Kecil dulu Raja pernah berkata begini ke papinya.
“Aja mau Ora.”
Yang di balas senyuman oleh Radit Anggoro. Kelam matanya menatapi sang putra pertama penuh saksama. Minat yang di minta putranya tidak main-main. Lantaran begitu dekat dengan sang anak, Radit tahu binar apa saja yang akan anaknya pancarkan. Ekspresi serta raut yang di tunjukkan putranya tentu Radit pelajari sejak dini. Dan saat ini, tatapan putranya mengarah pada obsesi objeknya.
Leora Yudantha. Yang takkan Radit sebutkan umurnya tapi putranya memang sudah berengsek sejak bayi. Bukan bermaksud tidak sopan mengatai darah dagingnya demikian, tapi—yeah—apakah pantas bocah umur lima tahun menyatakan cinta pada balita tiga tahun?
Itu hanya anaknya saja pelakunya.
“Mau berjanji sama Papi?”
Bukan persetujuan yang Radit ucapkan. Ingat ketika Radit sampaikan janjinya bahwa masa depan anak-anaknya harus di gapai lewat jaminannya tapi penuh dengan kesungguhan untuk menggapainya? Detik ini sedang Radit jalankan perannya.
“Apa?”
Tentu. Laraja Putra Anggoro cetakan sempurna dirinya yang 75% dingin di masa muda dan ramah seperti maminya di masa remaja. Sifat itu mendominasi Raja yang dingin namun hangat di saat bersamaan. Sedang 25% misterius. Kecil-kecil begini, Radit acap kali di buat penasaran. Tingkah laku Raja tidak sepenuhnya bisa di tebak. Terlalu sulit, kadang jauh dan hitam menguasai.
Namun bukan itu yang ingin Radit jelaskan lewat tatapan matanya. Putranya menyahut tanpa menoleh padanya. Itu yang menyentil ginjalnya. Aduh! Radit sudah berumur tapi tingkat kebaperannya menjadi-jadi.
“Jaga Mami sama adik-adik kamu buat Papi. Bisa?”
Barulah kepalanya meneleng. Mengalihkan kekagumannya pada Leora yang menggemaskan nan cantik dan menatap Papinya dengan serius.
“Aja sudah jaga mami,” jawabannya sok dewasa. “Papi bilang Aja punya tanggungjawab penuh buat mami.”
“Benar.”
“Telus?”
Ini yang namanya cinta? Bicara saja masih belepotan.
“Kamu punya dua adik.”
“Atu dan Angit sudah gede Papi.”
Embusan napas Radit terdengar. Percuma! Keahlian debat yang Radit miliki menurun sempurna pada Raja. Kegigihan pada keinginan yang menancap kuat di diri Radit juga menurun pada Raja. Jadi, ketimbang mendidik dengan isi penuh debat. Lebih baik Radit perhatikan; sejauh mana putranya akan bertindak.
Hingga ketika tumbuh remaja, sungguh sangat di sayangkan. Perilaku Raja yang ramah pada siapa pun, yang menurut keluarganya sudah ‘lebih manusiawi’ justru hancur berkeping-keping. Terselimuti dengan trauma dan dendam. Kesalahpahaman yang tiada ujung menjadikan Raja pribadi kejam tak bertulang.
Dan sesalnya baru sekarang Raja rasakan.
Di mana tangannya gemetar hebat. Kedua kakinya tremor—hampir-hampir lumpuh. Menangis diam tanpa suara.
“Hebatnya mereka kuat.”
Belum Raja tarik kesadarannya. Otaknya masih sibuk berpikir. Benaknya terus menyimpulkan berbagai spekulasi.
“Harusnya kamu senang memiliki Leora.”
Raja lirikkan matanya. Bola hitamnya bergulir setelah puas melakukan aksi bencinya. Lelaki berjas dokter—Adrian Wirthama—tidak sudi Raja sebut namanya adalah musuh bebuyutannya. Tidak dalam dunia persaingan bisnis yang membuat Raja melabeli ‘musuh’ namun juga mantan pacar Leora. Bayangkan saja!
“Bacot!”
“Anjing ini!” Rambu geram. Menggeplak kepala belakang Raja tanpa peduli si empunya berdecak. “Jangan ngadi-ngadi. Jangan buat ulah. Bertingkah sekali, gue bawa Leo!”
Itu bukan sekadar ancaman. Raja tahu. Renca Rambu menaruh hati pada Leora yang sayangnya Raja seleding sejak masa kanak-kanak dulu.
Begini ucapannya:
“Ora itu punya aku.” Raja kukuh pada kata-katanya.
Yeu bocah kok sudah cinta-cintaan. Kencing juga masih di celana.
“Ndak isa! Ambu cuka Ora.”
“Nggak! Ora cuma cinta sama Aja.”
Aduh bocah! Kenapa kalian rebutannya sudah perkara cewek, sih, ketimbang mainan?
Kira-kira seperti itu keluhan para orang dewasa yang berada di tempat. Tapi menentang mereka apalagi sampai memisahkan adu pilihannya, hasilnya nihil. Ujungnya mereka akan berbaikan atau kalau tidak saling ejek yang berakhir dengan:
“Oke. Kalau gitu, siapa cepat dia dapat. Siapa tepat dia selamat.”
Yowoh Raja! Sudah berpidato macam zaman PKI tahun ’65 dulu.
“Gimana?” Rambu plonga-plongo.
“Siapa yang bisa sentuh Leora, itu yang jadi suaminya.”
Terkabul!
Seolah semesta sudah mendukung dan takdir Tuhan sudah menggariskan Raja-Leora berjodoh. Langit pun tak bisa menentang. Bumi tak kuasa menolak. Malam nahas sepuluh tahun lalu terjadi. Raja yang mabuk dan gila menyetubuhi Leora dengan beringas. Mengikat kedua tangan perempuan berseragam putih abu di tiang gudang sekolah serta kedua kakinya terikat kencang. Mulut serta matanya tersumpal dan tertutup rapat. Sedang Raja hikmat dalam berbuka. Leora merintih kesakitan.
“Umur lo sudah cukup mapan buat jadi papi. Leora juga pantas buat jadi mami. Anak-anak kalian bakal double gila begitu lahir nanti.”
Kesadaran Raja pada kenangan masa lampau terseret kembali. Kenyataan bahwa Leora hamil—meski membuatnya terkejut—debaran senang bernaung di hatinya.
“Lo mau apa?” tanya Renca yang sebal pada keterdiaman Raja. Sering Renca mengumpat: Raja ini manusia atau patung? Atau patung yang menyerupai manusia?
“Leora.”
“b*****t! Gue serius?!”
Sumpah. Setelah ini Renca ingin mengecek tensinya. Apakah darah tinggi dadakan atau masih normal.
“Bayi-bayi kalian—”
“Bayi-bayi?” potong Raja cepat. Kepalanya menoleh menatap Adrian tajam.
“Hm. Bayi-bayi kalian sehat. Kamu mesti jaga kestabilan Leora buat jangan stres atau kelelahan. Oh ya, dia juga nggak boleh telat makan.”
“Kenapa lo peduli?” Sarkas Raja berdecih.
“Gue dokternya su—”
“Gue pecat lo!” Semena-mena.
Hei! Renca mengerjapkan matanya. Yang punya rumah sakit ini dirinya. Kenapa Raja yang memutuskan hak kerja bawahannya.
“Ya! Lo …”
“Diam! Atau gue cabut semua saham dan fasilitas di sini?”
Kiceup. Renca menutup mulutnya yang sudah terbuka. Kedua kakinya menghentak dan tubuhnya gemulai dalam merespon.
“Sialan!”
Sekali pun mengumpat, takkan mengubah apapun.
“Pergi lo!”
Adrian tak banyak berkutik. Menurut dan lekas pergi.
“Kamu nggak di pecat. Tetap di sini. Kasih rekomendasi dokter kandungan untuk Leora.”
Suara Renca mengudara. Raja tidak peduli. Yang menjadi fokusnya kini Leora. Istrinya itu masih asik dengan mimpinya. Mungkin bercengkerama dengan anak-anak mereka.
Anak-anak?
Tanpa terasa senyum Raja mengembang. Pertama kalinya dalam sejarah rekahan bibirnya menjadi manis layaknya madu. Dan semu di kedua pipinya lebih membuatnya hidup.
“Leo, kamu harus bangun,” bisiknya mengusap punggung tangan Leora. “Kamu harus bangun buat bayi-bayi kita.”
Tangan Leora yang bebas infus di bawa menuju ke bibirnya. Raja kecup dalam-dalam tangan halus itu. Ia bisikkan kata-kata penguat yang reflek melintas di kepalanya.
“Kita nggak boleh pisah. Aku nggak mau pisah dari kamu. Aku nggak mau kita makin jauh kaya dulu. Aku juga nggak mau semuanya berakhir cepat. Ora …” panggil Raja lirih. “Aku cinta kamu. Aku cinta bayi-bayi kita. Aku masih mau punya anak seterusnya sama kamu. Aku mau tua bareng kamu. Aku mau lakuin semuanya bareng kamu. Asal kamu.”