Pergulatan kami masih berlanjut, mas Diki kemudian membenamkan wajahnya di leherku. Dia mengecup leherku dan sesekali menghisapnya. Semakin lama tubuhnya terasa berat menindih tubuhku. Selanjutnya, suara dengkuran kecil terdengar. "Mas Diki kamu ngorok?" tanyaku sambil menggoyangkan badannya. Kudorong tubuh mas Diki agar tidak menimpaku terus. Untung saja obat itu bereaksi tepat waktu. Jika tidak, aku menepis pikiran itu, aku tidak mau membayangkannya. Aku melihat wajah mas Diki yang tidur sangat nyenyak, "Lelaki jahat sepertimu tidak boleh terus memanfaatkanku. Kamu juga harus menderita sepertiku," Bagaimana jika besok dia curiga? Aku harus membuat seolah-olah kami memang melakukannya. Kubuka celana mas Diki hingga dia telanjang bulat. Begitu juga dengan pakaianku, semuanya kulecuti

