Terikat

1147 Kata
Nama gadis itu Kania Prameswari. Panggilannya Kania. Usianya dua tahun lebih tua dari Kirana. Saat makan malam, mama memberi tahu bahwa mulai saat itu, Kania adalah anggota keluarga mereka. ”Kania ini anak yatim piatu. Ayah dan ibunya sudah meninggal. Mereka dulu sahabat baik mama. Bapak yang mengantarkannya tadi adalah pamannya. Dia tidak punya kakak dan adik. Sebelum meninggal, ibunya menulis wasiat supaya Kania dirawat mama," tutur mama. "Jadi, sekarang kamu jadi anak mama dan jadi kakaknya Kirana ya, Kania… Mama tidak akan membeda-bedakan kalian. Kirana harus menghargai Kania sebagai kakak, dan Kania harus menyayangi Kirana sebagai adik. Oke?!” tegas mama. Kania diam. Kirana apalagi. Ia tidak menduga akan mendapatkan saudara dengan cara seperti ini. Di hatinya timbul bermacam-macam pertanyaan. Bayangan Kirana selama ini, jika dia mempunyai saudara, maka yang disodorkan kepadanya adalah bayi mungil berbau harum minyak telon seperti adiknya Sophie tetangga sebelah. Kenapa Mama memberinya kakak yang sudah besar seperti ini, bukan adik yang lucu. Dan kenapa ia yang terbiasa menjadi ratu di rumah ini sekarang menjadi anak nomor dua? Dalam usianya yang lebih dari sembilan tahun dan duduk di kelas empat SD, Kirana sudah tahu konsep mengenai anak angkat. Yang membuatnya heran, kenapa mama tidak bercerita terlebih dulu sebelum mengangkat anak. Sebagai anak tunggal, Kirana merasa dia juga mempunyai hak untuk memilih anak seperti apa yang disukainya untuk diangkat sebagai saudara. Kirana kesal menatap Kania yang duduk di seberangnya. Meskipun anak itu sudah bersih setelah dimandikan Mbak Asih dan dipakaikan baju lama Kirana, dia tetap saja tampak seperti anak kampung. Lihat saja bagaimana canggungnya dia menggunakan sendok dan garpu. Dari sudut matanya, Kirana tahu bagaimana diam-diam Kania memperhatikannya makan dan mengikuti caranya, tetapi tetap saja dia tampak kikuk. Ketika telur rebus balado yang berusaha ditusuknya dengan garpu mencelat ke tengah meja, Kirana meledakkan tawanya. Kania yang terkejut tersenyum kecut. Kulit mukanya yang putih berubah semerah saus tomat. Air matanya mengembang. Dengan lembut Mama menenangkannya, dan mengajarkannya memegang garpu dan sendok serta menggunakannya dengan benar. Sementara Kirana terus tertawa. Saat akhirnya Kania tersenyum karena berhasil menusukkan garpunya, dan memandang Kirana, tawa Kirana berhenti. Pendaran naluri tadi sore muncul lagi. **** Pada awal Kirana tahu Kania akan tinggal bersama mereka, Kirana sempat khawatir ibunya akan menempatkan Kania satu kamar dengannya. Seperti Dewi dan adiknya, atau Kiki dengan kakaknya. Kedua temannya itu sering bercerita bagaimana mereka sering bertengkar dengan saudaranya berebut barang dan terlanggarnya daerah privacy masing-masing. Kirana yang terbiasa sendiri dan menguasai semua barang di rumah ini, merasa tidak siap dengan ide berbagi. Untunglah di rumah mereka masih ada satu ruangan kosong. Di sanalah kamar tidur Kania. Dua hari kemudian mama memasukkan Kania di sekolah Kirana. Kania memang lebih tua dua tahun dari Kirana. Tetapi ia tertinggal pelajaran di sekolah lamanya, sehingga ia dimasukkan ke kelas lima. Untunglah. Kirana lega sekali tidak harus sekelas dengan anak itu. Kepada siapa saja yang bertanya tentang asal-usul Kania, mama hanya menjawab bahwa Kania adalah anak kerabatnya yang diamanatkan dititipkan kepadanya. Lebih dari itu, mama yang anggun hanya akan menjawab dengan senyumannya yang terkenal sangat manis atau diam. Seperti ketika mama dimarahi ketika akhirnya keluarga besar almarhum papa tahu bahwa ia mengambil anak angkat. ”Kamu kan sekarang sendiri, Mira. Ngga ada suami. Untuk apa kamu mengambil anak angkat?!” Bude Shanti, kakak almarhum papa, adalah saudara yang paling keras menentang keputusan mama. ”Untuk teman Kirana.” ”Teman?! Kirana sudah punya banyak teman. Kamu ga mikir, sekarang kamu sendiri? Tambah anak tambah biaya hidup? Apa cukup penghasilan kamu?!” Mama diam disudutkan begitu. ”Kamu harus memikirkan Kirana. Dia itu anak yatim sekarang, titipan almarhum suamimu. Dosa kalau kamu sia-siakan! Ini, ngurus satu anak aja belum jelas kok sudah sok-sokan ambil anak angkat yang nggak jelas. Anak siapa sih dia itu?!” Bude Shanti meradang. Mulut mama terkunci ketika kakak iparnya itu mengorek lebih jauh. Tetapi dia tidak menunduk. Kepalanya tetap tegak. Mama memang terkenal sebagai anak tunggal yang keras kepala. Dan sebagian besar kekerasannya menurun pada Kirana. ”Terima kasih atas semua perhatiannya. Tapi semua ini urusan saya. Saya bertanggung jawab dengan keputusan saya. Kalian tidak perlu khawatir.” Mendengar mamanya dihujat, Kirana sedih. Ia takut keluarga besar papa akan memaksa Kania dikembalikan ke asalnya. Kirana merasa berat jika harus berpisah dengan Kania. Makin hari, ia semakin dekat dengan Kania. Ia mulai membutuhkan kehadirannya. Walaupun dalam banyak hal Kirana lebih dominan, apalagi dengan tubuhnya yang lebih tinggi. Untunglah, tidak ada yang mampu meruntuhkan keteguhan mama. Lama kemudian keluarga besar papa tidak lagi mengusik Kania. Sedangkan keluarga dari pihak mama sejak kedua orang tuanya meninggal memang tidak terlalu peduli lagi dengan mama. Seiring waktu, Kirana dan Kania sama-sama beranjak besar. Meski masih sangat belia, keduanya sudah ditakdirkan memiliki garis-garis kecantikan yang menghiasi wajah mereka. Mama hanya tersenyum mendengar pujian terhadap anak-anaknya jika mereka berjalan bertiga. Apalagi jika pujian tersebut kemudian mengarah kepadanya. ”Terang saja anaknya cantik-cantik, habis mamanya juga cantik sih... Eh! Ini mama atau kakaknya si?” Mendengar komentar seperti itu, Kirana dan Kania pasti akan tertawa cekikikan. Sampai mama merasa perlu mencubit pinggang mereka satu-persatu. Akan tetapi, komentar tersebut memang ada benarnya. Mama yang baru berusia tiga puluhan masih tampak segar dan muda. Apalagi ia pandai merawat wajah dan tubuhnya. Tak salah jika sering dianggap kakak bagi dua anak gadisnya yang tingginya hampir menyamainya. Sejak ada Kania, Kirana merasa hubungannya dengan mama bertambah dekat. Mama tak lagi terlalu keras kepadanya. Pembawaan mama berubah menjadi santai. Ia jadi lebih banyak tersenyum dan tertawa. Mereka bertiga sering jalan bareng dan ngobrol sebagai sahabat. Sejumlah orang mengatakan bahwa Kirana dan Kania memiliki kemiripan fisik. Namun, sesungguhnya Kirana dan Kania adalah dua pribadi yang sangat bertolak belakang. Kirana cenderung tomboy. Dia tidak pernah mau ujung rambutnya sampai menyentuh bahunya. Sementara Kania lebih girlie dengan rambut hitam tebal yang terurai menutupi punggungnya. Pakaiannya selalu rapi dan sikapnya terjaga. Kirana kadang membenci Kania karena keanggunan sikap yang diajarkan mama kepada mereka berdua lebih melekat di diri Kania dibandingkan Kirana. Bahkan keahlian memasak mama dengan mudah diturunkan kepadanya. Berbeda dengan Kirana yang selalu merasa tidak nyaman berada di dapur, yang baru bisa membedakan lada dan ketumbar sesudah botol kedua bumbu dapur tersebut diberi label nama oleh Mbak Asih. Namun, kebencian Kirana itu entah mengapa selalu sirna tatkala Kania menatapnya. Sinar yang dipancarkan mata Kania senantiasa saja menumbuhkan naluri yang tidak bisa ia hindari. Bening, namun memiliki kekuatan yang membuat Kirana takluk. Jadi meskipun sering bertengkar, mereka juga kerap tertawa bersama. Keras hati Kirana tak pelak lagi adalah pemantik dari setiap keributan. Sementara kelembutan Kania menjadi penyejuk dan tak jarang jadi pengendali emosi labil Kirana. Meskipun Kania terkenal sebagai kakak Kirana yang kalem, siapa yang kemudian bisa menyangka di balik kelembutannya tersimpan potensi nekat wujud kekerasan kepala yang bahkan tak pernah terpikirkan oleh Kirana. Dengan caranya sendiri, Kania dapat melakukan hal tak terduga yang menunjukkan kekerasan hatinya. Seperti yang perbuatan jahil dan nekatnya kepada Tante Rosa yang tiba-tiba muncul memarahi mama. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN