Sembilan

1160 Kata
Sekilas percakapannya seperti ini: “Gue bisa, ya, dandan sendiri!” “Saya sayang istri.” Leora mendengus. Raja acuh. “Kanebo kering.” “Tapi suka, kan?” Lelaki itu punya segudang jawaban untuk membuat Leora skakmat. “Kamu mengerikan.” “Dalam hal?” “Bercinta.” “Oh, jadi itu yang bikin kamu sange?” Raja manggut-manggut senang. Wajahnya sangat cerah di sore yang mataharinya condong ke barat. “Kamu tinggal minta, saya turuti.” Sangat tidak berattitude. Penata rambut yang sedang mengubek-ubek rambut Leora bahkan menahan tawa. “Aku penasaran.” “Apa?” Bukan Leora namanya jika mengalah dengan telak. Maka, memberi sinyal untuk para penata yang sedang merias hengkang. Berganti tubuhnya yang bergerak maju. “Kenapa kamu nggak pernah lepas baju.” Yang pada intinya, mereka saling melempar bom. Sampai pada acara yang akan di hadiri, raut wajah Raja masam maksimal. Berbanding terbalik dengan Leora yang semringah tiada tanding. Ah, secara mendadak saja ada satu ide yang melintas. Sangat tidak berakhlak tapi Leora akan anggap ini sebagai hiburan. Melihat Raja yang tersiksa dengan wajah merah padam, agaknya permainan yang setara dengan rasa penasarannya. “Ini.” Leora sodorkan sampanye yang telah dirinya racik dengan … “Minum! Nggak ada racunnya.” Kening Raja berkerut-kerut. Dirinya tidak suka di perintah tapi Leora terlalu bernyali memberinya perintah. Meski demikian untuk sopan santun, Raja menerimanya dan meminumnya. Minuman bening itu meluncur ke tenggorokannya. Rasanya tak ada beda dengan sampanye yang biasa dirinya minum. Hingga tandas dan senyum di bibir Leora terbit. Perlahan kakinya menjauh. Ingin melihat sejauh mana Raja menggila. Ada kamar khusus untuk para tamu yang datang guna menginap. Leora ingin melihat lebih jelas semuanya. Malam ini. Ingin tahu apa dan ada apa sebenarnya. *** Leora ingin membeli oleh-oleh. Bukan berupa baju atau makanan dan t***k bengeknya. Mungkin semacam peliharaan yang akhir-akhir ini—entahlah—sedikit menggiurkan. Kucing misalnya. Beberapa waktu terakhir Leora merasa sangat kesepian. Lebih anehnya lagi, ia tidak tahu penyebab pasti kenapa dirinya merasakan perasaan semacam itu. Pengalihan yang di ambil juga tidak banyak membantu. Nyatanya, ketika perasaan sepi itu menelusup dan ia alihkan dengan laptopnya, rasanya semakin berantakan. Ada tangisan yang hendak ia keluarkan, tapi tertahan. Ada perkataan yang ingin ia ungkapkan, tapi kelu. Seperti semua sensor di tubuhnya mati mendadak. ‘Bukankah dalam hidup ini tidak semua yang kita inginkan menjadi kenyataan? Tapi kenapa sakitnya tiada tara seperti ini?’ Rungu Leora samar-samar mendengar kalimat itu. Tapi ia yakin pernah mendengarnya. Kapan tepatnya, memorinya terhalangi. Dan kesedihan melingkupi tanpa permisi. Embusan angin laut yang menerbangkan rambut panjangnya benar-benar latar malam yang mendukung. Untuk dirinya mencurahkan kesedihan malam ini. Atau malah ini caranya berlari dari bayangan terburuk Raja yang sedang menggila? Ah, pasti ini. Hatinya saja sudah berkedut sakit. Kakinya lelah. Berjalan dengan jarak ratusan meter—kabur dari Raja—menguras tenaganya. Seyogyanya, Leora katakan saja apa yang hendak meluncur dari bibirnya ketimbang menjadi pengecut. Kenapa, sih, susah sekali menjadi dirinya? Leora merutuk. Sampai ketika matanya menangkap neon box yang menyala pink terang—pet shop—barulah langkahnya terhenti. Semesta seolah mendukungnya untuk ia hampiri tempat ini. Doanya baru beberapa detik yang lalu dan terkabul di menit selanjutnya. “Mencari apa?” tanya seorang pelayan lelaki muda dan ganteng. Leora tafsir umurnya tidak jauh dari pegawainya di kafe. “Kucing,” jawaban Leora terlampau pendek dengan fokus yang mulai menelusuri. Di rak pertama ia melihat kura-kura, penyu, dan hewan melata lainnya sejenis ular serta kawanannya. Lalu anjing berbagai ukuran dan jenis yang menarik. Dan di rak terakhir paling pojok kumpulan kucing