Wendy menatap hamparan bintang dilangit dalam diam. Pikirannya masih kacau dan hatinya masih terasa perih. Jujur saja, seumur hidup ia tidak pernah membayangkan Brian akan mengkhianatinya dengan cara yang kejam seperti itu. Padahal Brian adalah lelaki yang selama ini ia anggap baik. Tidak banyak menuntut dan tidak banyak mengeluh. Selama mereka berkencan memang mereka tidak pernah benar-benar melakukan sesuatu hal yang dia katakan sebagai hal menyenangkan, karena selama ini ia pikir lelaki itu cukup hanya dengan sebuah ciuman dan pelukan saja. Terlebih dia juga selalu mengatakan bahwa, dia mengerti bahwa dirinya mungkin lelah setelah bekerja seharian. Tapi ternyata, dia hanya serigala berbulu domba. Didepan mengatakan hal yang sangat baik sementara dibelakangnya dia bermain gila.
“Ini.”
Wendy menoleh kearah kanan saat sebuah gelas terulur dihadapannya. “Mr. Wesley.” Ujarnya sebelum menerima gelas tersebut.
“Minumlah, aku pikir kau perlu menenangkan pikiranmu sesaat.” Millian menuangkan cairan berwarna merah pekat kedalam gelas itu.
Wendy memandangi gelas ditangannya sesaat. Bersamaan dengan itu tawa Millian terdengar. Wendy menatap Millian yang kini berusaha menahan tawanya. Lelaki itu menatap Wendy sebelum berujar.
“Aku tidak akan meracunmu atau memasukan sesuatu pada minuman itu.”
“Aku tidak berpikir begitu.” Balas Wendy.
Millian mengedikkan bahunya. “Siapa yang tau?”
Wendy menatap Millian yang kini tengah menenggak minuman yang sama dari dalam botolnya. Lelaki muda yang merupakan boss-nya ini terlihat sedikit berbeda dari saat dikantor tadi. Terutama penampilannya.
“Mr. Wesley.”
“Hm.”
“Kenapa kau menolongku?” tanya Wendy.
Millian tersenyum miring. “Kau hanya beruntung saja.”
“Aku pikir itu bukan jawaban yang benar.” Wendy mencebik seraya memutar bola matanya.
Millian tertawa pelan. “Kau sudah berani rupanya.”
Wendy menghembuskan nafasnya, lalu bersandar pada pagar pembatas kemudian mulai menikmati cairan merah itu. Setelahnya ia kembali menatap Millian. “Ini bukan kantor dan bukan jam kerja. Aku pikir tidak masalah berbicara begitu? Lagipula kau enam tahun lebih muda dariku Mr. Wesley. Seharusnya kau yang lebih sopan padaku.”
Millian menghadap Wendy dengan seringaian menyebalkan yang masih tercetak jelas diwajahnya. “Kalau begitu panggil aku Millian.”
“Mana bisa begitu?”
“Ini bukan kantor dan bukan jam kerja.”
Sialan! Bisa-bisanya dia membalikkan kalimat yang ia berikan.
“Ya—ya—terserah kau saja.” Wendy menoleh pada Millian lagi. “Jadi kenapa kau menolongku?”
“Aku hanya kebetulan ada disana.” Millian menunduk, mendekatkan bibirnya pada telinga Wendy. “Mungkin takdir?”
Wendy mendorong pundak Millian untuk menjauh lalu mendelik pada lelaki itu. “Takdir macam apa? Jangan mengada-ada.”
“Mungkin takdir jika kita harus bersama? Kau tau, aku menyaksikan sendiri kalian putus. Bahkan calon suami—.”
“Mantan.” Tegas Wendy dengan penuh penekanan.
“Ah—mantan calon suamimu bilang aku boleh mengambilmu.” Ujar Millian melanjutkan ucapannya yang sempat terpotong Wendy.
“Aku bukan barang.”
“Aku tidak mengatakan kau barang.”
Wendy mendelik lagi pada lelaki muda itu. Entah kenapa setiap ia mendengar celotehan lelaki itu, rasanya terdengar semakin menyebalkan. Bahkan mungkin sampai seratus kali lebih menyebalkan lagi saat seringaian itu terlihat. Millian benar-benar seperti anak muda yang hanya ingin memancing emosi agar mendapatkan perhatian.
“Kenapa kau sangat menyebalkan Millian?”
“Aku memang menyenangkan.”
Wendy mendesis. “Sepertinya pendengaranmu bermasalah.” Ujarnya dihadiahi gelak tawa dari Millian. Lelaki muda itu, benar-benar sengaja memancingnya.
Wendy mengalihkan pandangan pada ponselnya yang berdering, pertanda sebuah pesan masuk. Seketika tubuh Wendy serasa membatu saat membaca pesan tersebut.
---
Nona, mohon maafkan aku.
Aku tidak bisa memberikan rancanganku.
Sekali lagi maafkan aku.
Aku juga sudah mengembalikan dua kali lipat dari uang yang kau berikan.
Sekali lagi mohon maaf.
---
Wendy meneguk ludahnya kasar. Bagaimana ini? Bagaimana bisa perancang parfume itu membatalkan perjanjian mereka mendadak seperti ini? Padahal lusa ia seharusnya sudah menghadap Millian untuk membawa sample parfume yang ia janjikan. Lalu bagaimana jika begini?
Wendy melirik Millian yang ternyata sedang memperhatikannya dengan tatapan penuh selidik.
“Kenapa?” tanya Millian.
“Mr. Wesley. Aku harus pergi. Terimakasih minumannya.” Wendy memberikan gelas ditangannya kembali pada Millian.
“Hey. Kenapa buru-buru?” Millian meraih pergelangan tangan Wendy. membuat wanita itu berbalik.
“Aku memiliki urusan yang lebih penting.” Ujar Wendy seraya melepaskan cengkraman tangan Millian. “Sampai jumpa besok di kantor, Mr. Wesley. Selamat malam.” Ujarnya seraya berlalu.
“Wendy!”
Wendy tidak menghiraukan panggilan itu, ia hanya terus melangkah dengan langkah lebar meninggalkan boss muda nya itu. Langkahnya bahkan terlampau cepat melewati setiap anak tangga untuk sampai didepan sebuah lift. Sementara itu, tangan kanan Wendy sibuk, berusaha menghubungi perancang parfum tersebut. Dia tidak bisa bertidak seenaknya seperti ini. Karena bagaimanapun disini karirnya sangat dipertaruhkan. Jika sampai gagal maka semua orang dikantor akan mencemoohnya dan memandangnya sebelah mata, terlebih promosi yang ia jalani akan gagal total. Bukannya naik jabatan, jika gagal seperti ini ia justru akan tetap pada jabatan yang sama atau buruknya justru ia kembali menjadi staf biasa. Tidak tidak. Tidak, ia tidak ingin itu terjadi.
“Maaf nomor yang anda tuju tidak terdaftar…”
Oh Sialan!
Wendy membanting pintu mobilnya kemudian segera memacu kendaraannya menuju kediaman sang perancang parfum. Selama ini dia, memang sangat sulit untuk dimintai kerja sama. Hanya dirinyalah yang dulu bisa membuat perancang parfume itu mau bekerja sama, akan tetapi sepertinya dia benar-benar sulit. Dia bahkan berubah pikiran begitu saja. Tanpa ada alasan apapun yang masuk akal dalam pembatalan itu.
Rasanya sangat aneh, tapi aneh kenapa?
Begitu sampai ditempat itu, Wendy segera turun untuk mencapai pagar rumahnya. “Sial! Benar-benar sial!” umpatnya lagi. Rumah itu padam, bahkan terlihat sangat sepi. Anjing yang dulu terlihat menjaga pintu masuk saja, kini tak ada.
Kemana dia? Kemana perancang parfume itu pergi? Lalu, jika sudah begini. Apa yang harus ia lakukan sekarang?
***
Begitu sampai di Flat sederhananya, Wendy segera mencari beberapa dokumen tentang perancang parfume lain yang di sarankan oleh teamnya. Semuanya hanya ada tiga. Perancang parfume ternama yang memiliki kualitas yang tidak perlu diragukan lagi.
Wendy segera menghubungi satu persatu perancang tersebut, namun sayang perancang pertama nomornya tidak aktif lagi. Perancang lainnya berada di luar jangkauan. Kemudian saat ia menghubungi satu perancang parfume lagi, barulah ia mendapatkan respon. Panggilannya dijawab.
Senyuman Wendy merekah saat mendengar sapaan dari seorang wanita disebrang sana.
“Hallo, benar ini dengan Nyonya Emelly? Saya Wendy Camella dari W Group, yang sempat menghubungi anda mengenai kontrak kerja sama untuk rancangan parfume anda.”
“Maaf Nona, anda terlambat. Seseorang dari perusahaan lain telah mengontrak secara eksklusif semua rancangan parfume saya.”
Seketika senyuman Wendy sirna saat mendengar penjelasan itu, lalu ia mendesah kecewa, dadanya serasa dilubangi, mencelos, kosong, serasa hampa dan putus asa. “Baiklah Nyonya, Terimakasih. Mohon maaf mengganggu malam anda. Selamat malam.”
Wendy melemparkan ponsel keatas pembaringan. Kenapa nasibnya jadi seburuk ini? Ditinggalkan kekasih karena dianggap membosankan, kemudian ditinggalkan perancang parfume disaat dirinya yang bertanggung jawab atas projek itu. Kenapa? Kenapa begini?
Memang, masih ada satu hari. Tapi kemana ia bisa mencari perancang parfume yang sesuai dengan isi proposalnya? Kemana ia mencari rancangan yang sama persis? Lagipula waktunya terlalu singkat. Bagaimana bisa ia mencari hanya dalam waktu 24 jam? Ini gila. Sangat gila.
Sialan! Brian sialan! Pekerjaan sialan!
Wendy terbaring telungkup, ia kemudian mengerang kencang dengan dibungkam bantal. Kesal, sangat kesal. Apakah Tuhan tidak cukup mengujinya hari ini hanya dengan kehilangan calon suaminya saja? Kenapa pekerjaannya juga mendadak berantakan begini? Bagaimana jika Millian memecatnya?
Bagaimanapun, Millian pimpinan baru. Ia masih belum bisa menebak kebijakan yang akan lelaki muda itu berikan. Apalagi Millian masih sangat muda, kebijakannya mungkin akan lebih kejam daripada pemimpin sebelumnya.
Wendy! bodoh! Bagaimana kau akan menghadapi Millian hah? ARGH! Sial!
Wendy mengerang lagi dengan sangat kencang, melampiaskan emosinya yang sempat tertahan.
***
Bersambung…
***