Ocha baru sadar bahwa langkah kakinya sudah membawa dirinya ke atap rumah sakit. Ocha masih menangis, air matanya seperti tak mau berhenti mengalir. Mengusap wajahnya kasar Ocha bergerak melangkah ke tempat yang paling pojok. Ocha duduk seraya mendekap tubuhnya erat-erat, dalam hati terus menyalahkan dirinya sendiri. Semua yang menimpa sang Mama merupakan ulahnya. "Ma-Mama pasti be-benci Ocha, Mama pa-pasti marah sama Ocha," katanya dengan nada bergetar. Suaranya sudah terdengar serak. Aerosha Tania merasa tidak bisa mendeskripsikan perasaannya. Namun siapa pun pasti tahu bahwa saat ini gadis itu sangat hancur. "Semua salah Ocha, Ocha bodoh. Ocha bodoh!!" Ocha bahkan membenturkan kepalanya ke tembok, tidak peduli dengan rasa sakit yang ia rasakan, tidak peduli juga dengan keningnya yan

