Ratu … jika boleh jujur tidak begitu paham dengan filosofi hidup yang sebenarnya. Sebelum jiwa liarnya terusik karena ketampanan Langit yang memesona. Ratu adalah seorang perempuan yang cuek dan enggak mau melihat kondisi sekitar.
Yang Ratu tahu hanyalah bekerja sesuai waktu yang telah di tentukan dan bersenang-senang kala lelah mendera. Ratu bisa sangat egois dalam hal apapun namun juga bisa mengalah di kondisi genting sekali pun.
Sayangnya semua itu sirna. Saat Langit hadir dan menyilaukan matanya. Ratu … menjadi gelap mata dan menunjukkan sisi lain dalam dirinya. Tidak banyak yang tahu tentang ini. Karena sejatinya, yang paling tahu tentang diri kita adalah diri sendiri. Sedekat apapun seorang Ibu terhadap anak-anaknya, takkan bisa sampai menyentuh di titik ini.
Embusan napas Ratu terdengar bersamaan asap rokok yang mengepul dari mulutnya. Surabaya sangat membosankan. Karena tidak ada Langit di sini. Hatinya sangat sepi dan kegundahan hatinya terus meresahkan. Ratu butuh Langit. Tapi Raja memisahkannya. Ratu cinta Langit. Namun semesta tak mendukungnya.
‘Nggak seharusnya mami dan papi lahirin Langit.’
Begitu seterusnya raungan batinnya.
Entah mengapa Ratu sangat kesal dengan fakta ini.
Meski begitu, ada sederet kalimat yang menghantam pikirannya. Hanya tiga makna dari filosofi hidup dan Ratu bisa kembali enerjik dengan itu.
1. Jika kamu tidak mengejar apa yang kamu inginkan, maka kamu tidak akan pernah memilikinya.
2. Jika kamu tidak bertanya, maka jawabannya akan selalu ‘TIDAK’.
Dan terakhir ...
3. Jika kamu tidak melangkah maju, maka kamu akan selalu berada di tempat yang sama selamanya.
Maka Ratu matikan putung rokoknya. Pertama-tama yang harus Ratu lakukan adalah mengejar. Apa yang menjadi keinginannya harus Ratu gapai. Apa yang selama ini Ratu lakukan harus membuahkan hasil. Dan apa yang Ratu impikan harus tergantung setinggi langit bersama dengan ambisinya.
Akan Ratu cari jawaban akan semua impiannya. Tidak peduli meski harus terhalang restu dan lainnya. Bukankah Langit juga sudah mengatakan menginginkan dirinya untuk di miliki. Bukankah itu artinya keduanya wajib bersama?
Persetan dengan Raja dan semua aturan yang telah orangtuanya terapkan. Karena cinta memang sebuta itu bagi pelakunya.
Maminya—Senja—pernah memberinya petuah sederhana perihal jodoh. Bahwasannya: jodoh nggak ada yang sempurna. Tapi setidaknya carilah yang mau mendengarkan keluh kesahmu dan segala cerita keseharianmu yang itu-itu saja. Dan dengannya, tak lantas membuat dirimu merasa kalua kamu membosankan dan menyebalkan.
Bukankah selama ini hanya Langit yang menjadi kandidat paling tepat untuk Ratu jadikan jodoh?
Langit yang selalu memberinya dukungan walau secara diam-diam.
Langit yang selalu hadir untuknya di kala sergapan lelah mendera.
Langit yang selalu ada untuknya di saat kesedihan mulai menyambangi.
Langit yang hadir merengkuh tubuhnya saat kesepian mulai merenggut kepercayaan dirinya.
Dan selama ini hanya Langit yang selalu ada untuknya membuat Ratu merasa sangat di miliki dan diinginkan.
Hanya Raja yang kejam memisahkan dirinya dengan Langit.
Hanya Raja yang menentang segala kebersamaan ini setelah apa yang Ratu rasakan disebut kenyamanan.
Tidak tahukah Ratu bahwa itu semua adalah obsesi yang gila?
***
Leora menyesap s**u hamilnya.
Di malam hari menjelang tidur, rutinitas itu menjadi agenda baru yang tak bisa di lewatkan. Atau akan ada pawang yang berceloteh sepanjang malam bila sampai terlupa.
“Sudah,” katanya menyodorkan kembali gelas kosong kepada Raja, suaminya. “Tapi aku belum ngantuk.”
Embusan napas Raja terhela dengan lembut. Raut wajahnya lelah. Leora tahu dan melihat tatapan matanya yang sayu menahan kantuk. Tapi Raja adalah suami yang hebat. Lelakinya itu mampu menjadi apa saja selama di kehamilan Leora ini.
