Kailin masih melangkah dengan rasa penasarannya. Hingga akhirnya pria itu melihat Vero yang sudah duduk di sofa, bersama kedua orang tuanya dan kedua mertuanya. "Vero?" panggil Kailin dengan perasaan yang sudah bercampur aduk.
Vero menatap kedatangan Kailin dengan penuh suka-cita. Wanita itu tersenyum senang karena melihat Kailin yang baik-baik saja. Pertemuan mereka semalam sangat singkat sehingga ia masih saja khawatir pada pria itu.
Berbeda dengan Vero yang tersenyum senang, Kailin langsung menghentikan langkahnya. Perasaannya memang sedang tak karuan, tetapi yang pasti ia sedang ketakutan setengah mati. Pria itu lalu berbalik badan, ia menatap sang istri yang tengah menggendong anaknya dengan senyum mengembang di wajahnya. "Apa maksudmu, Kani? Kenapa bisa kamu bawa Vero kemari? Jadi bener kalo kamu udah tahu semuanya? Dan kamu masih bisa tersenyum seperti itu? Hatimu sudah mati?" batin Kailin yang menatap Kani dengan tatapan nanar.
Kani memang masih tersenyum, senyumnya bahkan semakin lebar ketika melihat suaminya yang tampak terkejut melihat wanita simpanannya datang ke rumah orang tuanya. "Mas seneng?" tanyanya dengan senyum yang begitu mematikan bagi Kailin.
Kailin ingin sekali meminta penjelasan pada Kani, tetapi ia tak ingin membuat keributan di hadapan orang tua dan mertuanya. Apalagi ada Kaira yang akan ikut menyaksikan, pria itu tak ingin sang anak harus terlibat dalam urusannya dengan Kani.
Kailin berbalik badan dan lalu menghampiri Vero yang duduk dengan orang tuanya dan orang tua Kani. "Apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Kailin dengan nada sinis. Ia kesal dan marah karena Vero tak mau mendengarkannya.
Kailin menatap Vero dengan tatapan tajam, ia bahkan masih berdiri dengan perasaan yang kacau.
Vero sangat terkejut melihat reaksi Kailin yang tampak mengerikan itu. Ia tahu ia salah, tetapi ia tak menyangka kalau Kailin akan menyapanya dengan kalimat yang begitu menyakitinya itu. "Aku ke sini mau jenguk kamu." Vero berbicara dengan suara lirih dan terdengar gemetar.
Kailin mengetatkan rahangnya. "Aku baik-baik aja, jadi kamu bisa pulang sekarang. Aku cuma butuh istirahat, aku mau tidur."
Tanpa mengindahkan kehadiran mertuanya, Kailin pergi begitu saja. Ketika ia melewati sang istri yang masih saja tersenyum itu, ia menata sang istri dengan tatapan penuh kebencian. Tanpa berkata apa-apa, Kailin melewati sang istri sambil mengetatkan rahangnya sekeras mungkin. "Jadi ini maksud dari perkataanmu tadi? Melakukan apapun yang kamu inginkan?" batin Kailin.
Kani berjalan mendekat ke Vero. "Maaf, aku nggak tahu kalau Mas Kai akan marah seperti itu. Sepertinya kamu dateng di saat yang nggak tepat," ucap Kani masih dengan sikapnya yang tenang dan senyumnya yang seolah mengancam.
Vero pergi begitu saja karena rasa sakit hatinya, atas sikap Kani yang begitu menyebalkan di matanya dan atas sikap kasar Kailin yang mengusirnya. "Aku permisi."
Orang tua Kani dan mertuanya hanya bisa menatap heran pada Kani. "Sebenarnya, siapa wanita itu, Kan?" tanya ibu mertua Kani yang sudah tak bisa menahan rasa penasarannya.
Kani menatap satu per satu orang yang kini sedang mengeroyoknya dengan tatapan tajam. "Dia temennya Mas Kai, Bu. Tanyakan saja sama Mas Kai kalau Ibu masih penasaran dengan wanita barusan."
Semua orang merasa curiga setelah kemarahan Kailin dan sikap acuh Kani setelah kedatangan Vero. "Lagian kenapa kamu bawa wanita lain ke rumah kalau kamu sendiri nggak kenal siapa dia?" Ibunda Kani marah karena sikap anaknya yang dianggap kekanakan.
"Maafin, Kani. Kaira ngantuk, Kani mau tidurin Kaira dulu." Kani pergi setelah menebar senyum palsunya lagi.
Wanita itu lalu masuk ke kamar di mana sang suami sudah menunggunya sedari tadi.
Kani menutup pintu dengan pelan, tetapi kali ini ia tak memasang senyum palsunya. "Kaira bobok, ya, Sayang. Capek kan main dari tadi?"
Kani mencoba mengabaikan sang suami setelah apa yang sudah ia lakukan. Kailin menatapnya dengan tajam, pria itu tak sabar ingin menanyakan banyak hal mengenai isi hati Kani. Sayangnya, ia harus menahannya sampai sang buah hati tertidur.
Kaira sendiri hanya bisa menurut pada sang ibu sekalipun ia ingin sekali bermain dengan sang ayah. Kailin memilih duduk di sofa sambil menunggu buah hatinya tertidur.
Dengan sabar Kailin menanti sang anak yang akhirnya terlelap tidur. Kani beranjak dari ranjang setelah putrinya tertidur. Ia berniat kembali ke rumah dan membersihkan rumah seperti rencananya sebelum bertemu dengan Vero.
"Aku pulang ke rumah dulu, mau bersih-bersih rumah. Kalo Kaira bangun sebelum aku selesai, tolong telepon aku pake Hp-nya Bapak atau Ibu." Kani sama sekali tak membahas apa yang sudah terjadi, kejanggalan yang bahkan disaksikan oleh kedua orang tua mereka.
Kailin hanya diam saja, tak menjawab. Mata pria itu menatap lurus pada sang istri dengan bibir yang terkatup rapat. Melihat ekspresi suami yang begitu dingin padanya, wanita itu malah semakin bersorak senang. "Kalau kamu bisa buat aku menangis. Aku pun bisa membuat kamu berhenti tersenyum, Mas," batin Kani. Wanita itu lalu beranjak dari tempat tidur dan berniat pergi sekalipun sang suami tak menanggapi ucapannya.
Tepat ketika Kani hendak memegang handle pintu, Kailin yang sudah beranjak dari sofa langsung saja mendorong sang istri sampai wanita itu terbentur ke tembok.
Tak ada kata di antara keduanya, sama-sama membisu dengan pikiran mereka masing-masing. Kani begitu pasrah ketika suaminya mengurung tubuhnya menggunakan kedua tangannya secara posesif. Sementara Kailin, ia masih saja menunggu kemarahan sang istri yang tak kunjung muncul itu.
Merasa kalah setelah berlomba membisu dengan Kani, Kailin memilih menanyakan langsung pada wanita itu.
"Kenapa kamu seperti ini?" tanyanya pelan.
Kani masih bersikap santai, ia mendongakkan kepalanya agar bisa menatap sang suami yang memang lebih tinggi darinya.
"Apa yang ingin Mas dengar?" tanya Kani yang berbalik menyerang suaminya.
"Aku tahu kamu tahu semuanya." Kailin tak ingin bersandiwara.
"Maksud Mas, apa?" tanya Kani yang kembali melempar senyum palsu.
"Berhenti tersenyum seperti itu!!!" Kailin membentak Kani.
Kani langsung saja menekuk wajahnya, ia tak terima karena Kailin baru saja membentaknya. "Jadi aku senyum aja, nggak boleh?" tanya Kani dengan suara datar, perasaan kecewanya tersirat jelas.
"Aku tahu kamu sedang mempermainkan aku dengan senyummu itu! Kenapa, Kan? Kenapa kamu nggak marah aja sama aku? Kenapa malah tersenyum seperti itu?!" Kailin mengepalkan tangan kanannya dan menggenggamnya erat, ia ingin melampiaskan kemarahannya tetapi tak tahu harus bagaimana.
