Memulai.
Dari situ ingin Raja ungkapkan makna bahagia yang sesungguhnya.
Bahwa hatinya begitu terisi penuh oleh cinta. Bahwa jantungnya berdebar kencang tiap kali memandang wajah lelap di sampingnya. Bahwa inginnya terus bersama tanpa menepis jarak. Bahwa inginnya selalu mengukir kisah berdua untuk di kenang pada masa tuanya nanti. Bahwa harapan-harapan baru untuk memulai sedang di gaungkan dalam hatinya.
Dan keinginan Leora pada pembicaraan: ‘Aku mau kamu’ di realisasikan lewat adegan suami istri pada umumnya. Entah perasaan siapa yang tumpang tindih, di bandingkan memikirkan itu, Raja lebih suka membayangkan tindakan Leora semalam.
Yang begitu panas. Itu terekam jelas dalam ingatannya. Yang bergerak liar mengikuti irama pinggul Raja. Yang mendesahkan suaranya dengan s*****l namun memekik penuh tahanan. Ini lingkup rumah sakit. Memang gila bisa melakukan hal senikmat itu di fasilitas umum.
“Mikirin apa?” Pertanyaan Leora terdengar tidak selow di rungu Raja. “m***m!” cibirnya.
Yeah! Raja tidak peduli. Tidak ingin bertanya bagian mana yang dianggap m***m padahal melakukannya bersama istri sendiri. Jadi sah-sah saja membayangkan yang tidak-tidak bahkan iya-iya. Kecuali jika Raja berfantasi tentang perempuan lain, baru dosa.
“Sama kamu ini.”
Amit-amit saja berdoa untuk Leora yang mau bersikap manis dan kalem. Nggak ada sejarahnya perempuan satu ini bersikap demikian. Tahu dari mana asalnya? Siapa induknya? Pasti tahu.
“Cocotnya di jaga!”
Ya gitu risiko jadi lelaki. Salahnya nggak pakai aturan. Mau benar pun tetap salah. Di buatkan pasal berlapis tetap kalah dengan perempuan yang sudah benar dari lahir.
“Oh! Kamu tahu?” Raja rubah mimik wajahnya yang awalnya sendu menjadi terang benderang. “Yang di sini …” Oke di sini. Baik di sini. Leora tarik napas dan mengembuskan setelah di rasa geli menjalar di kulit perutnya. “Kembar. Dua.”
Namanya kembar ada lebih dari satu. Maka Leora mendengus sebagai jawaban. Kesal maksimal akan tindakan Raja yang meremas-remas. Modusnya rusak banget. Pertama nelusup masuk kaya ular. Terus muter-muter di perut jarinya, ujungnya naik ke atas dan terjadilah kegiatan raba-meraba di ikuti erangan dari mulut Leora.
Damage nggak berakhlak. Sial!
“Terus?!” Menjual mahal sikapnya adalah salah satu contoh untuk Leora agar tidak di nilai mau-mau saja di nista oleh suaminya. “Mau kamu apa?” Duhhh. Otak dan bibir Leora mulai tidak sinkron. Ketika berkata demikian, faktanya kenikmatan yang sedang Raja lakonkan di gundukan kembarnya menyita sebagian kewarasannya.
“Kamulah. Siapa lagi memang?!” Oh waw. Raja ngegas loh. Terasa kesal dan dongkol menjadi satu. Perpaduannya seendes itu. “Kamu bakal kena hukuman kalau nolak maunya suami.”
Paham. Leora tahu ke mana obrolan ini mengarah. “Semalam, kan sudah. Terus kata dokter—”
“Aku sudah konsultasi sebelum ini. Dan dokter bilang oke-oke saja asal pelan.”
“Terus kamu pikir, cara main kamu itu pelan? Lihat nih!?” Leora tunjukkan pergelangan tangannya yang berubah ungu lebam.
Melihatnya, Raja hentikan aktivitasnya. Menarik keluar dan menelan ludah samar. “Masih sakit, ya?”
Tentu Leora lebih bersemangat menyiksa Raja. Kini Leora temukan cara membuat Raja merasakan sesal yang tak berkesudahan. Bukan bermaksud memanfaatkan. Siapa tahu dengan begini akan ada perubahan signifikan untuk Raja mau mengubah gaya bercintanya.
“Banget. Kamu nggak mikirin perasaan aku banget tahu.”
“Ya?” Raja terkejut mendengarnya. Padahal demi Tuhan! Tidak ada maksud yang demikian. “Maaf,” bisiknya penuh sesal. “Aku bakal berubah.”
