"Lura, ya ampun mantu Ibu." Kamis pagi yang cerah nampaknya akan bertambah cerah begitu Ibu mendapati Allura di depan pintu. Sedang memasang senyuman manis yang menularkannya pada Ibu. Menarik Allura mendekat dan memeluknya erat. "Apa kabar, Nak?" tanya Ibu begitu pelukan itu terlepas. Allura tersenyum. "Baik, Ibu," jawabnya. Memang keputusannya untuk pulang ke rumah mertuanya adalah pilihan yang tepat. Selain karena Allura merindukan Ibu, juga mendapatkan sambutan yang membuatnya merasa dihargai. Tidak seperti saat ia pulang ke rumah Mama. Hanya ada Pak Tatang dan Mbak Sati. Tanpa sambutan hangat dari Mama. "Elang mana?" tanya Ibu seraya melirik ke belakang. Tidak ada tanda-tanda kehadiran Elang. Juga tidak ada mobil yang terlihat di halaman depan. Hanya ada sebuah taksi yang berja