terlihat. Menggugah selera Leora untuk segera berburu. Pertama yang ia lihat jenis anggora besar dengan bulu-bulu cantiknya. Sayang, Leora tidak begitu suka. Yang setidaknya ada banyak jajaran kucing lainnya. Di jajaran selanjutnya—paling ujung ada perkawinan kucing secara silang. Tentu hasilnya lebih eksotis. Bulu-bulunya lain dari kucing pada umumnya sehingga jelas menyita mata Leora untuk berlama-lama. “Yang ini …” tunjuk Leora pada si kuning bercorak orange yang mencolok. “Lucu.” “Ini silang Persia. Identik dengan Persia.” Lelaki bername tag Inggo mengambil apa yang Leora mau dari kandangnya. “Umurnya tiga bulan.” “Saya mau ini.” Tanpa pikir panjang Leora ambil alih kucingnya. “Nama kamu Brandon sekarang.” “Mau sekalian sama makan dan minumnya?” Kepala Leora terangguk namun fokusnya pada Brandon. Begitu semuanya siap, Leora hengkang. *** Pada catatan kelam masa lalu, Raja hantarkan sebuah kisah tragis. Di mana awal bencana merenggut hidupnya. Dan awal di mana hidup barunya terbentuk. Ini kesakitannya yang merubah dirinya menjadi pesakitan. Tidak banyak yang bisa dirinya lakukan selain diam. Karena menyangkut sebuah nama keramat yang sangat Raja puja dan benci sekaligus. Dirinya pikir semua ini sudah benar. Dirinya kira perasaannya takkan membuahkan hasil yang mengecewakan. Tapi faktanya—lagi dan lagi—Raja di hajar habis-habisan pada fatamorgana dunia. Benar. Seharusnya dan memang jangan menempatkan harapan pada manusia. Namun Raja hanya remaja yang baru puber dan merasakan jatuh cinta kala itu. Pengalaman tidak pernah dirinya enyam sebelum malam kelam itu merenggut napasnya. “Kamu milikku.” Bandung, tengah malam dini hari adalah kenakalan Raja begitu menempati bangku SMA kelas satu. Dan kata ‘kamu milikku’ yang membentuk sebuah kalimat pun menyambangi relung Raja. Hatinya yang dingin tersentuh oleh sebuah rayuan. “Selamanya.” Mengawali kehancuran akan mimpi buruknya. Terjadi begitu saja dengan dirinya di bawah kekangan rantai yang membelit tangan dan kakinya. Mulutnya kebas tersumpal celana berbau birahi. Matanya menggelap terhalang dasi merah. Desahan nikmat di atasnya bertempo. Sedetik beringas. Sedetik melamban halus. Sedetik selanjutnya memekikkan suara kerongkongannya yang kering. Raja memiliki pilihan malam itu untuk mati saja. Tapi takdir tidak memberinya ijin. Perempuan ini terus menggempur tubuhnya hingga dendam menyelubungi hidupnya. “Kalian harus mati! Dasar jalang sialan!” Perempuan ketiga yang Raja bawa ke kamar hotelnya terkapar. Menyusul dua di antaranya yang pingsan. Lemah. Itu yang Raja umpatkan. Panas tubuhnya tidak menghilang meski tiga kali pelepasan sudah meluncur. Dan p*****r yang di pesannya tidak memberinya kepuasan sama sekali. Otaknya berpikir, siapa pelakunya? Berani-beraninya menyalakan api di atas ladang gandum yang kering. Kobaran amarah tercetak jelas di bola mata Raja. Satu nama bercokol; Leora. *** Dalam tidurnya Leora tidak tenang. Arahan jarum pendek berada tepat di angka tiga. Suasana mencekam vila yang sepi memberi dukungan keresahan hatinya. Mengingat-ingat apa saja yang mungkin dirinya lewatkan. Semuanya sudah tertata dengan apik. Pintu depan dan semua jendela sudah terkunci. Pintu kamarnya juga sudah terkunci. Brandon juga sudah nyenyak dalam kandangnya berwarna putih. Tidak ada yang terlewatkan. Kecuali … Leora terlonjak bangun. Duduk dengan jantung yang berdetak was-was. Ekor matanya menatap ngeri sosok di depannya. Tubuhnya masih sama bugarnya dari terakhir Leora lihat. Kemejanya rapi, jasnya rapi, rambutnya rapi dan seluruh yang merekat di tubuh suaminya masih rapi. Leora meringis melihat siapa gerangan yang membuka pintunya dengan kasar. Tanpa berkata, yang tentu mendebarkan bagi Leora, Raja berjalan mendekat. Merebahkan diri di samping Leora dan memeluk tubuh mungilnya dengan erat. “Kamu nggak akan selamat besok.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN