Merasa tak sabar, Hazal bangkit dari duduknya dan seketika teringat keadaan Cambria. Ia bergegas menuju kamarnya yang dari kejauhan nampak terbuka lebar tanpa seorang pun pengawal berjaga di depan pintu, hal yang seharusnya tak terjadi. Langkahnya memelan. Sambil menelan ludah ia memegang pistol erat-erat, cemas jikalau muncul seseorang akan menyergap dalam kelengahan. Letupan sepatu terdengar mengisi keheningan hingga tiba di dalam kamar dan suara musik terdengar sayup mengisi ruangan kosong yang sepi, dengan jendela yang terbuka lebar dan tirai yang tertiup angin malam. Sendu yang mengerikan dan musik yang ia dengar sama sekali tak asing hingga tangan Hazal berkeringat. "Afreen" Ia memanggil nama yang selama ini tidak pernah ia sebut dengan suara parau dan bergetar berulang kali, n