"Marah? Buat apa? Emang Mas salah apa sampe aku harus marah?" Lagi-lagi Kani bersandiwara seolah ia tak tahu apa-apa.
Kailin semakin kesal. Pria itu lalu menarik dagu sang istri menggunakan tangan kirinya agar wanita itu tak berpaling darinya.
"Kamu masih mau pura-pura nggak tahu apa-apa? Kamu masih mau bersandiwara? Sejak kapan kamu jago bersandiwara seperti ini?"
Kani dan Kailin berdebat dengan suara yang setengah berbisik. Selain karena tak ingin membuat Kaira terbangun karena suara mereka, keduanya juga tak ingin orang tua mereka mendengarnya.
Kani menyingkirkan tangan suaminya dari dagunya. "Mas ngomong apa, sih? Sandiwara? Sandiwara apa? Ngomong yang jelas, aku nggak ngerti apa yang Mas maksud." Kani masih saja mempermainkan perasaan suaminya.
Kailin mengulum bibirnya dan lalu menunduk karena frustrasi. Kani malah menyeringai penuh kemenangan.
"Baiklah, aku nggak akan basa-basi lagi." Kailin berkata lugas.
Kani mengangguk santai.
"Kenapa kamu bawa Vero kemari? Apa alasan kamu bawa Vero ke rumah orang tuaku?" tanya Kailin yang akhirnya berterus terang mengenai rasa penasarannya.
Kani tersenyum puas. "Aku tadi pulang, mau bersihin rumah, tapi malah ada dia di depan rumah. Dia bilang dia temen Mas dan mau jenguk Mas. Makanya aku ajak dia ke sini, salahnya di mana?" Kani kembali mempermainkan suaminya.
"Kamu tahu kan dia siapa?!" tanya Kailin dengan mata yang membulat sempurna.
Kani mengangguk santai. "Tahu, dia bilang namanya Vero, Veronika. Aku udah kenalan tadi."
Kailin semakin geram melihat istrinya yang terus bersandiwara di depannya. "Berhenti main-main, Kani!"
Dibentak lagi oleh suaminya, Kani mulai tak bisa menahan emosinya. "Siapa yang main-main, Mas?!" teriaknya tak mau kalah, kali ini ia tak peduli jika Kaira terbangun karena suaranya. Untung saja sang anak tidak terbangun dan hanya menggeliat sesaat sebelum akhirnya kembali terlelap tidur.
Kailin menempelkan tubuhnya pada tubuh sang istri. "Aku tahu kamu tahu semuanya. Aku tahu kamu tahu siapa sebenarnya Vero." Kailin menatap sang istri dengan cara melirik ke bawah.
"Memangnya siapa dia sebenernya? Apa kami pernah bertemu sebelumnya? Di mana? Di acara reuni sekolah? Atau di acara nikahannya temenmu? Tapi aku lupa, aku bahkan baru tahu namanya tadi ... waktu dia lagi mondar-mandir di depan rumah kita, aku kira dia mau mencuri."
"KANI!"
Kailin sudah tenggelam pada emosinya yang semakin menggunung. Teriakannya berhasil membangunkan Kaira dan membuat anak kecil itu menangis. Tak hanya Kaira, orang tuanya dan orang tua Kani juga mendengar teriakannya dari ruang tamu sana. Keempat orang itu lalu bergegas menuju ke kamar Kailin, mereka memang sudah merasa ada yang tidak beres sejak kedatangan Vero tadi.
Kani ingin menolong sang anak yang kini menangis histeris. Tetapi Kailin yang sudah dikuasai emosi, malah mencegah wanita itu dan tak segera menyingkirkan tangannya dari tubuh sang istri.
Bersambung...
Terima kasih buat antusias kalian. Sesuai janji, aku bakal double update, yang satu nanti sore kalau enggak nanti malam, ya, semuanya.