“Ibu hami nggak baik kena angina malam.”
Inginnya Leora membantah. Namun hanya kerucutan bibirnya yang menjadi jawaban. Rasanya sangat tidak tega mendebat Raja di jam selarut ini.
“Mau aku bikini camilan? Atau mau pudding dingin?”
Mirisnya ialah, Raja selalu bisa membujuk Leora. Dalam artian mood Leora kembali membaik jika itu sudah Raja yang bertindak. Sekecil apapun itu usaha Raja untuk membuat Leora senang, maka letupan-letupan molekul dalam diri Leora takkan sekejap mata padam. Malah justru membesar.
“Strawberry.” Riangnya bersorak.
Raja setujui dengan senyum mengembang. Mengelus kepala Leora, mengecup keningnya sejenak dan bergegas keluar kamar.
Tidak hanya berlaku bagi Leora saja. Raja pun demikian. Leora sangat menggemaskan jika tidak bisa membantah segala titah dirinya. Raja menjadi sangat di hargai oleh Leora.
Sampai pada akhirnya Raja berada di tahap ikhlas. Akan masa lalunya yang buruk. Akan sikapnya yang kejam terhadap Leora dan pada dirinya sendiri yang terlampau egois. Sudah cukup rasanya untuk berada di titik ini. Yang tidak selangkah dua langkah dalam menjajaki tangga keberhasilan. Lepas dari masa lalu adalah doa-doa Raja selama ini.
“Kok lama banget, sih?” gerutuan Leora membuyarkan lamunan Raja.
Oh ya, beruntung lagi tubuhnya sudah berada di depan kulkas meski hanya terdiam kaku. Dan tangannya segera mengambil sepiring pudding permintaan Leora.
“Aku mikir mau ngambil topping apa tadi. Tapi kamu keburu dating.”
“Aja lama.” Vokal Leora berubah manja. Kepalanya menunduk menjuntaikan rambutnya yang panjang. Aduh kiyowo sekali istrinya ini. “Aku, 'kan kangen,” sambungnya yang tanpa di duga-duga.
Raja hentikan tangannya yang hendak memotong pudding menjadi beberapa bagian. Dan membalikkan tubuhnya, merengkuh Leora untuk selanjutnya bibirnya yang bekerja. Mengecupi seluruh wajah Leora, leher dan dadanya yang sekal.
“Aku di sini tapi kamu kangen. Kalau aku kerja kangen juga?” Tanpa malu-malu Leora anggukkan kepalanya. “Kenapa?” Raja penasaran.
“Enggak tahu. Tapi aku kangen. Aku pengen di dekat kamu terus.”
“Kamu atau anak kita?” Raja ingin memastikan bahwa ini murni keinginan Leora meski tipis harapannya.
“Enggak tahu juga. Mungkin maunya anak kamu.”
Duh, Nak! Please jangan bikin mami kamu menggemaskan kayak gini!
Batin suci Raja meronta-ronta. Karena tingkah calon anaknya, Raja ingin menyerang Leora dengan beringas dan berkali-kali lipat ingin jadi pemalas.
“Aku tuh bosan di rumah.”
Sudah Raja lanjutkan kembali acara memotong pudding dan Leora duduk di kursi makan dengan anteng. Tangannya mencomot satu pudding, mengunyah dengan terburu-buru, lalu kembali mengambil tanpa peduli berapa potong yang sudah masuk ke dalam perutnya.
“Pengen ikut Aja ke kantor. Tapi pasti riweh. Soalnya bakal rewel ke Aja.”
“Ayo,” ajak Raja dengan semangat. Kunyahan Leora berhenti. “Telan Sayang.” Dan diikuti tanpa bantahan. “Kamu bisa ikut aku ke kantor. Aku punya banyak masalah yang pengen di diskusiin bareng kamu.”
“Bisa memangnya?” Raja angkat kedua bahunya. Tanda bahwa itu sejenis jawaban ‘why not’. “Nggak repot? Kalau ada meeting gimana?”
“Kamu bisa duduk di samping aku. Ada masukan yang nggak kamu suka, bisa kamu sampaikan. Aku juga butuh pendukung.”
“Kafe gimana?”
“Kita bisa ke sana pas jam makan siang atau kalau kamu bosan di kantor dan pengen ke kafe, aku bisa antar.”
Tahu tidak, sih?
Raja manis banget.
Dan Leora melumat bibir yang menjadi candunya selama ini.