Vero mendekatkan dirinya ke Kailin. Namun, pria itu segera mundur karena ia tak ingin ada kontak fisik pada wanita yang belum resmi menjadi istrinya.
"Aku nggak akan ungkit-ungkit masalah ini lagi, Kai. Aku minta maaf. Tolong jangan batalin niat kamu buat nikahin aku," ucap Vero dengan suara lirih. Ia berusaha keras menampilkan mimik wajah mengiba agar Kailin merasa kasihan padanya.
Kailin sendiri merasa sulit untuk mengambil keputusan. Ia sadar, janjinya menikahi Vero memang terburu-buru. Namun, ia tak bisa menampik kalau ia masih memiliki perasaan untuk wanita yang ada di hadapannya itu. "Baiklah. Aku akan tetap menikahimu, asal kamu janji kalau kamu nggak akan minta aku buat ceraiin istri aku. Bagaimanapun, dia udah jadi bagian dari hidup aku, Ve. Aku bener-bener mengharap kamu mau mengerti."
Vero mengangguk.
Kedua manusia itu lalu saling bertatapan untuk beberapa saat dan lalu terkekeh pelan.
"Ya udah, aku pulang dulu. Udah malem, kamu masuk sana."
"Aku masuk kalau udah lihat kamu pergi. Aku masih kangen," ucap Vero dengan suara manja.
Kailin tersenyum senang. "Kangennya ditahan dulu, kalau kita udah sah jadi suami istri, aku akan ke sini setiap hari."
Vero tersenyum senang. Kailin lalu pulang setelah berpamitan pada calon istri keduanya itu.
Kailin langsung pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, ia melihat Kani yang masih menggendong Kaira di ruang keluarga. "Kenapa?" tanyanya lirih. Ia melihat anaknya tidur di gendongan sang istri.
"Kaira demam, Mas. Rewel, maunya digendong terus," jawab Kani dengan suara berbisik.
Kailin menempelkan tangannya ke kepala sang anak untuk memeriksa suhu tubuh anaknya itu.
"Udah dingin, Mas. Tadi udah minum obat," ucap Kani lagi.
Kailin terdiam, ia merasa bersalah pada anak dan istrinya. Ketika anak dan istrinya membutuhkannya, ia malah sibuk dengan orang lain. "Kenapa aku jadi ragu untuk menikahi Vero?" ucapnya dalam hati.
"Mas, kok melamun?" tanya Kani ketika melihat suaminya menatap kosong pada lantai.
"Ah, enggak, aku cuma khawatir sama Kaira."
"Kaira nggak apa-apa, Mas. Kalau capek, Mas tidur dulu aja. Udah solat belum?" tanya Kani penuh perhatian.
"Belum, aku solat dulu, ya. Nanti gantian aku aja yang gendong Kaira."
"Nggak usah, Mas. Ini juga mau aku tidurin di kasur, kalau nggak nangis lagi, ya nggak usah digendong."
Kailin mengangguk. Ia lalu tersenyum sebelum akhirnya pergi meninggalkan istrinya di ruang keluarga.
.
.
Seperti biasa, pagi ini Vero mengantar Disa ke sekolah setelah membuatkan bekal makan siang untuk putrinya itu. Setelah mengantar Disa, ia baru kembali ke rumah dan memulai pekerjaannya sebagai beauty vlogger. Ya, janda beranak satu itu memang mencari nafkah dengan memanfaatkan teknologi yang ada saat ini. Selain karena cantik, ia juga pandai mengaplikasikan kosmetik di wajahnya.
Dengan menjadi beauty vlogger, Vero bisa meraup keuntungan yang cukup besar dari endorse beberapa kosmetik yang ia pakai. Belum lagi ia masih mendapatkan penghasilan dari salah satu situs online yang sangat populer karena videonya yang menarik dan disukai banyak orang. Tak heran jika Kailin masih memiliki perasaan padanya, pasalnya ia pandai memoles wajah sehi ngga tampak semakin cantik walau sudah memiliki anak.
Vero memiliki satu ruang khusus di rumahnya yang biasa ia gunakan untuk merekam apa yang ia lakukan itu. Wanita itu kini sudah selesai merekam dan tengah mengedit video sebelum akhirnya diunggah ke media sosialnya. "Kalau aku udah jadi istrinya Kai, aku nggak perlu capek-capek cari duit. Aku bisa minta semua uang buat kebutuhan aku sama dia," ujar Vero dengan suara lirih.
