Layar ponsel di tangan Kirana berkedip menampilkan nama Abizar. Kirana ragu untuk menjawab. Tapi ia sadar betapa tidak sopan dirinya jika ia membiarkan panggilan itu. Apalagi setelah melihat kiriman tanda mata dari Abizar di meja. Maka, setelah menarik nafas panjang, ditekannya gambar telefon berwarna hijau di layar telefon genggamnya. “Halo?” sapa Kirana. “Hai Kirana!... Mmm, maaf sebelumnya kalau aku mengganggumu. Kamu sibuk?” Abizar bertanya dengan suara beratnya. “Nggak.” “Bagaimana kabar mamamu?” “Mama sedang tidur sekarang. Trombositnya masih menurun. Tapi Mudah-mudahan segera naik… Oh iya, terima kasih kiriman bingkisannya, baru saja sampai. Maaf, jadi merepotkan.” “Nggaklah. Cuma sekedarnya kok.” Kirana tertawa. Merendah sekali lelaki ini. Padahal, bingkisan sekedarnya it