“Janji?” Leora tak perlu menimang kedua apalagi ketiga kalinya. Untuk Raja, suaminya, masa depannya. Akan Leora carikan jalan keluarnya.
“Hm. Janji.”
Ingatkah mereka?
Pada satu kenangan di masa lalu kala jari kelingking keduanya bertaut?
Ada janji yang belum terlaksana hingga saat ini. Entah siapa yang enggan membicarakan, tapi bagi Raja, janji itu sekadar masa kecilnya yang akan selalu diingatnya. Sedang bagi Leora saat ini adalah harapan di masa depannya. Awalan untuk dirinya memulai segalanya.
***
“Akhirnya isi juga.”
Adalah Sagitarius Yudantha yang sangat heboh kala menyambut sang putri. Pikirnya, oh yeah, tentu. Putri semata wayangnya—hasil persilangan dirinya dengan sang istri Barella Yudantha—berhasil. Pun tidak meragukan dari mana hasil bibit unggul itu berasal.
Laraja Putra Anggoro sangat mumpuni diacungi jempol sebagai menantu idaman.
Ingat dulu papinya yang sekali jebol gawang juga dua?
Nah … tidak heran bakat itu menurun dan mengalir dalam darah Raja.
“Apa kata dokter? Terus kenapa kamu masuk rumah sakit. Aduh! Kamu tuh ngeyel banget. Sudah papi bilang jangan kerja kok tetap ngotot. Apa salahnya, sih naruh orang kepercayaan buat handle resto dan kafe. Nggak akan rugi. Papi jamin.”
Papi Sagi dalam satu kali tarikan napas bisa menghasilkan berderet-deret kata yang dalam benak Leora terukir tanya: Maminya mungut papinya dari mana, sih?
Kurang ajar! Diam-diam Leora sedang belajar menjadi anak durhaka.
“Calm down, Pap.” Maminya bersuara. Ucap syukur di panjatkan dalam hati. “Tanyanya satu-satu. Kasihan cucumu. Gelagapan.”
“Nggak ya mam. Bocah satu ini mesti di kasih pelajaran biar ngerti rasanya kuatir itu kaya mana.”
Sejatinya membantah bukan keputusan yang baik. Jika bisa Leora selesaikan dengan senyum maka menjawab sesantai mungkin menjadi pilihannya.
“Semuanya baik papi. Aku cuma syok atau lebih tepatnya nggak tahu kalau lagi isi.”
Kaget. Barella dan Sagitarius menelan ludah sakit seusai melegut air putihnya. Terkecuali Raja yang memberikan vitamin pada sang istri karena sudah memasuki jamnya.
“Ora nggak sadar, Mi, Pi.” Raja embuskan napasnya. “Salah Raja juga yang fokus sama kantor dan rapat.” Tidak mungkin raja katakan yang sejujurnya mengenai hubungan keduanya sebelum ini. Cerai, Raja tidak bisa membayangkan jika itu terjadi.
“Nggak bisa kamu wakilkan?” Sekeras apapun Barella, jika menyangkut soal anak dan menantu apalagi ada cucu yang sedang berkembang, akan ia usahakan bersikap sewajar mungkin. Meski tidak di pungkiri rasa khawatirnya yang membumbung. “Mulai sekarang, kurangi jadwal kalian. Papi bisa kirim orang buat bantu urus semuanya. Tenang, itu aman.”
Masalahnya bukan pada aman tidaknya kondisi perusahaan. Murni semuanya ada dari diri Leora yang enggan diam barang sedetik pun. Terbiasa mengisi hari-harinya dengan kesibukan, tidak beraktivitas satu hari saja, sudah ingin terbunuh karena kebosanan.
“Tapi mi, pi—”
“Oke. Raja siap. Demi Ora dan bayi-bayi kami.”
Tahu salahnya Raja di mana? Sampai Leora lemparkan tatapan matanya yang tajam. Tentu. Tapi berdebat tentang pekerjaan bukan pembahasan apik di saat kondisi Leora belum pulih total.
“Sewajarnya saja. Ratu dan Langit, kan bisa bantu kamu buat stay di Jakarta sampai beberapa bulan.”
“Kalau Ratu agak susah mi. Cabang di Malang yang papi Radit buka sepenuhnya tanggungjawab dia. Kalau Langit …” Raja menimang pada keputusannya. “Kantor Bandung kosong nggak ada yang pegang.”
Solusi terbaiknya memang harus Raja yang membawa pekerjaan ke rumah sampai Leora melahirkan.