Kelopak matanya yang dalam terbuka. Hazal memijit keningnya yang sakit, dan melihat ruangan di mana ia berada pagi itu. seketika diingatnya kembali kejadian semalam dan wajahnya yang pucat nampak merah padam. Ia menghempas selimut kasar ke lantai lalu menerobos pintu tanpa mengganti piama kream yang membalut keseluruhan tubuh sempurnanya. Semua orang memperhatikan tampilan tak biasanya yang tak sesuai aturan istana, tapi kali itu ia sama sekali tak peduli pada apa yang ia kenakan. Langkahnya tergesa seolah diburu, hingga rasa sakit kepalanya yang seolah terhantam batu bukan lagi masalah besar. Cambria sedang berganti pakaian dibantu beberapa pelayan ketika ia melihat dari balik cermin seorang tamu sedang berkunjung ke kamarnya. Melihat Hazal yang penuh amarah, ia tau pria itu amat kesal

