkan. Setidaknya luka fisik yang terlihat harus ia perhatikan.
Gadis itu mengeluarkan salep anti lebam dari dalam kotak P3K, mengolesi luka di sudut bibir Batari semacam pukulan keras itu dengan telaten. Batari menghela napas sembari membuang wajahnya ingin menangis, pertanyaannya hanya satu. Kenapa harus Anyelir? kenapa?
"Diem, Tar!" Anyelir protes saat Batari membuang wajah, menutupi tangisan yang tiba-tiba keluar padahal berusaha ia tahan. "Belum selesai, Tari!"
"Udah!" Batari menepis tangan Anyelir, membuatny menghela napas panjang.
Anyelir mendongak, Batari si kuat yang tak mau menangis sedang berusaha menahan semuanya dengan membuang wajah. Hati Anyelir rasanya teriris menyaksikan hal ini, penderitaan apa yang Batari alami sampai dalam situasi saat ini pun ia tak mampu bercerita. Apa Batari mengalami ancaman? atau di bawah tekanan berbahaya?
"Lo kenapa, sih, Tar?" Anyelir melembut.
"Lo udah bikin janji, 'kan? Ayo berangkat, kita cari dress buat acara launching besok!" Batari bangkit mengalihkan pembicaraan membuat Anyelir menghela napas berat.
"Tar ...."
"Katanya harus pake tones yang gelap, ya?"
"Tari ... dengerin gue,"
Batari masih berdiri, ngoceh sendiri seraya membelakangi Anyelir. Mengalihkan pembicaraan dengan bahasan yang tidak penting, enggan menoleh, menatap mata manolid milik Anyelir yang akan meluruhkan seluruh pertahanan di hatinya dengan ketulusan Anyelir.
"Lo mau di make-up siapa? Abra Cadabra??"
"Tar ...."
"Kita warnai rambut lo dulu kay—" Batari dibungkam, sebab Anyelir mendekapnya dari arah belakang.
Terasa hangat, sangat nyaman juga tulus. Membuat Batari tak kuasa lagi menahan setiap air mata yang menumpuk di maniknya. Bahu yang gemetar, suara hati yang menjerit menerima kenyataan pahit sejak kecil ikut mendayu bersama tangisan lara meluapkan luka hati.
Berat rasanya menanggung semua sendiri, tapi mau bagaimana lagi? Anyelir tidak boleh tahu, apalagi orang lain. Sebab itu adalah hal yang akan merusak segalanya. Batari sadar ia sudah tak sanggup, tapi percuma menyerah di saat semua sudah berada di tangannya, tinggal menunggu waktu.
Gadis itu mulai terisak dengan tepukan lembut dari Anyelir, dekapan hangat, penuh cinta juga ketulusan. Batari hendak beranjak kasar, melepaskan pelukan Anyelir tapi itu terlalu erat.
"Nangis aja ... gue nggak lihat kok. Lo nggak suka, 'kan? nangis depan gue?"
"Le—lepasin ... Lir!"
"Kalo gitu nangis aja, Tar ... di belakang gue."
"Lepas ...." lirih Batari di sela-sela Isakkannya.
"Gue nggak tahu masalah lo apa ... apa yang menimpa lo, atau siapa yang berani mukul lo ... tapi gue siap menunggu, Tar. Gue sadar hidup gue terlalu banyak masalah, gue sadar gue sibuk nggak pernah ngertiin lo, tapi ... gue bakal lari ke lo di saat tangan lo terangkat meminta bantuan gue."
Batari bergeming, masih larut dalam suasana biru begitu pilu.
"Gue sayang sama lo, Tar ... lebih dari lo menyangi gue."