Tak lama kemudian, suara bel berbunyi. Wanita itu tak mempedulikannya karena ada asisten rumah tangganya yang akan melihat tamu yang datang. Seperti dugaannya, asisten rumah tangganya mengetuk pintu ruang kerjanya. "Mbak, ada Ibu sama Bapak."
"Ibu sama Bapak?"
"Iya, Mbak."
"Ya udah, aku keluar sekarang."
Vero kemudian keluar dari ruang kerjanya dan menuju ke ruang tamu. Ia cukup terkejut karena orang tuanya datang tanpa memberi tahunya terlebih dahulu.
"Kok nggak telepon dulu?" tanya Vero sambil duduk di sofa. Ibunya yang bernama Susi dan ayahnya yang bernama Santoso hanya tersenyum melihat putrinya itu.
"Malah senyum aja. Curiga ini aku, pasti ada maunya." Vero mendengus kesal.
Tak lama kemudian, asisten rumah tangganya yang bernama Sri membawa nampan yang berisi 3 cangkir teh. "Ini tehnya Bu, Pak, diminum."
"Terima kasih, Mbak Sri." Susi dan Santoso kompak mengucapkan terima kasih.
Setelah Sri pergi, Vero kembali menatap kedua orang tuanya dengan penuh curiga. "Kenapa Ibu sama Bapak ke sini? Mau jodohin Vero lagi?" tanya Vero dengan nada sinis.
Setelah perceraiannya, Vero memang kerap dikenalkan oleh pria-pria pilihan orang tuanya. Mulai dari yang single sampai yang sudah menyandang status duda, sayangnya tak ada satu pun yang masuk dalam kriteria janda cantik itu.
"Bukan jodohin, Ibu sama Bapak cuma mau kenalin aja. Siapa tahu kalian berjodoh," ucap Susi dengan senyum yang mengembang di wajahnya.
"Sama aja, Bu. Vero nggak mau, pilihan Ibu sama Bapak nggak ada yang bagus. Kalau wajahnya OK, dompetnya tipis. Giliran dompetnya OK, orangnya udah tua, om-om, perutnya buncit lagi. Ogah, Vero nggak mau!"
Susi dan Santoso saling adu tatap. "Kenalan dulu aja, Ve," ucap Santoso.
"Bu, Pak, Vero tahu Ibu sama Bapak begini karena rasa bersalah Ibu sama Bapak karena udah jodohin Vero sama Mas Rudi. Ibu sama Bapak nggak usah begini, Vero pasti menikah, kok." Vero masih takut untuk memberi tahu kedua orang tuanya tentang rencana pernikahannya dengan Kailin.
"Sampai kapan kamu mau menjanda, Ve? Nggak baik jadi janda lama-lama." Susi mengembuskan napas panjang. Ia tak suka dengan status anaknya, banyak orang dan saudara yang menggunjing tentang status anaknya itu, membuatnya sering sulit tidur.
"Bapak sama Ibu tahu kamu pinter cari duit. Tapi gimanapun, kamu tetep butuh sosok pria di rumah ini, Ve." Santoso ikut menasehati anaknya.
"Iya, gimana pun, kamu tetep butuh suami. Disa butuh ayah, kamu jangan abaikan anak kamu karena keegoisan kamu." Susi kembali berbicara, membuat Ve merasa kalau dirinya dipojokkan.
"Vero bakal nikah, Vero udah punya calon!" Vero memekik, mengakui rencana pernikahannya. Susi dan Santoso membulatkan mata, lalu saling bertatapan dan keduanya tersenyum senang.
"Kamu nggak bohong, kan?" tanya Susi.
Vero tampak gugup. Bibirnya terasa kaku untuk beberapa saat. Sampai akhirnya ia memberanikan diri untuk menceritakan semuanya. "Vero mau jadi madu," ucapnya lirih.
"Apa? Madu?!" tanya Santoso dengan volume suara meninggi. Ia begitu terkejut dengan keputusan anaknya. Selama ini ia berharap anaknya segera menikah lagi. Namun, ia tak ingin anaknya menjadi madu untuk wanita lain.
"Kamu jangan gila, Ve. Siapa laki-laki itu?" tanya Susi dengan suara yang terdengar gemetar.
Vero menunduk, ia malu dan takut. Ia memainkan jemari tangannya di atas pahanya.
"Jawab, Ve!" teriak Santoso.
"Apa kamu mau merusak rumah tangga orang lain? Apa kamu menggoda suami orang lain?!" Susi naik darah, air matanya menetes perlahan. Sebagai wanita, ia tahu persis bagaimana rasanya menjadi wanita yang harus tersakiti karena adanya orang ketiga.
"Kamu tahu sendiri gimana sakitnya saat Rudi itu selingkuh. Kenapa kamu tega merusak rumah tangga orang lain, Ve?! Kenapa?!" Santoso menggebrak meja, membuat Vero melonjak kaget.
"Aku nggak menggoda suami orang, Pak, Bu. Dia Kailin, mantan pacar Vero pas SMA. Kami putus karena Bapak sama Ibu jodohin Vero sama Mas Rudi. Kami ketemu lagi beberapa hari yang lalu, kami masih saling cinta dan Kailin berjanji akan menikahi Vero." Vero menjelaskan apa yang terjadi dengan air mata yang menetes pelan di wajahnya. Suaranya pun terdengar gemetar, bagaimanapun ia tetap takut dihadapkan dengan kemarahan kedua orang tuanya.
Susi dan Santoso mengalihkan pandangan mereka.
Susi kembali menatap anaknya dengan tatapan sendu. "Kamu jujur sama Ibu, apa kamu hamil?" tanyanya dengan gugup, ia benar-benar takut anaknya melakukan dosa besar.
"Nggak, Bu. Vero nggak pernah melakukan hal itu dengan siapapun kecuali Mas Rudi. Vero mau menikah dengan Kailin murni karena kami masih saling cinta."
"Lalu apa istrinya setuju?" tanya Susi lagi, Santoso ikut menatap anaknya dengan tatapan lekat.
Vero menggeleng lemah. "Kailin bilang dia mau rahasiain pernikahan kami dari istrinya. Dia bilang dia akan cerita kalau waktunya sudah tiba."
Susi dan Santoso menangis bersama. Suasana menjadi tegang dan haru seketika. Vero pun merasa bersalah pada orang tuanya. Namun, ia tak ingin berbohong pada kedua orang tuanya. Seperti yang Kailin katakan tadi malam, ia tetap membutuhkan orang tuanya untuk merestui pernikahannya. Apalagi sang ayah, yang memang harus menjadi wali nikahnya.
"Vero sama Kailin masih saling cinta, Bu, Pak. Tolong restui hubungan kami." Dengan merendahkan suaranya, Vero meminta restu pada kedua orang tuanya yang masih menangis.
Susi menggelengkan kepalanya. "Ibu nggak mau kamu jadi duri dalam rumah tangga orang lain, Ve. Ibu nggak mau kamu jadi madu. Ibu nggak rela!" Susi memukul dadanya berkali-kali.
"Apa nggak ada pria lain di dunia ini sampe kamu harus menikah dengan suami orang?" Santoso bertanya dengan suara serak, ia masih saja menangis.
Vero ikut menangis. "Apa aku salah mencintai pria yang juga cinta sama aku? Kami saling cinta, Bu, Pak! Toh di agama kita, poligami itu diperbolehkan." Vero masih berusaha meyakinkan kedua orang tuanya.
"Sudah-sudah, Ibu sama Bapak nggak setuju kamu menikah dengan pria yang masih menyandang status suami wanita lain. Bilang sama orang itu, ceraikan istrinya kalau dia benar-benar mau menikahi kamu. Kalau kamu ngeyel, Bapak nggak akan anggap kamu sebagai anak Bapak lagi." Santoso beranjak dari tempat duduknya. Tangannya meraih tangan sang istri dan menarik istrinya itu untuk meninggalkan rumah anak mereka.
Susi dan Santoso pergi dengan derai air mata karena rasa kecewa mereka pada sang anak. Bahkan, keduanya belum mencicipi teh buatan Sri.
Vero menatap salah satu cangkir yang berisi teh yang masih penuh itu dengan air mata yang tak berhenti mengalir. "Apa kalian lebih suka kalau aku nikahnya diem-diem? Tanpa izin kalian?"
Vero menunduk dan lalu menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya. Ia menangis dengan suara lantang, sampai asisten rumah tangganya mendengarnya dari dapur sana.
.
Berbeda dengan Vero yang selalu tampil cantik, Kani tampil dengan sederhana. Wanita itu kini masih sibuk dengan profesinya sebagai guru TK.
"Satu-satu aku sayang ibu, dua-dua juga sayang ayah, tiga-tiga sayang adik kakak, satu dua tiga sayang semuanya." Kani sedang mengajari anak didiknya untuk bernyanyi. Suasana di dalam kelas sangat ramai, maklum saja namanya juga anak-anak.
Cita-cita Kani dari dulu memang ingin menjadi guru TK. Ia begitu menyukai anak kecil dan menganggap anak-anak sebagai obat lelah. Itu sebabnya, ia menikmati pekerjaannya sebagai tenaga didik di salah satu TK yang tak jauh dari rumahnya. Selain itu, ia bisa mengajak sekaligus mengasuh Kaira-buah hatinya dengan lebih leluasa, tak seperti wanita kantoran yang sibuk bekerja dan menitipkan anaknya ke orang lain.
"Bu Kani, Kaira makin pinter aja. Dia hampir hapal semua lagu-lagunya loh," ucap Sari, salah satu teman Kani yang juga merupakan guru di TK itu.
Kani tersenyum. "Alkhamdulillah, Kaira mirip ayahnya, otaknya encer." Kani merasa bangga.
"Ibunya juga encer," bisik Sari yang ingin memuji temannya itu.
Ketika tiba waktunya istirahat, Kani menyuapi Kaira dengan bekal makanan yang sudah ia siapkan seperti biasa. Saat itu, beberapa guru sedang membicarakan masalah rumah tangga Juki-tetangga Kani yang ditinggal istrinya karena menikah lagi.
"Duh, aku nggak nyangka, ya, Pak Juki ternyata doyan daun muda. Istri barunya itu masih muda, pantas saja Pak Juki mau menikah lagi," ucap salah satu guru.
"Kasihan istrinya, padahal rumah tangganya selama ini baik-baik aja," sambung yang lain.
"Bu Kani, hati-hati jaga suaminya. Pak Kai kan ganteng, pasti banyak yang menggoda tuh."
Kani terkejut ketika salah satu temannya mengungkit urusan rumah tangganya dan sang suami. "Ah, iya, Bu," jawabnya singkat. Ia kembali menyuapi Kaira dan pura-pura tak peduli dengan ucapan temannya. Namun, sebenarnya di dalam hatinya, ia menaruh rasa curiga pada sang suami setelah kemarin sang suami bertanya padanya tentang poligami.
"Selain ganteng, Pak Kai juga mapan, pasti banyak yang pengen dinikahin sama Pak Kai. Duh, kalau aku yang jadi Bu Kani, aku mau jaga Pak Kai 24 jam."
"Iya, ya. Biarpun suami kita setia, namanya kucing, kalau dikasih ikan tetep aja tergoda."
Teman-teman Kani malah membuat wanita itu merasa takut dan gusar. Ia tak mengelak kalau apa yang teman-temannya ucapkan itu ada benarnya. Namun, sekali lagi ia meyakinkan dirinya sendiri kalau suaminya tak akan tega menyakiti hatinya.
"Jangan didengerin, Bu. Aku percaya, Pak Kai suami yang setia." Sari mencoba menghibur Kani agar tak terpengaruh dengan ucapan teman-teman yang lain. Kani hanya tersenyum menanggapinya.
"Aku percaya sama Mas Kailin," ucapnya berkali-kali di dalam hati. Wajahnya tersenyum ayu sambil menyuapi sang anak, namun di dalam hatinya ia begitu gugup dan takut kalau sang suami berselingkuh di belakangnya.
Bersambung...
Hai...
Ini karya orisinal aku yang hanya exclusive ada di Innovel/Dreame/aplikasi sejenis di bawah naungan STARY PTE.
Kalau kalian membaca dalam bentuk PDF/foto atau di platform lain, maka bisa dipastikan cerita ini sudah DISEBARLUASKAN secara TIDAK BERTANGGUNGJAWAB.
Dengan kata lain, kalian membaca cerita hasil curian. Perlu kalian ketahui, cara tersebut tidak PERNAH SAYA IKHLASKAN baik di dunia atau akhirat. Karena dari cerita ini, ada penghasilan saya yang kalian curi. Kalau kalian membaca cerita dari hasil curian, bukan kah sama saja mencuri penghasilan saya?
Dan bagi yang menyebarluaskan cerita ini, uang yang kalian peroleh TIDAK AKAN BERKAH. Tidak akan pernah aku ikhlaskan.
PhiKey